Kita Ini Suka Menjadi “Beda”, tapi Tidak Bisa Menghargai Juga

Beberapa hari terakhir, saya membuka online shop berwarna oranye. Jauh-jauh hari, saya memang sudah merencanakan untuk membeli baju. Sebut saja sebagai hadiah setelah bekerja selama satu bulan, padahal, ya, memang mau beli baju tanpa ada embel-embel dengan istilah lain, ya? Hmm. Dasar manusia.

Saya membuka beberapa toko dengan melihat-lihat pilihan baju yang cantik dengan model yang memang cantik. Hanya sekadar scroll pun membuat kepala pusing. Dengan berbagai macam pilihan membuat saya bingung, baju model seperti apa yang harus saya beli. Dari sini menyadarkan saya bahwa semakin banyak pilihan, semakin sulit menentukan. Bahkan kita bisa kehilangan kesempatan untuk kesekian kalinya.

Tapi, poinnya bukan di situ. Menjadi selektif memang harus. Adalah berbagai macam pilihan warna, model, jenis, motif, dan perpaduan atasan-bawahan pakaian yang kian beranekaragam menunjukkan kalau kita ini suka dengan perbedaan. Suka kalau apa yang saya pakai berbeda dengan yang Anda pakai. Malu kalau bertemu atau melihat orang lain memakai outfit yang sama dengan kita. Apalagi, kalau outfit tersebut seperti kopian alias sama persis dengan yang kita pakai dengan kiblat yang sama yaitu dari online shop.

Cerita tersebut sama persis dengan postingan yang ada di Instagram yang pernah saya lihat beberapa waktu lalu. Ada dua orang menggunakan outfit yang sama, lalu salah satu dari mereka jadi bahan becandaan kawan yang ada di sampingnya. Atau, ketika ada acara sinoman di desa saya. Ada dua orang memakai baju yang sama. Akhirnya, ada yang mengalah untuk pulang ganti baju.

Kita ini, ya, berlomba-lomba untuk mencari perbedaan, tapi ketika dihadapkan dengan “persamaan” kita menolak keras. Coba tanyakan pada diri sendiri; bagaimana bisa menghargai “perbedaan”, jika “persamaan” membuat masing-masing kita bertengkar?

Menerima Perbedaan

Sebenarnya, sudut pandang yang berbeda inilah yang akan membentuk dialektika yang baik karena ada proses berpikir—saling adu gagasan juga argumentasi. Namun, akan menjadi buruk ketika dilihat dari sudut pandang yang penuh dengan kebencian hanya karena “berbeda” dari hal “memahami”.

Kita ini lucu, ya? Suka sekali berburu barang unik nan menggemaskan agar bisa terlihat tampan dan ganteng. Membeli barang atau pakaian branded agar terlihat “berbeda” dari yang lainnya.

Pokoknya, rela melakukan apa saja demi terlihat berbeda. Namun, sayangnya ada “hakikat” yang belum kita pahami bahwa sebenar-benarnya “berbeda” adalah tetap meyakini apa yang menjadi pandangan kita, namun tetap biasa saja saat orang lain berbeda pendapat dengan kita. Hakikat bahwa keberagaman juga soal “persamaan” itu sendiri. Artinya, tidak akan menjadi masalah jika sudut pandang saya, sama dengan Anda. Tidak akan menjadi masalah jika pakaian yang saya pakai, sama dengan outfit yang Anda pakai pada waktu bersamaan.

Kita ini berlomba-lomba untuk mencari perbedaan, tapi menolak jika ada persamaan. Lalu, pertanyaan besarnya adalah apakah kita ini sudah memahami hakikat “perbedaan” tersebut?

Di luar sana, banyak sekali peerbedaan yang kita sebut sebagai keanekaragaman, bahkan pada tingkatan makna yang semakin luas. Perbedaan warna kulit, bahasa, adat, dan keyakinan. Maraknya isu-isu sensitive juga semakin meningkatnya isu-isu yang memprovokasi. Dan itu terjadi berulang kali. Bahkan, insiden bom bunuh diri yang masih menancap jelas di ingaatan adalah bukti bahwa provokasi oleh propaganda radikalisme.

Media sosial yang menjadi sumber berita pun menjadi bola panas yang siap meledakkan siapa saja yang tidak siap dengan gempuran isu-isu tidak benar alias hoax. Ujaran kebencian karena perbedaan keyakinan dalam hal politik juga lainnya juga menjadi alasan untuk memicu adanya intoleransi.

Jika tidak bisa diberhentikan, kebencian selamanya akan menjadi kebencian. Dari sinilah awalnya konflik terjadi, perbedaan paham karena tidak “memahami hakikat”. Dari sinilah sumber saling provokasi terjadi karena tidak “memahami perbedaan yang hakiki”. Karenanya, apakah benar kita ini bisa memahami keberagaman kalau ada persamaan saja kita enggan?

Dengan literasi keberagaman kita akan memahami sejauh mana kita benar memahami makna itu sendiri. Dengan literasi keberagaman tidak ada yang namanya pecah belah. Dengan literasi keberagaman, jika ada perselisihan karena pemahaman yang berbeda, tidak akan ada yang saling meninggikan suara, dan saling membenci setelahnya.

Sekali lagi, apakah benar kita ini bisa memahami keberagaman kalau ada persamaan saja kita enggan?

Spread the love

Leave a Comment

Your email address will not be published.

en_USEnglish