Menghidupkan Literasi Pancasila melalui Perilaku Sehari-Hari

Menghidupkan Literasi Pancasila – Saya baru saja pulang dari takbir keliling bersama anak-anak TPA (Tempat Pengajian Anak) di dusun saya. Berjalan menyusuri jalan di setiap jalan-jalan kecil sudut kampung menggunakan caya oncor dan ditemani lantunan suara takbir serta bedug beserta alat drum band yang kami bawa untuk memeriahkan acara takbir keliling Idul Adha tahun ini. Saya melihat pantulan tawa di kedua pipi anak-anak dengan caya oncor yang mereka pegang. Saya juga melihat betapa antusias teman-teman Rismas (Remaja Masjid) saat menabuh bedug dan bagaimana cara teman-teman mengatur adik-adik.

Menghidupkan Literasi Pancasila
Menghidupkan Literasi Pancasila

Lalu, saya mengingat adik perempuan saya yang juga ikut berjalan kaki berkeliling kampung. Siswi kelas VIII yang sedang senang-senangnya bermain TikTok, seperti remaja pada umumnya.

Misalnya, saat dia bercerita tentang kawannya yang memiliki wajah seperti anak SMA atau saat dia sedang sebal dengan kawannya karena yang sering menyontek. Dengan bulu matanya yang lentik ia menceritakan dengan detail apa yang dialami di sekolah dengan sesekali ia mengedipkan matanya yang belok.

Saya menunggu ia menyelesaikan cerita demi ceritanya. Saya senang dia bisa mengekspresikan rasa sebalnya. Saya bersyukur adik perempuan saya bisa bercerita apa yang dialaminya tanpa pernah saya memintanya. Hal seperti inilah yang menambah daftar rasa syukur saya.

Tidak sabar, saya ingin segera menanggapinya sehingga membuat dia semakin bijak dalam merespons kejadian yang akan dihadapinya, nantinya. Kami, sudah sering melakukan diskusi seperti ini..

Saya belajar menguatkan pada akar, hati baik adik perempuan saya bahwa baik dalam menghargai perbedaan kebiasaan, karakter dengan kawan-kawannya di kelas adalah hal biasa. Saya kerap mengatakan, nikmati jadi anak SMP. Nikmati saat kamu bertemu orang-orang menyebalkan. Dunia ini luas, kamu akan bertemu dengan perlbagai kejutan-kejutan hiup lainnya, tentu sebagai seorang siswi SMP.

Atau menceritakan salah seorang kawannya yang memiliki karakteristik berbanding terbalik dengan adik saya. Suatu hari, adik saya mengatakan kepada Tara saat menuju kamar mandi, “Kamu tuh ga boleh ngomong kayak gini.” Perintah adik saya dengan suara medhoknya.

Diceritakan kalau Tara mengeluh karena perutnya sakit, lupa tidak membawa jilbab, dan di hari selanjutnya berencana untuk tidak berangkat ke sekolah keesokan  harinya karena ada pelajaran yang tidak Tara sukai, adalah Matematika.

“Siaaallllll!!” Suara Tara terdengar lebih jelas daripada kalimat sebelumnya.

Belum lagi apabila ada PR, Tara akan selalu mengatakan “tidak” saat dia tidak mengerjakan PR. Lalu, akan mengatakan “ada PR, bu” ketika dia mengerjakan PRnya sedangkan kawan-kawannya tidak mengerjakan, termasuk adik saya, misalnya.

Nduk, kamu akan bertemu orang-orang yang lebih menyebalkan dari kawanmu yang bernama Tara. Akan akan bertemu kawan yang mungkin bisa melukai hatimu karena sikap dan ucap karena kawanmu. Soal Tara yang mengatakan kepada kamu, “mampus looooo!!” karena kamu tidak mengerjakan PR adalah hal yang ya, memang menyebalkan, tapi ternate kamu tidak sakit hati atas apa yang Tara lakukan ke kamu. Katamu, “aku engga sakit hati karena sudah memahami karakteristiknya.”

Lalu, saya terdiam. Apa yang saya tanam selama ini ternyata tumbuh subur di hati adik saya. Dia tidak terganggu atas sikap Tara. Anjani tidak merasa sakit hati dengan kalimat yang diberikan oleh kawannya yang belum lama ia kenal di bangku SMP. Hal remeh temeh inilah yang menjadi tonggak dalam menghargai perbedaan. Ya, daripada belajar langsung melalui hal-hal besar seperti cara untuk membegal para koruptor karena tidak sesuai dengan makna Pancasila atau belajar sikap patrotisme malah jadi beban, bukan sarana edukasi dalam membentuk literasi pancasila.

Menghargai perbedaan watak adalah cara untuk menyadari penuh bahwa Tuhan menciptakan berbagai macam makhluk yang harus mereka ketahui. Semoga dengan langkah-langkah kecil ini bisa dengan perlahan membangun kesadaran makna hakiki pancasila, yaitu tentang menghargai perbedaan, misalnya.

Spread the love

Bijak Memilih Jasa Pembayaran Online

Bijak Memilih Jasa Pembayaran Online – Hari ini, kemudahan-kemudahan yang kita dapatkan adalah hal yang memang wajib kita syukuri. Namun, hal ini juga menjadi bumerang jika tidak bisa bijak dalam memanfaatkan kemudahan-kemudahan tersebut.

Bijak Memilih Jasa Pembayaran Online
Bijak Memilih Jasa Pembayaran Online

Apalagi badai Covid kemarin memaksa sebagian dari kita untuk bisa melek teknologi, khususnya dalam hal transaksi. Membeli kebutuhan di tengah badai kemarin memaksa kita untuk belajar satu hal yang pasti dalam hidup yaitu adaptasi. Apa-apa serba teknologi.

Barang yang dijual di e-commerce baik di dalam dan luar negeri bisa kita beli.Tidak perlu khawatir lagi dengan jarak dan bagaimana cara pembayarannya, yakni ada PayPal menjadi solusinya.

Tapi, berbelanja online menggunakan PayPal sembarangan, menjadi bumerang kalau tidak selektif dalam memilih jasa pembayaran. Iming-iming penawaran yang melenakan membuat pembeli tidak berpikir ulang dalam isi saldo PayPal. Barang yang murah selalu menggugah. Iming-iming menarik selalu memiliki daya tarik. Lagi-lagi, literasi jasa keuangan mengingatkan kita semua untuk terus belajar memilih dengan selektif dalam memilih jasa pembayaran online.

PayPal adalah layanan yang digunakan untuk melakukan transaksi pembelian barang ataupun mengirim saldo keluar negeri. PayPal bisa dikatakan sebagai fasilitas yang membantu dalam proses pembayaran secara online. Jasa keuangan online tersebut didirikan pada tahun

Saat ini, sekitar 400 juta pengguna di seluruh dunia aktif menggunakan PayPal. Dengan pengguna sebanyak itu, apakah ada yang merasa dirugikan oleh aplikasi tersebut? Dengan pengguna sebanyak itu apakah tidak pernah mengalami keluhan?

Sebuah aplikasi pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya. Berikut ini beberapa kelebihan PayPal:

  1. Terjamin kecepatannya. Kurang dari 24 jam transaksi Anda keluar negeri bisa selesai.
  2. Terjamin keamanannya. Data-data penting penjual dan pembeli aman.
  3. Akun PayPal bisa digunakan untuk membeli barang di e-commerce di belahan dunia.
  4. Bisa diakses menggunakan smartphone.
  5. Biaya administrasinya terjamin murah.

Lalu, seperti apa kekurangan dari PayPal? Berikut ini penjelasannya.

  1. Rentan disalahgunakan karena metode pembayaran ini sangat terbuka untuk bisa digunakan dalam bertransaksi keluar negeri, sehingga peluang terjadinya penipuan sangat besar.
  2. Kalau ada masalah, mau komplain di mana? Itulah kekurangan yang fatal dalam sebuah aplikasi.
  3. Jumlah transaksi untuk mata uang negara lain terbatas.
  4. Jika bertransaksi dari PayPal ke rekening non-PayPal akan dikenakan biayaadministrasi sekitar 3 persen dari jumlah transaksi ditambah 0,3 dollar AS.

    Memilih metode pembayaran online memang harus hati-hati. Dengan banyaknya penawaran menarik sana sini Anda wajib berhati-hati dalam memilih jasa. Kalau Anda bingung dalam memilih penyedia jasa pembayaran online, berikut ini tips yang bisa Anda lakukan sebelum memutuskan untuk memilih jasa tersebut:
  1. Pastikan Anda memilih jasa yang sudah lama beroperasi dalam pembayaran secara online.
  2. Cek testimoni alias track record  penyedia jasa yang akan Anda gunakan          
  3. Periksa rate yang mereka sediakan cukup terjangkau
  4. Pilih jasa PayPal yang cepat dan tepat. Cepat dalam prosesnya dan tepat dalam pelayanannya
  5. Cek berapa limit untuk transaksi yang tersedia pada jasa bayar pada kartu kredit
  6. Cek dengan teliti, apakah layanan terssedia selama 24 jam sehingga Anda bisa menggunakannya kapan saja

Setelah Anda mencari tahu jasa PayPal apa saja yang recommended, tapi Anda masih bingung jasa PayPal mana yang terjamin kredibilitasnya, Anda bisa mencoba jasa Payor.

Payor adalah jawaban dari ketidakpercayan Anda pada jasa pelayanan pemabayaran. Payor adalah jasa yang selama ini Anda cari dan menjadi solusi. Dengan pengalamannya lebih dari 10 tahun, Payor terbukti menjadi jasa yang dipercaya oleh masyarakat karena pelayanannya yang cepat, tepat, dan akurat.

Keuntungan yang didapatkan menggunakan Payor adalah:

  1. Payor menyedia rate termurah dan berbagai diskon spesial
  2. Fee layanan terajangkau
  3. Transparan dalam pengitungan jasa pembayaran PayPal
  4. Transaksi aman dan legal
  5. Bisa melakukan refund

Anda bisa mempercayakan jasa pembayaran di mana saja, tapi literasi jasa keuangan menjadi penentu sukses tidaknya kita dalam menentukan metode pembayaran online.

Spread the love

Literasi Pancasila di Tengah Majunya Peradaban

Literasi Pancasila di Tengah Majunya Peradaban – Saat 1 Juni 2017 ditetapkan menjadi hari lahir Pancasila pada saat itu juga bangsa Indonesia menaruh harapan besar pada warga negaranya bahwa momen tersebut bukan hanya ajang seremonial belaka, tapi sebagai refleksi setiap tahunnya apakah benar masing-masing kita ini sudah mengilhami pancasila atau belum. Apakah nilai-nilai Pancasila sudah menjelma ke dalam diri kita atau belum? Sebuah upaya kecil, namun tetap menjadi PR besar.

literasi pancasila
literasi Pancasila

Kalau berjalan mundur ke balakang, pada masa orde baru dilakukan Program Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P4) yang bertujuan untuk membumikan nilai-nilai Pancasila. Namun, pada praktiknya usaha tersebut malah dijadikan sebagai propaganda penguasa. Hingga akhirnya, P4 dibubarkan pasca runtuhnya rezim baru. Pada saat itu juga, Pancasila seakan tidak pernah pernah untuk dibahas yang akibatnya nilai-nilai Pancasila semakin jauh dari bangsa Indonesia.

Entah permainan apa yang coba dijalankan pada masa itu, padahal Pancasila adalah falsafah negara—sebagai pedoman dan pegangan hidup dalam bersikap, bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari dan bernegara.

Apakah selamanya Pancasila hanya menjadi pajangan dinding kelas atau kantor-kantor pejabat saja? Dan apakah hanya dilafalkan setiap hari upacara saja? Tentu tidak. Pancasila diharapkan bisa mendarah daging dalam tingkah laku manusia. Pancasila diharapkan bisa menjadi hembusan napas setiap saatnya agar tujuan kehidupan bernegara bisa terwujud.

Hingar Bingar Kehidupan Peradaban

Pendidikan karakter selalu berlari pada pondasi agama dan Pancasila, maka bisa dilihat pelajaran Pendidikan Agama Islam dan PPKn menjadi pilar penting dalam proses pembelajaran. Namun, tak bisa dipungkiri juga bahwa hari ini kita berdampingan dengan arus digitalisasi yang begitu deras menyebabkan banyaknya informasi yang kita telan tanpa tahu output yang didapatkan berbentuk apa.

Bukan hanya itu, modernisasi ini membuat kita juga menjadi manusia yang tamak. Kita beromba-lomba untuk bisa se-idealis, tapi ternyata malah menganut kapitalis. Kita berlomba untuk menyuarakan pendapat, tapi malah membuat sekat antar masyarakat. Karena apa? Karena kita bertindak tanpa mengikuti peta yang kita sebut sebagai Pancasila.

Saya yakin jika semua berporos pada Pancasila tidak akan ada yang namanya perpecahan hanya karena tetangga tidak berangkat kerjabakti. Tidak ada yang saling memblokir kontak HP karena perbedaan pilihan saat Pemilu. Dan contoh-contoh nyata di depan mata lainnya yang menunjukkan kalau dalam diri kita masih menjunjung tinggi egoism bukan Pancasila.

Lima sila Pancasila menjadi konsep untuk bertahan di tengah gempuran globalisai, hingar bingar kehidupan yang tidak pasti, dan di tengah perlombaan yang ingin menunjukkan bahwa dia hebat karena bisa bebas tidak terjerat pada nilai-nilai Pancasila. Semoga, ya, yang menjelma pada diri kita ini semangat untuk bisa meniru kemajuan bangsa lain, bukan seperti paham radikalisme yang masih ada di sela-sela kita.

Literasi Pancasila melalui Tiga Pendekatan

Berbagai macam usaha dan upaya dilakukan agar nilai-nilai Pancasila bisa hidup dan menghidupi warga negara dalam bertindak dan bertunduk. Dari lapisan terkecil pun juga turut membantu bagaimana agar literasi Pancasila bisa terwujud dengan cepat dan tepat guna menguatkan akar nasionalisme.

Tak lain hal ini bisa dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui TSM (Terstruktur, Sitemik, Masif) secara konkrit, bukan hanya melafalkan pada hari-hari besar saja. Yakni dengan pendekatan Kelembagaan, Sistem, dan Fungsional.

Pendekatan kelembagaan dilakukan dengan melibatkan lembaga pemerintah, kemasyarakatan, keagamaan, partai politik, dan kepemudaan dalam lingkup formal ataupun informal. Misalnya, pentas seni dan budaya yang diadakan oleh kepemudaan Karangtaruna. Anak-anak muda masih bisa menikmati kebebasn berekspersi tanpa takut kehilangan nilai Pancasila yang sengaja ditampilkan melalui kegiatan tersebut.

Sedangkan pendekatan sistem dilakukan dengan memasukkan nilai-nilai Pancasila dalam sistem berbangsa dan bernegara. Yakni dengan memasukkan nilai-nilai Pancasila dalam sistem Pendidikan sekolah formal, sistem rekruitmen dan pengembangan SDM ASN, TNI/Polri, BUMN, sistem pengkaderan pada partai politik dan kepemudaan.

Selanjutnya pendekatan fungsional bisa dilakukan dengan memaksimalkan sarana prasarana, teknologi informasi, media massa, media sosial. Hal ini jelas bisa dilakukan oleh siapa saja. dengan hanya memosting cerita-cerita sederhana yang merangkum nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari menjadi langkah mudah untuk membagikan cara berliterasi Pancasila. Lalu, dengan banyaknya wadah yang bisa menampung pikiran kita di media massa, khususnya media online juga mendukung upaya kita untuk bisa mengedukasi siapa saja bahwa literasi pancasila adalah hal yang sifatnya wajib untuk dikuatkan.

Rendahnya pemahaman nilai-nilai Pancasila menjadi perhatian besar semua pihak. Apalagi dengan banyaknya kasus yang tidak senonoh yang menghina Pancasila yang saya tidak habis pikir bisa dijadikan sebagai Duta Pancasila. Entah logika apa yang berjalan, yang jelas rasionalisasi saya tidak bisa menangkap bias politik yang disuguhkan.

Semoga,ya, langkah-langkah kecil tadi bisa membantu dalam terus meningkatkan literasi pancasila kita dalam kehidupan bernegara.

Spread the love

Lewat Gutu Kesadaran Diri, Mari Suarakan Literasi Keberagaman Bersama

Literasi Keberagaman – Saat media digital digadang-gadang menjadi jembatan untuk menyuarakan isi kepala. Pada saat itu juga lapisan paling mendasar, yakni sekolah seharusnya juga bisa menguatkan toleransi di tengah perbedaan sana sini. Kemajemukan yang ada menjadi tombak bahwa keberagaman inilah yang seharusnya bisa merekatkan yang jauh. Melunakkan kerasnya idealisme—dengan menyadari penuh bahwa toleransi adalah soal tidak setuju atau tidak sepaham, namun tetap bisa menghargai.

literasi keberagaman
literasi keberagaman

Miris, jika sekolah memiliki harapan besar sebagai penyambung lidah untuk bisa turut menguatkan akar toleransi, tapi malah menunjukkan kebobrokannya dengan keputusan yang memalukan. Bagaimana bisa oknum guru memaksa sisiwinya untuk menggunakan jilbab. Hingga sampai hari ini siswi tersebut trauma, bahkan depresi. Hari ini kasus yang terjadi di salah satu sekolah di Bnguntapan, Bantul, Yogyakarta ini masih dalam proses penyidikan. Namun, yang perlu digaris bawahi jika memang para oknum tersebut secara paksa melakukannya, sungguh sebagai kejadian memalukan.

Atau memang benar sifat dasar manusia demikian: keras terhadap orang lain, tapi tidak bisa keras dengan diri sendiri? Maksud saya adalah kenapa bisa memaksa suatu hal pada orang lain, tapi tidak bisa memaksa diri sendiri untuk bisa melakukan suatu tindakan yang membuat hidup lebih baik, misalnya.

Keberagaman juga diharapkan mampu mentransformasikan nilai-nilai toleransi, perdamaian, penghargaan serta keterampilan jurnalistik kepada komunitas sekolah dan masyarakat.

Sejak SD kita dibekali dengan nilai yang cukup kuat oleh Bapak Ibu guru yakni bagaimana caranya menghargai orang yang memiliki kulit berbeda dengan kita. Bagaimana caranya menghargai dengan orang yang cara ibadahnya berbeda. Itu yang kerap mereka ulang-ulang. Atau perintah membaca karena dengan membaca akan membuka wawasan. Lalu, yang terakhir adalah jargon dengan gambar buku terbuka bahwa buku adalah jendela dunia. Bahwasnya kita diajarkan untuk mencintai buku-buku yang tersusun rapi di rak perpustakaan. Mereka akan lebih suka jika buku-buku tersebut berantakan.

Tapi, realitanya mereka jarang melakukannya. Sibuk dengan kewajibannya menyelesaikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sibuk mengikuti diklat agar mendapatkan sertifikat untuk meningkatkan angka kredit, sibuk membuat buku atau kumpulan puisi untuk meningkatkan angka kredit guna kenaikan jabatan. Baik, jika di situ ada tuntutan. Tapi tuntutan yang berdampak pada siapa? Apakah berdampak pada anak didik atau hanya membuat perut sendiri semakin kenyang?

Sangat klise sekali.

Berteriak kencang agar siswa siswinya gemar membaca untuk bisa memiliki cara pandang yang luas dan tahu bahwa dunia ini sangat luas, lalu bisa menghargai setiap kecil perbedaan agar hidup berdampingan dengan rukun.

Lagi, lagi harus kembali kepada diri sendiri. Khususnya saat berada di luar rumah, misalnya. Seperti saat jadwal saya pergi ke kantor hari Senin kemarin. Saya dan teman-teman fokus pada pekerjaan kami. Makan selain di jam kerja juga bukan masalah bagi kantor kami. Pada saat itulah saya merasa sangat sebal saat kawan saya bermain laptop. Tangan kanannya memainkan kursor, dan tangan kirinya secara dengan cekatan nyemil menggunakan tangan kirinya. Dia bukan seorang kidal. Hal tersebut ia lakukan berjam-jam.

Saya tidak suka dengan apa yang ia lakukan. Hemat saya, kawan saya bisa berhenti main laptop, lalu fokus nyemil menggunaan tangan kanan. Bukan tangan kiri, yang secara bergantian menggambil snack dimasukkan ke mulutnya. Pada saat itu juga saya merasa begitu kesal dengan diri saya sendiri. Bagaimana bisa saya terganggu dengan hal sepele seperti ini? Bagaimana bisa saya terganggu dengan aktivitas orang lain di luar kuasa saya?

Lalu, menyadari penuh atas apa yang kawan saya lakukan adalah upaya dia untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya, tanpa mengesampingkan perutnya. Alih-alih saya berpikir positif seperti itu. Memang benar pikiran yang baik bisa menyelamatkan dari pikiran-pikiran sempit di kepala.

Saat berada di luar rumah berinteraksi dengan orang banyak itulah akan muncul berbagai gejolak emosi karena ada banyak hal di luar kendali kita. Tidak sesuai dengan nilai-nilai kita. Kemudian, apakah saat kita duduk di bangku sekolah mendapatkan teori cara bertoleransi

Bagaimana bisa jika guru-guru tersebut sibuk mengenyangkan perutnya sendiri? Bohong kalau kita harus berterima kasih kepada bapak ibu guru untuk bisa menanamkan nilai atau tata cara dalam toleransi. Lihat, berapa banyak kelas-kelas guru yang hanya bertujuan untuk membuat buku, misalnya hanya untuk meningkatkan angka kredit mereka?

Tidak perlu bergantung pada teori-teori yang ­ndakik-ndakik itu. Tidak perlu bergantung pada suara lantang di pojokan kelas. Karena pada akhirnya semua kembali pada diri. Diri kita. Sendiri.  

Spread the love

Kita Ini Suka Menjadi “Beda”, tapi Tidak Bisa Menghargai Juga

Beberapa hari terakhir, saya membuka online shop berwarna oranye. Jauh-jauh hari, saya memang sudah merencanakan untuk membeli baju. Sebut saja sebagai hadiah setelah bekerja selama satu bulan, padahal, ya, memang mau beli baju tanpa ada embel-embel dengan istilah lain, ya? Hmm. Dasar manusia.

Saya membuka beberapa toko dengan melihat-lihat pilihan baju yang cantik dengan model yang memang cantik. Hanya sekadar scroll pun membuat kepala pusing. Dengan berbagai macam pilihan membuat saya bingung, baju model seperti apa yang harus saya beli. Dari sini menyadarkan saya bahwa semakin banyak pilihan, semakin sulit menentukan. Bahkan kita bisa kehilangan kesempatan untuk kesekian kalinya.

Tapi, poinnya bukan di situ. Menjadi selektif memang harus. Adalah berbagai macam pilihan warna, model, jenis, motif, dan perpaduan atasan-bawahan pakaian yang kian beranekaragam menunjukkan kalau kita ini suka dengan perbedaan. Suka kalau apa yang saya pakai berbeda dengan yang Anda pakai. Malu kalau bertemu atau melihat orang lain memakai outfit yang sama dengan kita. Apalagi, kalau outfit tersebut seperti kopian alias sama persis dengan yang kita pakai dengan kiblat yang sama yaitu dari online shop.

Cerita tersebut sama persis dengan postingan yang ada di Instagram yang pernah saya lihat beberapa waktu lalu. Ada dua orang menggunakan outfit yang sama, lalu salah satu dari mereka jadi bahan becandaan kawan yang ada di sampingnya. Atau, ketika ada acara sinoman di desa saya. Ada dua orang memakai baju yang sama. Akhirnya, ada yang mengalah untuk pulang ganti baju.

Kita ini, ya, berlomba-lomba untuk mencari perbedaan, tapi ketika dihadapkan dengan “persamaan” kita menolak keras. Coba tanyakan pada diri sendiri; bagaimana bisa menghargai “perbedaan”, jika “persamaan” membuat masing-masing kita bertengkar?

Menerima Perbedaan

Sebenarnya, sudut pandang yang berbeda inilah yang akan membentuk dialektika yang baik karena ada proses berpikir—saling adu gagasan juga argumentasi. Namun, akan menjadi buruk ketika dilihat dari sudut pandang yang penuh dengan kebencian hanya karena “berbeda” dari hal “memahami”.

Kita ini lucu, ya? Suka sekali berburu barang unik nan menggemaskan agar bisa terlihat tampan dan ganteng. Membeli barang atau pakaian branded agar terlihat “berbeda” dari yang lainnya.

Pokoknya, rela melakukan apa saja demi terlihat berbeda. Namun, sayangnya ada “hakikat” yang belum kita pahami bahwa sebenar-benarnya “berbeda” adalah tetap meyakini apa yang menjadi pandangan kita, namun tetap biasa saja saat orang lain berbeda pendapat dengan kita. Hakikat bahwa keberagaman juga soal “persamaan” itu sendiri. Artinya, tidak akan menjadi masalah jika sudut pandang saya, sama dengan Anda. Tidak akan menjadi masalah jika pakaian yang saya pakai, sama dengan outfit yang Anda pakai pada waktu bersamaan.

Kita ini berlomba-lomba untuk mencari perbedaan, tapi menolak jika ada persamaan. Lalu, pertanyaan besarnya adalah apakah kita ini sudah memahami hakikat “perbedaan” tersebut?

Di luar sana, banyak sekali peerbedaan yang kita sebut sebagai keanekaragaman, bahkan pada tingkatan makna yang semakin luas. Perbedaan warna kulit, bahasa, adat, dan keyakinan. Maraknya isu-isu sensitive juga semakin meningkatnya isu-isu yang memprovokasi. Dan itu terjadi berulang kali. Bahkan, insiden bom bunuh diri yang masih menancap jelas di ingaatan adalah bukti bahwa provokasi oleh propaganda radikalisme.

Media sosial yang menjadi sumber berita pun menjadi bola panas yang siap meledakkan siapa saja yang tidak siap dengan gempuran isu-isu tidak benar alias hoax. Ujaran kebencian karena perbedaan keyakinan dalam hal politik juga lainnya juga menjadi alasan untuk memicu adanya intoleransi.

Jika tidak bisa diberhentikan, kebencian selamanya akan menjadi kebencian. Dari sinilah awalnya konflik terjadi, perbedaan paham karena tidak “memahami hakikat”. Dari sinilah sumber saling provokasi terjadi karena tidak “memahami perbedaan yang hakiki”. Karenanya, apakah benar kita ini bisa memahami keberagaman kalau ada persamaan saja kita enggan?

Dengan literasi keberagaman kita akan memahami sejauh mana kita benar memahami makna itu sendiri. Dengan literasi keberagaman tidak ada yang namanya pecah belah. Dengan literasi keberagaman, jika ada perselisihan karena pemahaman yang berbeda, tidak akan ada yang saling meninggikan suara, dan saling membenci setelahnya.

Sekali lagi, apakah benar kita ini bisa memahami keberagaman kalau ada persamaan saja kita enggan?

Spread the love

Modal dalam Bisnis Bukan Hanya untuk Membangun Perusahaan

Modal dalam Bisnis – Bagi orang yang ingin memulai bisnis, namun tidak tahu bagaimana caranya mengawalinya mungkin di situlah peranan webinar yang begitu laris sampai hari ini. Motivasi agar mendirikan usaha, strategi bisnis yang sesuai dengan pasaran, dan berbagai tema lainnya mampu mendorong para calon pengusaha bersedia mengikuti setiap rangkaian acara yang dihadirkan.

Modal dalam Bisnis
Modal dalam Bisnis

Satu hal yang kerap disampaikan oleh para peserta webinar ataupun orang-orang yan ingin memulai bisnis adalah tentang keresahannya tidak mempunyai modal untuk membangun usaha yang diimpikannya atau berapa modal yang harus disiapkan untuk mulai bisnis. nya Modal memang menjadi pondasi bagi

Mereka juga harus memerhatikan, apa yang harus dilakukan saat kondisi darurat datang saat modalmu pas-pasan? Apa yang harus dipersiapkan saat usaha tersebut berjalan?

Definisi modal pun bermacam-macam, seperti yang dikatakan oleh Syam (2014:16) Modal adalah suatu hak yang tersisa atas aktivitas suatu lembaga (entity) setelah dikurangi kewajibannya sehingga bisa digunakan untuk kegiatan produksi selanjutnya. Sedangkan menurut S. Munawir pengertian modal adalah nilai kekayaan perusahaan yang didapat dari pihak internal ataupun eksternal perusahaan, termasuk kekayaan yang diperoleh dari suatu hasil produksi perusahaan. Oleh sebab itu modal tersebut bisa digunakan untuk menjalankan sebuah usaha.

Jadi, modal itu tidak hanya digunakan untuk membangun usaha saja, melainkan dalam proses operasionalnya juga perlu dibutuhkan modal tersebut. Mungkin mindset orang-orang yang ingin mendirikan usaha perlu diubah. Sehingga bisa menyiapkan modal kebutuhan apa saja yang harus disiapkan.

Modal berguna untuk perluasan cabang usaha

Saat usaha sudah mulai berkembang dan merasa bahwa usaha tersebut tidak boleh hanya berhenti pada project yang sedang dikerjakan saja, hal ini menuntut bahwa fungsi modal bukan hanya untuk memulai usaha, tapi perluasan cabang usaha.

Selama bisnis berjalan, tentu para pelaku usaha mengamati peluang usaha lain yang dibutuhkan oleh konsumen. Entah dari pengamatan langsung melalui tren, lembar kuisioner yang dibuat perusahaan untuk konsumen, atau melihat usaha-usaha lain yang ternyata bisa diambil celahnya. Di sinilah celah-celah usaha bisa dimulai dengan modal yang sudah disiapkan. Sebagai contoh di kelas menulis online. Lewat kuisioner yang dibuat, perusahaan akan tahu kebutuhan apa saja yang dibutuhkan masyarakat, sehingga lewat langkah ini bisa memulai membuka cabang usaha lain sebagai upaya perluasan cabang usaha.

Modal berguna untuk suksesnya jalan operasional perusahaan

Jika modal hanya diguankan untuk merintis bisnis, saya yakin kebutuhan remeh temeh seperti HP yang digunakan untuk proses CS-ing (Costumer Service) juga tidak berjalan, jika ada HP, tapi tidak ada paket datanya juga sama saja, atau untuk melakukan perawatan, misalnya jika dalam usaha tersebut membutuhkan perawatan alat transportasi.

Para pelaku usaha jasa peminjaman mobil jeep di tempat pariwisata, misalnya. Mereka membutuhkan modal perawatan yang tidak sedikit. Bukan hanya itu, driver yang mengoperasikan mobil-mobil tersebut pun juga harus dipikirkan. Karenanya, modal merupakan pondasi awal dalam melangkah membangun bisnis.

Sebagai penunjang inovasi bisnis

Ketidakpastian dalam bisnis memang menjadi tantangan sendiri bagi perusahaan. Jika usaha sedang baik-baiknya, laba yang didapatkan juga tidak main-main. Namun, jika usha tersebut sedang mengalami penurunan, siap-siap saja dana darurat akan habis digunakan, bahkan bisa gulung tikar. Oleh karena itu, pola bisnis juga tidak boleh berhenti pada satu titik saja, melainkan harus berkembang melalui inovasi yang terbaru.

Mengingat kompetitor juga tidak akan diam saja ketika perusahaan sedang jaya-jayanya ataupun mengalami penurunan. Untuk menemukan produk baru ini tentu perlu melakukan eksperimen ataupun riset. Di sinilah perlunya modal yang disiapkan dengan matang.

Sebagai penyelamat dalam kondisi darurat

Apabila kondisi perusahaan sedang tidak stabil, maka bersiap-siaplah untuk memutar otak bagaimana usaha tersebut bisa terus bertahan. Bukan untuk menyerah, tapi PR bagaimana bisa terus berdiri di tengah persaingan kompetitor yang luar biasa. Di sinilah peran penting dana darurat dianggarkan dan dipersiapkan.

Dana yang lebih bisa mengamankan kondisi yang sedang menurun. Hal ini sangat membantu perusahaan untuk tetap bisa selamat.

Membangun usaha memang tidak mudah. Melek literasi bisnis barangkali bisa menjadi langkah kecil untuk merintis bisnis. Modal awal untuk bisa percaya bahwa bisnis bisa dimulai dari hal-hal kecil namun pondasi besar bagi bisnis.

Spread the love

Seberapa Pentingkah Belajar Literasi Keuangan ?

Seberapa Penting Belajar Literasi Keuangan – Saat ini ketika roda transaksi keuangan bisa dilakukan dengan cepat, orang-orang berbondong-bondong melakukan jual beli secara online. Apalagi jika ada diskon besar-besaran, mereka bisa menahan kantuk tengah malam hanya untuk bisa mendapatkan promo harga yang tidak main-main.

Hal ini terbukti bahwa 74.5% konsumen lebih suka berbelanja secara online daripada offline. Data ini semakin kuat bahwa bisnis ­e-commerce di Inonesia juga menunjukkan angka peningkatannya. Tercatat nilai transaksi e-commerce pada Februari 2022 mencapai Rp 30,8 triliun, tumbuh sekitar 12 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp 27,3 triliun.

Pentingnya Belajar Literasi Keuangan

Tapi, permasalahan level dalam berliterasi memang masih rendah, belum menunjukkan tanda-tanda significan yang berarti dalam pertumbuhan literasi keuangan. Hal ini menjadi salah satu kekhawatiran pemerintah dalam proses perbaikan secara ekonomi. Semua lapisan yang ada tentu tidak mau kasus investasi bodong terjadi untuk kedua kalianya, kasus pinjam uang illegal yang merugikan banyak orang terulang lagi, bahkan sebagai negara berkembang pemerintah terus mengupayakan celah-celah kehidupan yang lebih baik. Tidak adanya lagi pelonjakan harga-harrga kebutuhan pokok, misalnya.

Yang kita tahu masyarakat cenderung bersifat konsumtif. Bisa memamerkan kemewahan adalah sebuah privilege. Kalau saja masyarakat bisa lebih mendalam lagi dalam berpikir, saya rasa mereka tidak akan konsumtif dalam membelanjakan uangnya. Kalau saja masyrakat bisa lebih peka lagi dalam memerhatikan kondisi negara-negara berkembang lain dengan adanya krisis ekonomi yang berkelanjutan. Saya rasa mereka akan jauh lebih pelit alias lebih berhemat.

Saat ini, kemampuan literasi keuangan digital bukan sekadar kebutuhan, melainkan telah menjadi gaya hidup di era Revolusi Industri 4.0. Sekali lagi, itu menjadi mimpi indah di siang bolong.

Jika lembaga-lembaga penting mengobarkan semangat literasi keuangan melalui webinar atau workshop di hotel mewah bisa mengoptimalkan edukasi secara langsung, lalu bagaimana dengan masyarakat yang tidak bisa terjangkau oleh para lembaga terkait? Sedangkan hasil survey literasi keungan yang dilakukan oelh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2019 menunjukkan indeks sebesar 38.03%. Artinya, dari sekitar 285 juta penduduk Indonesia, baru sekitar 108 juta orang yang sudah melek keuangan. Bisa dihitung sendiri  berapa banyak masyarakat yang belum melek literasi keuangan.

Karenanya, kemampuan dalam mengelola uang atau literasi keuangan yang dipadukan dengan kemampuan literasi digital menjadi pondasi awal dalam menghadapi seiktor keuangan digitalisasi. Kalau aja, ya, masyarakat tahu pentingnya melek literasi keuangan. Berikut ini lima alasan pentingnya literasi keuangan di tengah digitalisasi.

  1. Belajar Literasi keuangan adalah investasi jangka panjang

Ketidakmampuan diri dalam melek literasi keuangan bisa berakibat fatal dengan sukses tidaknya pengelolaan dalam jangka pendek dan panjang. Analoginya, jika ingin bepergian jauh tidak memiliki bekal yang cukup, barangkali kita tidak bisa sampai di tujuan.

Sama halnya dengan bekal keuangan yang bisa dilakukan, dicari, digali, dan dipelajari sejak dini bisa menjadi solusi ketika menumui kesulitan di tengah jalan soal keuagan. Menyiapkan bekal jauh lebih baik daripada bepergian tanpa membawa apa-apa.

  • Belajar Literasi keuangan memengaruhi pengelolaan finansial

Bayangkan jika setiap gaji yang didapatkan setiap bulannya hanya digunakan untuk kebutuhan konsumtif saja, berapa banyak penyesalan yang akan terjadi kalau sudah tahu akibatnya? Memang benar, kalau belum pernah mengalami atau merasakanya langsung belum bisa memahami dan mengerti dengan baik.

Kalau perencanaan keuangan tidak jelas, uang bisa habis dengan sia-sia. Keinginan bisa terpenuhi, tapi kebutuhan carut marut sana sini.

  • Dapat memilih strategi dan keputusan keuangan dengan tepat

Dengan memiliki literasi keuangan yang baik, kita bisa lebih bijak dalam mengelola uang. Dengan kesadaran penuh bahwa masing-masing kita memiliki tingkat prioritas yang berbeda. Jika kebutuhan pokok seperti perut dan papan bisa terpenuhi, sisanya kita bisa menyesuaikan dengan porsinya masing-masing, entah setoran wajib setiap bulan atau kebutuhan mendesak lainnya.

  • Dapat memengaruhi pertumbuhan finansial keluarga

Jika Anda  belum berkelurga sedangkan di sub pembahasan ini membahas finansial keluarga, hal itu sama saja. Hal ini juga berpengaru pada bagaimana Anda berpikir atau mengelola keuangan nantinya. Bukankah hal besar itu dimulai dari hal-hal kecil yang kita biasakan.

Kondisi ini sangat berlaku untuk kesejahteraan keluarga nantinya. Bagaimana bisa mengatur keluar masuknya uang menjadi modal awal untuk bisa hidup dengan “aman” selama satu bulan. Kenapa satu bulan? Contoh ini sangat relevan dengan gaji yang diterima setiap bulannya. Melihat dari contoh sederhana ini bisa menjadi tolok ukur bagaimana bisa meningkatkan saving setiap bulannya.

Misalnya, bulan Januari jumlah pengeluaran jauh dari rencana awal. Setelah dicek, ternyata ada beberapa pengeluaran yang tidak begitu penting. Hal ini, bisa menjadi evaluasi bulan selanjutnya untuk bisa lebih baik dalam mengatur strategi lagi.

Jangan disepelakan lagi dalam mengatur keluar masukanya uang. Sesederhana, tetap bisa makan enak tanpa biaya mahal. Begitulah kira-kira, tetap bisa menikmati hidup tanpa harus konsumtif.

Spread the love

Hidup Bersama dengan Hoaks

Mengenal Apa itu Hoaks ?

Apa itu hoaks ?Hoax adalah informasi palsu, berita bohong, atau fakta yang diplintir atau direkayasa untuk tujuan lelucon hingga serius (politis).

Secara bahasa hoax (synonyms: practical joke, joke, jest, prank, trick) adalah lelucon, cerita bohong, kenakalan, olokan, membohongi, menipu, mempermainkan, memperdaya, dan memperdayakan.

Bahaya Hoaks

apa itu hoaks

Coba lihat, berapa banyak hal yang membuat kita terkejut karena ketidaktahuan kita lalu kita salah memahaminya? Coba hitung, berapa banyak berita yang lalu lalang yang membuat orang-orang berdebat padahal yang diperdebatkan tidak ada kebenarannya? Sama sekali.

Entah sudah berapa kali saya termakan hoaxs sampai saya kenyang seperti ini. Alih-alih tidak mau tahu berita di luar padahal cara saya memfilter informasi saja yang buruk. Tapi, memang benar dari saya lahir sampai saya bisa menulis ini saya tidak pernah diajarkan bagaimana caranya menyaring informasi yang benar. Saya tidak pernah diajarkan bagaimana caranya untuk mencari informasi yang akurat.

Saya, bahkan kita hanya diajarkan caranya bisa berhitung atau bisa bagaimana caranya mendapatkan nilai yang tinggi. Hanya diajarkan bagaimana mengeja suku kata sampai lancar membacanya, bukan memahaminya. Sampai orang tua akan dengan bangga menceritakan kalau putrinya sudah lancar dalam membaca. Juara untuk bisa diakui kehebatannya, bukan dalam menafsirkannya pada keberanan. Dan hal ini mengakar sampai sekarang.

Kasus Ratna Sarumpaet dengan wajahnya yang bengkak dan memar, babi ngepet yang menggemparkan masyarakat, dan masih banyak kasus hoaks lainnya yang membuat kita bersemangat untuk membicarakannya. Bahan obrolan ketika kongkow.

Tumbuh dari Mulut ke Mulut

Jika grup WhatsApp seperti grup Ronda, Arisan PKK, trah atau keluarga, dianggap menjadi salah satu sumber hoaks, saya rasa kita tidak perlu berlebihan dalam menyikapinya. Karena selama ini kita tumbuh dan beriringan dengan berita hoaks dan kita baik-baik saja sampai hari ini. Bahkan menjadi bumbu-bumbu manis dalam acara arisan ataupun bermain di rumah tetangga.

Berita tidak benar yang dengan mudah kita mempercayainyatanpa menyaringnya.

Sebagai contoh misalnya, ketika ada desas desus tetangga saya yang bercerai, di mana sang mantan istri, sebut saja Ibu Tukinem dianggap sudah tidak memiliki hak untuk tinggal di rumah mantan suamianya menyebar di ramainya tetangga yang sedang ngobrol asik. Karena berstatus sebagai mantan dan hak rumah tersebut adalah suaminya. Itu yang menyeruak di permukaan.

Ibu Tukinem menempati rumah bersama satu anaknya. Toh suaminya sudah pergi dan mempunyai keluarga baru.

Padahal Ibu Tukinem yang menyelesaikan hutang-hutang mantan suaminya. Jika tidak, rumah yang hari ini ia tempati mungkin sudah bukan milik suaminya lagi.

Lalu, orang-orang percaya dengan berita yang tumbuh dari mulut ke mulut kalau Ibu Tukinem tidak mempunyai hak atas rumah tersebut, tanpa orang-orang tahu perjuangan material apa yang telah dikeluarkannya. Menganggap bahwa keberadaannya sangat tidak pantas. Dan itu menyakitkan tanpa tahu fakta yang terjadi.

Berita, informasi, cerita mudah mengudara di tempat rewang, di warung kelontong, dan teras-teras tetangga untuk bersosialisasi padahal di tempat itulah sumber berita menyebar. Dari mulut ke mulut. Dari telinga ke telinga.

Kalau saja orang-orang tahu perjuangan apa yang telah dilakukan Ibu Tukinem. Mereka akan dengan cepat terbungkam. Kita ini, ya, lebih suka tergerus berita daripada disuapi oleh fakta.

Alih-alih merasa tidak tahu. Padahal tidak ingin mencari tahu fakta sebenarnya. Hal ini sebagai bukti bahwa kita sangat suka dengan desas desus. Dan tidak perlu juga disikapi berlebihan. Selayaknya mendengar kabar seperti biasa. Dan kita biasa-biasa saja.

Kita adalah sumber hoaks

2024 akan ada pesta rakyat. Jika nanti ada berbagai macam kabar yang muncul di notifikasi HP dari grup-grup WA biarkan saja. Toh, jika kita ingin menelan mentah-mentah pun tidak apa-apa. Karena sudah menjadi kebiasaan kita selama ini. Tidak usah terkejut.

Sudah selayaknya nanti kita merayakan kedunguan kita dalam membaca berita dengan pikiran yang logis. Sudah selayaknya juga kita merayakan betapa malasnya kita untuk menggali informasi padahal sudah jelas diberi kemudahan lewat digitalisasi. Ya, fungsi dari digitalisasi tak lain adalah menguatkan kita pada informasi yang tidak benar.

Hal ini masih akan terus relevan dengan arus informasi yang akan terus berkembang, bahkan separuh diri kita ada pada media sosial dan arus digitalisasi–bahwa hoaks adalah makanan kita sehari-hari. Dan itu berangkat dari kebiasan kita sewaktu kecil yang tidak pernah diajari dalam menyaring berbagai informasi.

Poinnya adalah berangkat dari cerita mulut ke mulut, telinga ke telinga tanpa pernah menggali informasi. Sungguh, cerita yang beredar jauh lebih menyenangkan untuk dibicarakan kehebohannya; memang benar, berita yang hanya “katanya” selalu indah untuk mengawali obrolan dan menjadi sebagai penyakit.

Penyakit itu mengakar sampai hari ini. Kalau tidak segera dicabut, akar tersebut akan semakin menjalar dan semakin kuat. Sama halnya dengan ketidakmauan kita dalam mencari tahu lebih dalam soal informasi yang beredar.

Siap-siap saja kenyang dengan infromarsi di tengah derasnya arus digitalisasi.

Spread the love

Berfoya-Foya Terlebih Dulu, Melek Literasi Keuangan nya Nanti Saja

Melek Literasi Keuangan – Akhir bulan menjadi waktu yang dinanti-nanti oleh para pekerja, khususnya mereka yang menerima gaji setiap akhir bulan. Isi dompet menipis bahkan habis, keranjang di toko oranye sudah siap untuk segera dibawa pulang dalam bentuk barang nyata, promo  stay cation akhir bulan dengan iming-iming healing juga sudah menanti, promo perawatan wajah, atau berbagai macam promo lainnya yang telah disusun secara strategis oleh para pelaku usaha.

Sesekali, belanja barang mahal dengan dalih selfreward karena sudah bekerja keras selama satu bulan penuh. Sesekali,stay cation di tempat mahal untuk sejenak melepas penat karena sudah bekerja keras adalah cara untuk mengapresiasi diri meskipun setelah itu kantong kurus kering.

Begitulah trend yang berkembang hari ini. Kerja, kerja, tipes, healing. Padahal, ya, berkedok menghabiskan uang dengan cara dan istilah lain. Dolan, ya, dolan aja. Beli barang mahal, ya, beli aja. Entahlah, makin ke sini, ada-ada saja istilah anak jaman sekarang.

Tidak semua orang mendapatkan gaji yang “lebih”, bahkan malah dicukup-cukupkan karena memang gaji yang diterima tidak layak untuk didapatkan. Kalau mereka yang memiliki gaji lebih, tidak masalah jika ingin bersenang-senang dari hasil jerih payahnya. Karena mereka sudah punya ploting gaji yang digunakan untuk kebutuhan dan foya-foya lainnya.

Belum lagi, keingian untuk bisa terlihat keren dan berada di media sosial membuat para generasi sekarang terus saja berlomba-lomba untuk bisa mempertontonkan apa yang dimilikinya. Konten memang jauh lebih berharga daripada mengelolas sumber keuangan secara efektif.

Berbeda dengan mereka yang harus memutar orak “kalau uang saya habis di tengah bulan, saya harus bagaimana?” Atau “Saya harus berhemat dengan cara berpuasa atau mencari tambahan penghasilan lain.” Bayangkan kalau ada tanggungan setiap bulannya. Untuk berfoya-foya, ya, nanti saja.

Dua kondisi kebutuhan dan keuangan yang tentulah berbeda. Tapi, di saat yang sama hal tersebut bisa memberikan kesempatan untuk keduanya bisa belajar bagaimana saving untuk kebutuhan masa depan. Hidup tidak melulu soal mendapatkan gaji lalu dihabiskan, tapi ada perjuangan-perjuangan untuk bisa tetap memanfatkannya dengan  baik, khususnya dalam hal keuagan atau literasi keuangan.

Melek Literasi Keuangan

melek literasi keuangan
Melek Literasi Keuangan

Literasi keuangan sendiri bukanlah menjadi hal yang tabu, hanya saja masyarakat, khususnya para pekerja yang notabene sebagai karyawan atau pekerja baru lupa dengan PR mereka tentang literasi keuangan. Sebagian mereka berpikir, saya sudah bekerja keras, saya berhak menikmatinya dengan bersenang-senang. Atau, saya ingin menikmati gaji saya dengan membeli barang mewah, makan makanan mahal, atau travelling sebelum saya menikah dengan uang hasil keringat saya.

Literasi keuangan adalah kemampuan mengguanakan keterampilan untuk bisa menggunakan, mengelola, memanfaatkan sumber daya keuangan secara efisien dan efektif demi memelihara kesejahteraan seumur hidup. Bukan, kesejahteraan setelah tanggal gajian saja.

Bagian inilah yang harus menjadi catatan setiap akhir dan awal bulan bagi mereka. Daftar pengeluaran apa saja yang telah habis dikeluarkan atau setidaknya bisa merencakan skala prioritas dengan sebaik-baiknya.

Banyak yang  tidak tahu bahwa level literasi keuangan yang ada belum sepenuhnya bisa dikatakan baik. Menurut survey indeks literasi dan inklusi keuangan yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2019, literasi keuangann mecapai 38.03%, meningkat 8.33% dibandingkan dengan hasil survey OJK pada tahun 2016, yaitu 29.7%. Namun, angka itu dinilai masih rendah apabila dibandingkan dengan negara tetangga di ASEAN.

Setidaknya bisa saving, meskipun hanya sedikit

Sah-sah saja jika ingin menikmati hasil kerja keras, namun tidak elok jika menghabiskan uang berkedok healing adalah cara untuk berfoya-foya. Keduanya memiliki batasan tertentu.

Tingkat literasi keuangan yang tinggi akan menyelamatkan kondisi finansial seseorang. Sedangkan tingkat literasi rendah membuat orang tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan uang yang dimiliki. Bahkan uang bisa habis tanpa pengeluaran yang tidak jelas. Lalu, bagaimana dengan hari tua nantinya?

Kalaupun Anda ingin menikmati gaji setiap bulannya dengan hal yang Anda sukai atau menjadi selfreward sebisa mungkin tetap berpikir rasional bahwa di tengah ketidakpastian hidup akan terjadi banyak kemungkinan. Sebagai contoh pandemi covid 19. Berapa banyak orang yang dirumahkan? Berapa banyak perusahaan yang gulung tikar? Berapa banyak pelaku usaha yang harus terlilit hutang? Itu adalah contoh nyata yang baru saja kita alami. Hari ini kita sedang mengupayakan perbaikan ekonomi lagi. Barangkali pandemi kemarin menjadi contoh konkrit yang bisa kita ambil pelajarannya.

Sisakan sedikit saja agar hidupmu bisa selamat. Sisakan sedikit saja agar hari tuamu bisa tercover. Sisakan sedikit saja dengan cara berhemat.

Kita sudah dibenturkan dengan badai yang begitu hebat. Apakah mau mengulang lagi dengan harus meminjam uang dengan kelabakan? Apakah tidak ingin bisa bernapas dengan lega?

Melek literasi keuangan menjadi pondasi awal untuk kesejahteraan. Lalu, apakah ada yang ingin mengulang berita yang menghebohkan Indonesia dengan investasi bodong lagi? Kalau belum menemukan intrumen investasi dengan tepat karena masih ingin menikmati gaji, setidaknya Anda bisa menyisihkan sedikit saja. Ingat,  kita hidup di antara ketidakpastian, bukan?

Konon, yang sedikit ini jika rutin dilakukan akan menjadi bukit. Tidakkah rumus sederhana ini sudah menjadi teman saat kita kecil dulu?

Spread the love

Etika Digital dan Hak Berpendapat

Etika Digital – Kalau di rumah kita diajari untuk bisa menghormati orang yang lebih tua, maka hari ini kita berdiri sebagai manusia yang tahu tata krama, meskipun tidak semuanya berhasil. Dan itu sangat manusiawi. Sukses, tidak melulu memiliki definisi berhasil, bukan?

Lalu, di bangku sekolah kita diajarkan untuk menghormati Bapak dan Ibu guru. Di pelajaran PPKn juga diajari bagaimana caranya menghargai perbedaan, contoh yang kerap disampaikan adalah apa yang harus dilakukan ketika kita memiliki perbedaan kepercayaan. Apa yang harus dilakukan ketika ada orang yang memiliki pendapat berbeda dengan kita. Dengan lantang semua siswa di kelas menjawab, “menghormatinya.” Dan itu sudah menjadi rumus pasti sampai hari ini menghargai perbedaan dan keberagaman.

Saat separuh diri kita ada pada media sosial apakah kita masih bisa menghargai keanekaragaman itu? Ataukah dengan kemudahan yang kita miliki hari ini membuat telinga kita menutup rapat-rapat perbedaan?

Sebenarnya, sesederhana; kalau tidak tahu, ya, mencari tahu dengan sumber yang kredibel atau memilih diam. Mengingat bahwa netizen Indonesia memiliki tingkat kesopanan yang rendah alias menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara.

Dua hal yang sangat kontradiktif. Sewaktu kecil belajar beretika, namun hari ini terbukti sebaliknya. Penerapan literasi digital seharusnya membuat masyarakat lebih bijak dalam mengakses teknologi, bukan main hakim sendiri. Seharusnya lebih berpikir tajam, bukan dengan asumsi tanpa bukti-bukti.

Literasi digital sendiri erat kaitannya dengan kemampuan penggunanya dalam menggunakan teknologi, tapi ada banyak hal yang dilupakan oleh pengguna, seperti bagaimana menggunakan, mencari, dan memanfaatkan teknologi dengan cerdas dan akurat. Selalu menjadi juara pertama untuk bisa membuat sebuah trending di Twitter. Tapi, tanpa itu juga, mungkin saya juga akan ketinggalan informasi.

Namun, hak sebagai manusia untuk berpendapat, saya rasa etika-etika yang sejak kecil ditanamkan dalam merespons sesuatu, kita tidak bisa memaksanya untuk bisa saling berkaitan.

Etika digital

etika digital

Setiap warga negara memiliki hak digital meliputi hak untuk mengakses, menggunakan, membuat, dan menyebarluaskan media digital. Bahkan kita bisa menjual hasil karya lewat akses digital.

Etika digital atau digital ethics adalah kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, dan menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital dalam kehidupan sehari-hari.

Hak Berpendapat

Tidak dapat dipungkiri ketika ada berita yang mencuat dengan cepat, pasti akan menjadi mangsa empuk masyarakat. Seperti hari ini, salah satu artis yang berhasil bermain di film Dua Garis Biru dituding sebagai pelakor. Sebanyak 23.4 ribu kicauan menyebut nama Arwinda di Twitter. Berbagai macam tudingan, kicauan, bullyan tertuju pada artis tersebut. Dulu dipuja-puja dalam keberhasilannya bermain film, hari ini disebut-sebut menjadi pelakor. Netizen memang maha benar.

Kalau ditelisik lebih mendalam lagi, sebenarnya apa hubungan netizen dengan pemain film tersebut sehingga mereka begitu tidak suka dengan cara mengeluarkan caciannya kepada si artis? Apakah turut merasa jengkel atas apa yang dilakukannya?

Dengan merasa memiliki hak berpendapat, saya juga akan melakukan hal demikian. Menulis apa yang ada di kepala. Menyampaikan apa yang dirasakan. Lalu, mempostingnya. Sekali lagi, di waktu situasional ketika ada berita yang menyayat hati, secara otomatis orang-orang yang mendengar atau membaca berita tersebut akan merasakan gejolak emosi. Tidak akan terlintas, apa yang harus dilakukan dalam waktu yang situasional. Tidak akan memikirkan gaya komunikasi seperti apa yang menyakiti, apalagi menyaringnya dengan bijaksana; apakah berita tersebut benar atau tidak.

Sependek itu.

Mengumpat, membully, mencomooh, atau gagasan dalam bentuj tulisan yang begitu tajam adalah sesuatu yang mengalir ketika merespons sebuah permasalahan. Dan kita sebagai manusia kerap melakukannya. Bahkan dalam peristiwa sehari-hari pun kita sering menjumpainya, misalnya ketika di jalan ada yang menyelonong menyebrang. Anda pasti sudah tahu kalimat atau sikap apa yang dilakukan saya atau kita. Itu contoh analogi yang paling sederhana.

Secara psikolog kita tidak memiliki kuasa atas diri kita karena tidak bisa mengontrol apa yang keluar dari mulut. Dan itu sangat manusiawi. Tidak hanya sampai di situ, merasa memiliki hak berpendapat sebagai manusia dan sebagai warga negara.

Jika etika digital dikaitkan dengan waktu situasional tertentu, khususnya batasan dalam menyampaikan pikiran dan perasaan saya rasa sama sekali tidak bisa dikaitkan. Terlebih, hal ini dikuatkan dengan merasa memiliki hak berpendapat.

Belum lagi jika kita diminta untuk menghargai perasaan atau sisi psikolog orang yang dituju, lalu apa gunanya untuk berpendapat? Sedangkan dalam situasional tertentu kalau memikirkan gaya berpendapat atau komunikasi yang tepat sampai tidak melukai mana bisa? Apalagi memikirkan etika dalam menyampaikan apa yang memuncak di pikirannya.

Kita ini manusia yang dengan kelebihannya bisa menyadari, mencontoh, merasionalkan diri, dan mempertimbangkan dalam berbagai hal, namun di waktu-waktu tertentu jika di luar control sehingga disebut tidak beretika dalam bermedia sosial adalah fitrah dari manusia itu sendiri. Kalau tidak pernah salah, kapan kita akan tahu bagaimana caranya beretika digital?   

Spread the love
en_USEnglish