Literasi Pancasila

Berbeda juga Tak Mengapa

Dulu sekali, ketika saya masih duduk di bangku kuliah, saya menjadi manusia yang gampang sekali kesal karena hal-hal sederhana. Setiap kali berangkat ke kampus, saya bete hanya karena sikap kawan saya tidak seperti yang saya inginkan. Saya menyendiri. Lebih senang pulang ke kosan tanpa perlu berbasa-basi untuk ngobrol sana-sini.

Hal tersebut membentuk saya seperti sekarang ini. Mengendalikan perasaan di tengah keberagaman. Mengendalikan diri di tengah keramaian. Dari hal tersebut, saya meyakini bahwa menjadi “beda” itu sama sekali tidak apa-apa. Tak mengapa.

Mengingatkan saya bahwa, saya pernah menjadi orang yang begitu semangat ketika ada kajian. Apalagi jika kajian tersebut ada di masjid kampus (MasKam) universitas di Yogyakarta. Pada saat itu bisa mengikuti kajian sana-sini adalah privilege. Mengatakan privilege, tapi ada keangkuhan di baliknya. Hehehe manusia.

Saya mempunyai beberapa kawan dekat. Biasanya kami membeli cilok depan fakultas kami. Sesekali beli Soto Uwuh di dekat kampus tetangga sebelah. Lalu, pada umumnya sebagai manusia bahwa kami memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Begitulah, menjadi manusia seperti pada umumnya. Karena sifat dasar manusia inilah yang mampu menjadikan kami bisa sama-sama sampai hari ini. Berbeda tanpa membeda-bedakan.

Pada saat itu, saya begitu nyaman dengan pakaian yang saya kenakan. Rok jeans menjadi pakaian bawah istimewa karena bisa saya padukan dengan apa saja, kaos lengan panjang, kemeja, atau apapun yang bisa menutupi setiap bagian dari saya, saya akan mengenekannya. Tanpa pernah memikirkan apakah pakaian saya ndeso atau tidak. Tanpa pernah memikirkan pakaian atasan dan bawahan saya pas atau tidak. Boro-boro memikirkan baju branded. Saya hanya fokus pada kenyamanan saya.

Saya juga tidak memikirkan apakah wajah saya kusam atau tidak tanpa harus memakai bedak. Saya  tidak memikirkan wajah saja pucat pasi karena tidak mamakai lipstick atau tidak. Mata saya semakin sayu atau tidak saat saya tidak menggunakan eyeliner.  Saya secuek itu. Berarti, pasangan Mbak Syifa benar menerima apa adanya, ya, mbak? Rahasia.

Saya begitu kaku. Hanya untuk mendengarkan musik saja, saya minimalisirkan. Tapi, saya jatuh cinta pada saya beberapa tahun yang lalu. Saya rajin mencatat poin-poin besar atas buku yang sedang saya baca. Saya rajin merangkum poin-poin besar atas kajian yang saya tonton di YouTube setiap harinya. Saya jatuh cinta pada hal-hal baik pada diri saya beberapa tahun yang lalu.

Kembali lagi pada “perbedaan”. Salah satu di antara kawan dekat saya tadi, ada satu yang membuat saya sadar bahwa seberapapun banyak perbedaan di antara kami tidak membuat kami saling memalingkan wajah. Seberapapun sekat perbedaan di antara kami tidak membuat kami tidak saling mengulurkan tangan. Bahkan saat saya membutuhkan pelukan, dia menjadi orang yang paling menghangatkan. Dia tidak percaya kepada apa yang saya yakini. Sang Maha Cinta yang tidak pernah ia yakini keberadaannya. Bukan hanya Sang Maha Cinta saya, tapi Sang Maha Penuh Kasih lainnya juga tidak ia percayai dan yakini.

Kami berdua sering membahas hal-hal sensitif. Tentang hal-hal yang tidak nampak mata yang mempunyai kebesaran yang tiada duanya

Kami sangat menjunjung tinggi nilai toleransi. Lihat saja ketika saya tidur di kosan kawan saya, iya memberi saya ruang untuk beribadah. Mengambilkan mukena meskipun dia tidak menjalankannya tanpa pernah saya minta. Bahkan, ia lebih dulu mengatakan, “Salat tidak?”

Kami juga selalu menguatkan pondasi kami dengan kasih melalui kebersamaan. Merasa senasip, misalnya. Saya ingat betul ketika kami mendapatkan jadwal ujian skripsi di hari yang sama. Dia menunggu saya di kosannya dengan setia.

Saya motoran dari rumah ke kampus kurang lebih satu jam. Bahkan bisa menghabiskan waktu satu jam lebih. Mengingat pada saat itu hujan. Kalau saya di posisi dia, saya akan datang ke kampus lebih dulu. Saya akan mempersiapkan diri saya sebaik mungkin tanpa harus tergesa-gesa menunggu saya di jam-jam akhir, bahkan bisa terlambat untuk bisa sampai kampus.

Saya tidak mau ambil risiko hanya karena menunggu seseorang datang terlambat ujian akhir demi berangkat ke kampus bersama. Tapi, kawan saya bersedia melakukannya. Demi apa? Demi tali kasih kami sebagai teman. Sebagai manusia. Lagi-lagi sebagai manusia.

Saya rasa memahami “hakikat menjadi manusia” atau “hakikat sebagai manusia” adalah upaya

Kenapa harus dikotak-kotakan bahwa masing-masing kita ini berbeda, kalau nyatanya kita bisa bersama tanpa mengenal sekat? Seharusnya, ya, mereka yang mengkotak-kotakkan inilah yang “berbeda”

Bukankah yang berbeda itu yang membuat kita cantik? Bayangkan jika setiap orang memiliki warna kulit yang sama, rambut yang sama lurusnya, dan style yang sama. Betapa membosankan persamaan itu?

Literasi Pancasila di Tengah Majunya Peradaban

Literasi Pancasila di Tengah Majunya Peradaban – Saat 1 Juni 2017 ditetapkan menjadi hari lahir Pancasila pada saat itu juga bangsa Indonesia menaruh harapan besar pada warga negaranya bahwa momen tersebut bukan hanya ajang seremonial belaka, tapi sebagai refleksi setiap tahunnya apakah benar masing-masing kita ini sudah mengilhami pancasila atau belum. Apakah nilai-nilai Pancasila sudah menjelma ke dalam diri kita atau belum? Sebuah upaya kecil, namun tetap menjadi PR besar.

literasi pancasila
literasi Pancasila

Kalau berjalan mundur ke balakang, pada masa orde baru dilakukan Program Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P4) yang bertujuan untuk membumikan nilai-nilai Pancasila. Namun, pada praktiknya usaha tersebut malah dijadikan sebagai propaganda penguasa. Hingga akhirnya, P4 dibubarkan pasca runtuhnya rezim baru. Pada saat itu juga, Pancasila seakan tidak pernah pernah untuk dibahas yang akibatnya nilai-nilai Pancasila semakin jauh dari bangsa Indonesia.

Entah permainan apa yang coba dijalankan pada masa itu, padahal Pancasila adalah falsafah negara—sebagai pedoman dan pegangan hidup dalam bersikap, bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari dan bernegara.

Apakah selamanya Pancasila hanya menjadi pajangan dinding kelas atau kantor-kantor pejabat saja? Dan apakah hanya dilafalkan setiap hari upacara saja? Tentu tidak. Pancasila diharapkan bisa mendarah daging dalam tingkah laku manusia. Pancasila diharapkan bisa menjadi hembusan napas setiap saatnya agar tujuan kehidupan bernegara bisa terwujud.

Hingar Bingar Kehidupan Peradaban

Pendidikan karakter selalu berlari pada pondasi agama dan Pancasila, maka bisa dilihat pelajaran Pendidikan Agama Islam dan PPKn menjadi pilar penting dalam proses pembelajaran. Namun, tak bisa dipungkiri juga bahwa hari ini kita berdampingan dengan arus digitalisasi yang begitu deras menyebabkan banyaknya informasi yang kita telan tanpa tahu output yang didapatkan berbentuk apa.

Bukan hanya itu, modernisasi ini membuat kita juga menjadi manusia yang tamak. Kita beromba-lomba untuk bisa se-idealis, tapi ternyata malah menganut kapitalis. Kita berlomba untuk menyuarakan pendapat, tapi malah membuat sekat antar masyarakat. Karena apa? Karena kita bertindak tanpa mengikuti peta yang kita sebut sebagai Pancasila.

Saya yakin jika semua berporos pada Pancasila tidak akan ada yang namanya perpecahan hanya karena tetangga tidak berangkat kerjabakti. Tidak ada yang saling memblokir kontak HP karena perbedaan pilihan saat Pemilu. Dan contoh-contoh nyata di depan mata lainnya yang menunjukkan kalau dalam diri kita masih menjunjung tinggi egoism bukan Pancasila.

Lima sila Pancasila menjadi konsep untuk bertahan di tengah gempuran globalisai, hingar bingar kehidupan yang tidak pasti, dan di tengah perlombaan yang ingin menunjukkan bahwa dia hebat karena bisa bebas tidak terjerat pada nilai-nilai Pancasila. Semoga, ya, yang menjelma pada diri kita ini semangat untuk bisa meniru kemajuan bangsa lain, bukan seperti paham radikalisme yang masih ada di sela-sela kita.

Literasi Pancasila melalui Tiga Pendekatan

Berbagai macam usaha dan upaya dilakukan agar nilai-nilai Pancasila bisa hidup dan menghidupi warga negara dalam bertindak dan bertunduk. Dari lapisan terkecil pun juga turut membantu bagaimana agar literasi Pancasila bisa terwujud dengan cepat dan tepat guna menguatkan akar nasionalisme.

Tak lain hal ini bisa dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui TSM (Terstruktur, Sitemik, Masif) secara konkrit, bukan hanya melafalkan pada hari-hari besar saja. Yakni dengan pendekatan Kelembagaan, Sistem, dan Fungsional.

Pendekatan kelembagaan dilakukan dengan melibatkan lembaga pemerintah, kemasyarakatan, keagamaan, partai politik, dan kepemudaan dalam lingkup formal ataupun informal. Misalnya, pentas seni dan budaya yang diadakan oleh kepemudaan Karangtaruna. Anak-anak muda masih bisa menikmati kebebasn berekspersi tanpa takut kehilangan nilai Pancasila yang sengaja ditampilkan melalui kegiatan tersebut.

Sedangkan pendekatan sistem dilakukan dengan memasukkan nilai-nilai Pancasila dalam sistem berbangsa dan bernegara. Yakni dengan memasukkan nilai-nilai Pancasila dalam sistem Pendidikan sekolah formal, sistem rekruitmen dan pengembangan SDM ASN, TNI/Polri, BUMN, sistem pengkaderan pada partai politik dan kepemudaan.

Selanjutnya pendekatan fungsional bisa dilakukan dengan memaksimalkan sarana prasarana, teknologi informasi, media massa, media sosial. Hal ini jelas bisa dilakukan oleh siapa saja. dengan hanya memosting cerita-cerita sederhana yang merangkum nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari menjadi langkah mudah untuk membagikan cara berliterasi Pancasila. Lalu, dengan banyaknya wadah yang bisa menampung pikiran kita di media massa, khususnya media online juga mendukung upaya kita untuk bisa mengedukasi siapa saja bahwa literasi pancasila adalah hal yang sifatnya wajib untuk dikuatkan.

Rendahnya pemahaman nilai-nilai Pancasila menjadi perhatian besar semua pihak. Apalagi dengan banyaknya kasus yang tidak senonoh yang menghina Pancasila yang saya tidak habis pikir bisa dijadikan sebagai Duta Pancasila. Entah logika apa yang berjalan, yang jelas rasionalisasi saya tidak bisa menangkap bias politik yang disuguhkan.

Semoga,ya, langkah-langkah kecil tadi bisa membantu dalam terus meningkatkan literasi pancasila kita dalam kehidupan bernegara.

Lewat Gutu Kesadaran Diri, Mari Suarakan Literasi Keberagaman Bersama

Literasi Keberagaman – Saat media digital digadang-gadang menjadi jembatan untuk menyuarakan isi kepala. Pada saat itu juga lapisan paling mendasar, yakni sekolah seharusnya juga bisa menguatkan toleransi di tengah perbedaan sana sini. Kemajemukan yang ada menjadi tombak bahwa keberagaman inilah yang seharusnya bisa merekatkan yang jauh. Melunakkan kerasnya idealisme—dengan menyadari penuh bahwa toleransi adalah soal tidak setuju atau tidak sepaham, namun tetap bisa menghargai.

literasi keberagaman
literasi keberagaman

Miris, jika sekolah memiliki harapan besar sebagai penyambung lidah untuk bisa turut menguatkan akar toleransi, tapi malah menunjukkan kebobrokannya dengan keputusan yang memalukan. Bagaimana bisa oknum guru memaksa sisiwinya untuk menggunakan jilbab. Hingga sampai hari ini siswi tersebut trauma, bahkan depresi. Hari ini kasus yang terjadi di salah satu sekolah di Bnguntapan, Bantul, Yogyakarta ini masih dalam proses penyidikan. Namun, yang perlu digaris bawahi jika memang para oknum tersebut secara paksa melakukannya, sungguh sebagai kejadian memalukan.

Atau memang benar sifat dasar manusia demikian: keras terhadap orang lain, tapi tidak bisa keras dengan diri sendiri? Maksud saya adalah kenapa bisa memaksa suatu hal pada orang lain, tapi tidak bisa memaksa diri sendiri untuk bisa melakukan suatu tindakan yang membuat hidup lebih baik, misalnya.

Keberagaman juga diharapkan mampu mentransformasikan nilai-nilai toleransi, perdamaian, penghargaan serta keterampilan jurnalistik kepada komunitas sekolah dan masyarakat.

Sejak SD kita dibekali dengan nilai yang cukup kuat oleh Bapak Ibu guru yakni bagaimana caranya menghargai orang yang memiliki kulit berbeda dengan kita. Bagaimana caranya menghargai dengan orang yang cara ibadahnya berbeda. Itu yang kerap mereka ulang-ulang. Atau perintah membaca karena dengan membaca akan membuka wawasan. Lalu, yang terakhir adalah jargon dengan gambar buku terbuka bahwa buku adalah jendela dunia. Bahwasnya kita diajarkan untuk mencintai buku-buku yang tersusun rapi di rak perpustakaan. Mereka akan lebih suka jika buku-buku tersebut berantakan.

Tapi, realitanya mereka jarang melakukannya. Sibuk dengan kewajibannya menyelesaikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sibuk mengikuti diklat agar mendapatkan sertifikat untuk meningkatkan angka kredit, sibuk membuat buku atau kumpulan puisi untuk meningkatkan angka kredit guna kenaikan jabatan. Baik, jika di situ ada tuntutan. Tapi tuntutan yang berdampak pada siapa? Apakah berdampak pada anak didik atau hanya membuat perut sendiri semakin kenyang?

Sangat klise sekali.

Berteriak kencang agar siswa siswinya gemar membaca untuk bisa memiliki cara pandang yang luas dan tahu bahwa dunia ini sangat luas, lalu bisa menghargai setiap kecil perbedaan agar hidup berdampingan dengan rukun.

Lagi, lagi harus kembali kepada diri sendiri. Khususnya saat berada di luar rumah, misalnya. Seperti saat jadwal saya pergi ke kantor hari Senin kemarin. Saya dan teman-teman fokus pada pekerjaan kami. Makan selain di jam kerja juga bukan masalah bagi kantor kami. Pada saat itulah saya merasa sangat sebal saat kawan saya bermain laptop. Tangan kanannya memainkan kursor, dan tangan kirinya secara dengan cekatan nyemil menggunakan tangan kirinya. Dia bukan seorang kidal. Hal tersebut ia lakukan berjam-jam.

Saya tidak suka dengan apa yang ia lakukan. Hemat saya, kawan saya bisa berhenti main laptop, lalu fokus nyemil menggunaan tangan kanan. Bukan tangan kiri, yang secara bergantian menggambil snack dimasukkan ke mulutnya. Pada saat itu juga saya merasa begitu kesal dengan diri saya sendiri. Bagaimana bisa saya terganggu dengan hal sepele seperti ini? Bagaimana bisa saya terganggu dengan aktivitas orang lain di luar kuasa saya?

Lalu, menyadari penuh atas apa yang kawan saya lakukan adalah upaya dia untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya, tanpa mengesampingkan perutnya. Alih-alih saya berpikir positif seperti itu. Memang benar pikiran yang baik bisa menyelamatkan dari pikiran-pikiran sempit di kepala.

Saat berada di luar rumah berinteraksi dengan orang banyak itulah akan muncul berbagai gejolak emosi karena ada banyak hal di luar kendali kita. Tidak sesuai dengan nilai-nilai kita. Kemudian, apakah saat kita duduk di bangku sekolah mendapatkan teori cara bertoleransi

Bagaimana bisa jika guru-guru tersebut sibuk mengenyangkan perutnya sendiri? Bohong kalau kita harus berterima kasih kepada bapak ibu guru untuk bisa menanamkan nilai atau tata cara dalam toleransi. Lihat, berapa banyak kelas-kelas guru yang hanya bertujuan untuk membuat buku, misalnya hanya untuk meningkatkan angka kredit mereka?

Tidak perlu bergantung pada teori-teori yang ­ndakik-ndakik itu. Tidak perlu bergantung pada suara lantang di pojokan kelas. Karena pada akhirnya semua kembali pada diri. Diri kita. Sendiri.  

Kita Ini Suka Menjadi “Beda”, tapi Tidak Bisa Menghargai Juga

Beberapa hari terakhir, saya membuka online shop berwarna oranye. Jauh-jauh hari, saya memang sudah merencanakan untuk membeli baju. Sebut saja sebagai hadiah setelah bekerja selama satu bulan, padahal, ya, memang mau beli baju tanpa ada embel-embel dengan istilah lain, ya? Hmm. Dasar manusia.

Saya membuka beberapa toko dengan melihat-lihat pilihan baju yang cantik dengan model yang memang cantik. Hanya sekadar scroll pun membuat kepala pusing. Dengan berbagai macam pilihan membuat saya bingung, baju model seperti apa yang harus saya beli. Dari sini menyadarkan saya bahwa semakin banyak pilihan, semakin sulit menentukan. Bahkan kita bisa kehilangan kesempatan untuk kesekian kalinya.

Tapi, poinnya bukan di situ. Menjadi selektif memang harus. Adalah berbagai macam pilihan warna, model, jenis, motif, dan perpaduan atasan-bawahan pakaian yang kian beranekaragam menunjukkan kalau kita ini suka dengan perbedaan. Suka kalau apa yang saya pakai berbeda dengan yang Anda pakai. Malu kalau bertemu atau melihat orang lain memakai outfit yang sama dengan kita. Apalagi, kalau outfit tersebut seperti kopian alias sama persis dengan yang kita pakai dengan kiblat yang sama yaitu dari online shop.

Cerita tersebut sama persis dengan postingan yang ada di Instagram yang pernah saya lihat beberapa waktu lalu. Ada dua orang menggunakan outfit yang sama, lalu salah satu dari mereka jadi bahan becandaan kawan yang ada di sampingnya. Atau, ketika ada acara sinoman di desa saya. Ada dua orang memakai baju yang sama. Akhirnya, ada yang mengalah untuk pulang ganti baju.

Kita ini, ya, berlomba-lomba untuk mencari perbedaan, tapi ketika dihadapkan dengan “persamaan” kita menolak keras. Coba tanyakan pada diri sendiri; bagaimana bisa menghargai “perbedaan”, jika “persamaan” membuat masing-masing kita bertengkar?

Menerima Perbedaan

Sebenarnya, sudut pandang yang berbeda inilah yang akan membentuk dialektika yang baik karena ada proses berpikir—saling adu gagasan juga argumentasi. Namun, akan menjadi buruk ketika dilihat dari sudut pandang yang penuh dengan kebencian hanya karena “berbeda” dari hal “memahami”.

Kita ini lucu, ya? Suka sekali berburu barang unik nan menggemaskan agar bisa terlihat tampan dan ganteng. Membeli barang atau pakaian branded agar terlihat “berbeda” dari yang lainnya.

Pokoknya, rela melakukan apa saja demi terlihat berbeda. Namun, sayangnya ada “hakikat” yang belum kita pahami bahwa sebenar-benarnya “berbeda” adalah tetap meyakini apa yang menjadi pandangan kita, namun tetap biasa saja saat orang lain berbeda pendapat dengan kita. Hakikat bahwa keberagaman juga soal “persamaan” itu sendiri. Artinya, tidak akan menjadi masalah jika sudut pandang saya, sama dengan Anda. Tidak akan menjadi masalah jika pakaian yang saya pakai, sama dengan outfit yang Anda pakai pada waktu bersamaan.

Kita ini berlomba-lomba untuk mencari perbedaan, tapi menolak jika ada persamaan. Lalu, pertanyaan besarnya adalah apakah kita ini sudah memahami hakikat “perbedaan” tersebut?

Di luar sana, banyak sekali peerbedaan yang kita sebut sebagai keanekaragaman, bahkan pada tingkatan makna yang semakin luas. Perbedaan warna kulit, bahasa, adat, dan keyakinan. Maraknya isu-isu sensitive juga semakin meningkatnya isu-isu yang memprovokasi. Dan itu terjadi berulang kali. Bahkan, insiden bom bunuh diri yang masih menancap jelas di ingaatan adalah bukti bahwa provokasi oleh propaganda radikalisme.

Media sosial yang menjadi sumber berita pun menjadi bola panas yang siap meledakkan siapa saja yang tidak siap dengan gempuran isu-isu tidak benar alias hoax. Ujaran kebencian karena perbedaan keyakinan dalam hal politik juga lainnya juga menjadi alasan untuk memicu adanya intoleransi.

Jika tidak bisa diberhentikan, kebencian selamanya akan menjadi kebencian. Dari sinilah awalnya konflik terjadi, perbedaan paham karena tidak “memahami hakikat”. Dari sinilah sumber saling provokasi terjadi karena tidak “memahami perbedaan yang hakiki”. Karenanya, apakah benar kita ini bisa memahami keberagaman kalau ada persamaan saja kita enggan?

Dengan literasi keberagaman kita akan memahami sejauh mana kita benar memahami makna itu sendiri. Dengan literasi keberagaman tidak ada yang namanya pecah belah. Dengan literasi keberagaman, jika ada perselisihan karena pemahaman yang berbeda, tidak akan ada yang saling meninggikan suara, dan saling membenci setelahnya.

Sekali lagi, apakah benar kita ini bisa memahami keberagaman kalau ada persamaan saja kita enggan?

Menghidupkan Literasi Pancasila melalui Perilaku Sehari-Hari

Menghidupkan Literasi Pancasila – Saya baru saja pulang dari takbir keliling bersama anak-anak TPA (Tempat Pengajian Anak) di dusun saya. Berjalan menyusuri jalan di setiap jalan-jalan kecil sudut kampung menggunakan caya oncor dan ditemani lantunan suara takbir serta bedug beserta alat drum band yang kami bawa untuk memeriahkan acara takbir keliling Idul Adha tahun ini. Saya melihat pantulan tawa di kedua pipi anak-anak dengan caya oncor yang mereka pegang. Saya juga melihat betapa antusias teman-teman Rismas (Remaja Masjid) saat menabuh bedug dan bagaimana cara teman-teman mengatur adik-adik.

Menghidupkan Literasi Pancasila
Menghidupkan Literasi Pancasila

Lalu, saya mengingat adik perempuan saya yang juga ikut berjalan kaki berkeliling kampung. Siswi kelas VIII yang sedang senang-senangnya bermain TikTok, seperti remaja pada umumnya.

Misalnya, saat dia bercerita tentang kawannya yang memiliki wajah seperti anak SMA atau saat dia sedang sebal dengan kawannya karena yang sering menyontek. Dengan bulu matanya yang lentik ia menceritakan dengan detail apa yang dialami di sekolah dengan sesekali ia mengedipkan matanya yang belok.

Saya menunggu ia menyelesaikan cerita demi ceritanya. Saya senang dia bisa mengekspresikan rasa sebalnya. Saya bersyukur adik perempuan saya bisa bercerita apa yang dialaminya tanpa pernah saya memintanya. Hal seperti inilah yang menambah daftar rasa syukur saya.

Tidak sabar, saya ingin segera menanggapinya sehingga membuat dia semakin bijak dalam merespons kejadian yang akan dihadapinya, nantinya. Kami, sudah sering melakukan diskusi seperti ini..

Saya belajar menguatkan pada akar, hati baik adik perempuan saya bahwa baik dalam menghargai perbedaan kebiasaan, karakter dengan kawan-kawannya di kelas adalah hal biasa. Saya kerap mengatakan, nikmati jadi anak SMP. Nikmati saat kamu bertemu orang-orang menyebalkan. Dunia ini luas, kamu akan bertemu dengan perlbagai kejutan-kejutan hiup lainnya, tentu sebagai seorang siswi SMP.

Atau menceritakan salah seorang kawannya yang memiliki karakteristik berbanding terbalik dengan adik saya. Suatu hari, adik saya mengatakan kepada Tara saat menuju kamar mandi, “Kamu tuh ga boleh ngomong kayak gini.” Perintah adik saya dengan suara medhoknya.

Diceritakan kalau Tara mengeluh karena perutnya sakit, lupa tidak membawa jilbab, dan di hari selanjutnya berencana untuk tidak berangkat ke sekolah keesokan  harinya karena ada pelajaran yang tidak Tara sukai, adalah Matematika.

“Siaaallllll!!” Suara Tara terdengar lebih jelas daripada kalimat sebelumnya.

Belum lagi apabila ada PR, Tara akan selalu mengatakan “tidak” saat dia tidak mengerjakan PR. Lalu, akan mengatakan “ada PR, bu” ketika dia mengerjakan PRnya sedangkan kawan-kawannya tidak mengerjakan, termasuk adik saya, misalnya.

Nduk, kamu akan bertemu orang-orang yang lebih menyebalkan dari kawanmu yang bernama Tara. Akan akan bertemu kawan yang mungkin bisa melukai hatimu karena sikap dan ucap karena kawanmu. Soal Tara yang mengatakan kepada kamu, “mampus looooo!!” karena kamu tidak mengerjakan PR adalah hal yang ya, memang menyebalkan, tapi ternate kamu tidak sakit hati atas apa yang Tara lakukan ke kamu. Katamu, “aku engga sakit hati karena sudah memahami karakteristiknya.”

Lalu, saya terdiam. Apa yang saya tanam selama ini ternyata tumbuh subur di hati adik saya. Dia tidak terganggu atas sikap Tara. Anjani tidak merasa sakit hati dengan kalimat yang diberikan oleh kawannya yang belum lama ia kenal di bangku SMP. Hal remeh temeh inilah yang menjadi tonggak dalam menghargai perbedaan. Ya, daripada belajar langsung melalui hal-hal besar seperti cara untuk membegal para koruptor karena tidak sesuai dengan makna Pancasila atau belajar sikap patrotisme malah jadi beban, bukan sarana edukasi dalam membentuk literasi pancasila.

Menghargai perbedaan watak adalah cara untuk menyadari penuh bahwa Tuhan menciptakan berbagai macam makhluk yang harus mereka ketahui. Semoga dengan langkah-langkah kecil ini bisa dengan perlahan membangun kesadaran makna hakiki pancasila, yaitu tentang menghargai perbedaan, misalnya.

Hidup Bersama dengan Hoaks

Mengenal Apa itu Hoaks ?

Apa itu hoaks ?Hoax adalah informasi palsu, berita bohong, atau fakta yang diplintir atau direkayasa untuk tujuan lelucon hingga serius (politis).

Secara bahasa hoax (synonyms: practical joke, joke, jest, prank, trick) adalah lelucon, cerita bohong, kenakalan, olokan, membohongi, menipu, mempermainkan, memperdaya, dan memperdayakan.

Bahaya Hoaks

apa itu hoaks

Coba lihat, berapa banyak hal yang membuat kita terkejut karena ketidaktahuan kita lalu kita salah memahaminya? Coba hitung, berapa banyak berita yang lalu lalang yang membuat orang-orang berdebat padahal yang diperdebatkan tidak ada kebenarannya? Sama sekali.

Entah sudah berapa kali saya termakan hoaxs sampai saya kenyang seperti ini. Alih-alih tidak mau tahu berita di luar padahal cara saya memfilter informasi saja yang buruk. Tapi, memang benar dari saya lahir sampai saya bisa menulis ini saya tidak pernah diajarkan bagaimana caranya menyaring informasi yang benar. Saya tidak pernah diajarkan bagaimana caranya untuk mencari informasi yang akurat.

Saya, bahkan kita hanya diajarkan caranya bisa berhitung atau bisa bagaimana caranya mendapatkan nilai yang tinggi. Hanya diajarkan bagaimana mengeja suku kata sampai lancar membacanya, bukan memahaminya. Sampai orang tua akan dengan bangga menceritakan kalau putrinya sudah lancar dalam membaca. Juara untuk bisa diakui kehebatannya, bukan dalam menafsirkannya pada keberanan. Dan hal ini mengakar sampai sekarang.

Kasus Ratna Sarumpaet dengan wajahnya yang bengkak dan memar, babi ngepet yang menggemparkan masyarakat, dan masih banyak kasus hoaks lainnya yang membuat kita bersemangat untuk membicarakannya. Bahan obrolan ketika kongkow.

Tumbuh dari Mulut ke Mulut

Jika grup WhatsApp seperti grup Ronda, Arisan PKK, trah atau keluarga, dianggap menjadi salah satu sumber hoaks, saya rasa kita tidak perlu berlebihan dalam menyikapinya. Karena selama ini kita tumbuh dan beriringan dengan berita hoaks dan kita baik-baik saja sampai hari ini. Bahkan menjadi bumbu-bumbu manis dalam acara arisan ataupun bermain di rumah tetangga.

Berita tidak benar yang dengan mudah kita mempercayainyatanpa menyaringnya.

Sebagai contoh misalnya, ketika ada desas desus tetangga saya yang bercerai, di mana sang mantan istri, sebut saja Ibu Tukinem dianggap sudah tidak memiliki hak untuk tinggal di rumah mantan suamianya menyebar di ramainya tetangga yang sedang ngobrol asik. Karena berstatus sebagai mantan dan hak rumah tersebut adalah suaminya. Itu yang menyeruak di permukaan.

Ibu Tukinem menempati rumah bersama satu anaknya. Toh suaminya sudah pergi dan mempunyai keluarga baru.

Padahal Ibu Tukinem yang menyelesaikan hutang-hutang mantan suaminya. Jika tidak, rumah yang hari ini ia tempati mungkin sudah bukan milik suaminya lagi.

Lalu, orang-orang percaya dengan berita yang tumbuh dari mulut ke mulut kalau Ibu Tukinem tidak mempunyai hak atas rumah tersebut, tanpa orang-orang tahu perjuangan material apa yang telah dikeluarkannya. Menganggap bahwa keberadaannya sangat tidak pantas. Dan itu menyakitkan tanpa tahu fakta yang terjadi.

Berita, informasi, cerita mudah mengudara di tempat rewang, di warung kelontong, dan teras-teras tetangga untuk bersosialisasi padahal di tempat itulah sumber berita menyebar. Dari mulut ke mulut. Dari telinga ke telinga.

Kalau saja orang-orang tahu perjuangan apa yang telah dilakukan Ibu Tukinem. Mereka akan dengan cepat terbungkam. Kita ini, ya, lebih suka tergerus berita daripada disuapi oleh fakta.

Alih-alih merasa tidak tahu. Padahal tidak ingin mencari tahu fakta sebenarnya. Hal ini sebagai bukti bahwa kita sangat suka dengan desas desus. Dan tidak perlu juga disikapi berlebihan. Selayaknya mendengar kabar seperti biasa. Dan kita biasa-biasa saja.

Kita adalah sumber hoaks

2024 akan ada pesta rakyat. Jika nanti ada berbagai macam kabar yang muncul di notifikasi HP dari grup-grup WA biarkan saja. Toh, jika kita ingin menelan mentah-mentah pun tidak apa-apa. Karena sudah menjadi kebiasaan kita selama ini. Tidak usah terkejut.

Sudah selayaknya nanti kita merayakan kedunguan kita dalam membaca berita dengan pikiran yang logis. Sudah selayaknya juga kita merayakan betapa malasnya kita untuk menggali informasi padahal sudah jelas diberi kemudahan lewat digitalisasi. Ya, fungsi dari digitalisasi tak lain adalah menguatkan kita pada informasi yang tidak benar.

Hal ini masih akan terus relevan dengan arus informasi yang akan terus berkembang, bahkan separuh diri kita ada pada media sosial dan arus digitalisasi–bahwa hoaks adalah makanan kita sehari-hari. Dan itu berangkat dari kebiasan kita sewaktu kecil yang tidak pernah diajari dalam menyaring berbagai informasi.

Poinnya adalah berangkat dari cerita mulut ke mulut, telinga ke telinga tanpa pernah menggali informasi. Sungguh, cerita yang beredar jauh lebih menyenangkan untuk dibicarakan kehebohannya; memang benar, berita yang hanya “katanya” selalu indah untuk mengawali obrolan dan menjadi sebagai penyakit.

Penyakit itu mengakar sampai hari ini. Kalau tidak segera dicabut, akar tersebut akan semakin menjalar dan semakin kuat. Sama halnya dengan ketidakmauan kita dalam mencari tahu lebih dalam soal informasi yang beredar.

Siap-siap saja kenyang dengan infromarsi di tengah derasnya arus digitalisasi.

en_USEnglish