Author name: Ratna Syifa Nastiti

Etika Digital dan Hak Berpendapat

Etika Digital – Kalau di rumah kita diajari untuk bisa menghormati orang yang lebih tua, maka hari ini kita berdiri sebagai manusia yang tahu tata krama, meskipun tidak semuanya berhasil. Dan itu sangat manusiawi. Sukses, tidak melulu memiliki definisi berhasil, bukan?

Lalu, di bangku sekolah kita diajarkan untuk menghormati Bapak dan Ibu guru. Di pelajaran PPKn juga diajari bagaimana caranya menghargai perbedaan, contoh yang kerap disampaikan adalah apa yang harus dilakukan ketika kita memiliki perbedaan kepercayaan. Apa yang harus dilakukan ketika ada orang yang memiliki pendapat berbeda dengan kita. Dengan lantang semua siswa di kelas menjawab, “menghormatinya.” Dan itu sudah menjadi rumus pasti sampai hari ini menghargai perbedaan dan keberagaman.

Saat separuh diri kita ada pada media sosial apakah kita masih bisa menghargai keanekaragaman itu? Ataukah dengan kemudahan yang kita miliki hari ini membuat telinga kita menutup rapat-rapat perbedaan?

Sebenarnya, sesederhana; kalau tidak tahu, ya, mencari tahu dengan sumber yang kredibel atau memilih diam. Mengingat bahwa netizen Indonesia memiliki tingkat kesopanan yang rendah alias menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara.

Dua hal yang sangat kontradiktif. Sewaktu kecil belajar beretika, namun hari ini terbukti sebaliknya. Penerapan literasi digital seharusnya membuat masyarakat lebih bijak dalam mengakses teknologi, bukan main hakim sendiri. Seharusnya lebih berpikir tajam, bukan dengan asumsi tanpa bukti-bukti.

Literasi digital sendiri erat kaitannya dengan kemampuan penggunanya dalam menggunakan teknologi, tapi ada banyak hal yang dilupakan oleh pengguna, seperti bagaimana menggunakan, mencari, dan memanfaatkan teknologi dengan cerdas dan akurat. Selalu menjadi juara pertama untuk bisa membuat sebuah trending di Twitter. Tapi, tanpa itu juga, mungkin saya juga akan ketinggalan informasi.

Namun, hak sebagai manusia untuk berpendapat, saya rasa etika-etika yang sejak kecil ditanamkan dalam merespons sesuatu, kita tidak bisa memaksanya untuk bisa saling berkaitan.

Etika digital

etika digital

Setiap warga negara memiliki hak digital meliputi hak untuk mengakses, menggunakan, membuat, dan menyebarluaskan media digital. Bahkan kita bisa menjual hasil karya lewat akses digital.

Etika digital atau digital ethics adalah kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, dan menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital dalam kehidupan sehari-hari.

Hak Berpendapat

Tidak dapat dipungkiri ketika ada berita yang mencuat dengan cepat, pasti akan menjadi mangsa empuk masyarakat. Seperti hari ini, salah satu artis yang berhasil bermain di film Dua Garis Biru dituding sebagai pelakor. Sebanyak 23.4 ribu kicauan menyebut nama Arwinda di Twitter. Berbagai macam tudingan, kicauan, bullyan tertuju pada artis tersebut. Dulu dipuja-puja dalam keberhasilannya bermain film, hari ini disebut-sebut menjadi pelakor. Netizen memang maha benar.

Kalau ditelisik lebih mendalam lagi, sebenarnya apa hubungan netizen dengan pemain film tersebut sehingga mereka begitu tidak suka dengan cara mengeluarkan caciannya kepada si artis? Apakah turut merasa jengkel atas apa yang dilakukannya?

Dengan merasa memiliki hak berpendapat, saya juga akan melakukan hal demikian. Menulis apa yang ada di kepala. Menyampaikan apa yang dirasakan. Lalu, mempostingnya. Sekali lagi, di waktu situasional ketika ada berita yang menyayat hati, secara otomatis orang-orang yang mendengar atau membaca berita tersebut akan merasakan gejolak emosi. Tidak akan terlintas, apa yang harus dilakukan dalam waktu yang situasional. Tidak akan memikirkan gaya komunikasi seperti apa yang menyakiti, apalagi menyaringnya dengan bijaksana; apakah berita tersebut benar atau tidak.

Sependek itu.

Mengumpat, membully, mencomooh, atau gagasan dalam bentuj tulisan yang begitu tajam adalah sesuatu yang mengalir ketika merespons sebuah permasalahan. Dan kita sebagai manusia kerap melakukannya. Bahkan dalam peristiwa sehari-hari pun kita sering menjumpainya, misalnya ketika di jalan ada yang menyelonong menyebrang. Anda pasti sudah tahu kalimat atau sikap apa yang dilakukan saya atau kita. Itu contoh analogi yang paling sederhana.

Secara psikolog kita tidak memiliki kuasa atas diri kita karena tidak bisa mengontrol apa yang keluar dari mulut. Dan itu sangat manusiawi. Tidak hanya sampai di situ, merasa memiliki hak berpendapat sebagai manusia dan sebagai warga negara.

Jika etika digital dikaitkan dengan waktu situasional tertentu, khususnya batasan dalam menyampaikan pikiran dan perasaan saya rasa sama sekali tidak bisa dikaitkan. Terlebih, hal ini dikuatkan dengan merasa memiliki hak berpendapat.

Belum lagi jika kita diminta untuk menghargai perasaan atau sisi psikolog orang yang dituju, lalu apa gunanya untuk berpendapat? Sedangkan dalam situasional tertentu kalau memikirkan gaya berpendapat atau komunikasi yang tepat sampai tidak melukai mana bisa? Apalagi memikirkan etika dalam menyampaikan apa yang memuncak di pikirannya.

Kita ini manusia yang dengan kelebihannya bisa menyadari, mencontoh, merasionalkan diri, dan mempertimbangkan dalam berbagai hal, namun di waktu-waktu tertentu jika di luar control sehingga disebut tidak beretika dalam bermedia sosial adalah fitrah dari manusia itu sendiri. Kalau tidak pernah salah, kapan kita akan tahu bagaimana caranya beretika digital?   

Urgensi Meningkatkan Kualitas Literasi Keuangan Indonesia

Meningkatkan Kualitas Literasi Keuangan Indonesia – Di awal tahun 2022 ini, kita dihebohkan dengan kasus penipuan berkedok trading online, yang dilakukan oleh Indra Kenz, Dony Salmanan, dan beberapa influencer lainnya. Topik ini menjadi primadona di semua platform berita, dan menjadi headline dimana – mana.

Ada juga berita penipuan yang diakibatkan oleh gagal bayar koperasi Indosurya kepada nasabahnya. Pemiliknya didakwa menggelapkan dana nasabah, karena tidak membayar kewajibannya sampai batas waktu yang disepakati . Nilai kerugiannya diklaim mencapai 15 triliun.

Dan banyak berita penipuan lain dengan modus yang sama. Modusnya adalah menghimpun dana masyarakat dengan iming – iming bunga yang tinggi, namun ternyata hanya tipuan.

Kenapa banyak kasus penipuan investasi? Kenapa banyak orang ‘pintar’ yang menjadi korban ? Yuk, mari kita bahas.

Apa yang terjadi di dunia investasi bodong ?

Sederhana sebenarnya. Ada orang jahat yang ingin mendapatkan keuntungan dengan cara merugikan orang lain dalam bentuk investasi yang terlihat real, padahal bodong. Tentunya dengan narasi bisa mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari uang yang disetorkan, dan berbagai macam janji manis lainnya. Itulah investasi bodong.

Para pelaku penipuan ini menghimpun dana masyarakat, dengan pemasaran yang dikemas menggunakan bahasa persuasif yang kuat, agar mengaburkan fakta bahwa investasinya adalah penipuan.

Apakah gaya bahasa persuasif yang kuat bisa menipu orang – orang kaya, menipu orang berpendidikan tinggi? Well, faktanya iya. Lho, kok bisa?

Pelaku dan korban punya kesamaan

Orang yang melakukan tindak pidana kejahatan penipuan investasi, adalah karena mereka jahat. Penjelasan apa pun tentang mereka, hanya mengerucut kepada satu kata, yaitu jahat. Mereka dengan sadar melakukan itu. Mereka membuat konsep yang canggih untuk mengelabui nalar berpikir orang banyak. Sehingga masyarakat dengan mudahnya memberikan sejumlah uang kepada mereka.

Mereka dari awal sudah berniat jahat. Niat jahat itu muncul akibat dari keserakahan (greedy).

Lalu bagaimana dengan korbannya?

Banyak masyarakat yang menjadi korban penipuan investasi ini. Nominal kerugiannya pun triliunan. Tidak sedikit yang berhutang agar bisa ikut berinvestasi. Bahkan ada yang sampai bunuh diri karena terlilit hutang miliaran. Turut berduka cita untuk para korban penipuan investasi.

Mimpi yang terlalu indah

Apakah bisa kaya raya dalam waktu singkat? Secara teori bisa saja. Tapi siapa contohnya? Indra Kenz? Dony Salmanan? Indosurya? Mereka adalah penipu. Mereka kaya raya dalam waktu singkat karena berhasil menipu.

Kita pasti berempati dengan korban penipuan investasi ini. Tapi kalau kita mau berdiam diri sejenak,  merenung, lalu meneliti satu per satu penyebabnya, kita akan menemukan satu kesamaan pelaku dan korban penipuan investasi ini. Yaitu serakah.

Bedanya, pelaku penipuan serakah karena jahat. Sedangkan korban menjadi serakah karena tidak mau belajar, tidak mau bekerja keras untuk mencapai kemakmuran. Tidak paham investasi, tapi ikut investasi. Tidak paham trading, tapi ikut trading. Para korban penipuan ini ingin kaya dengan hasil instant.

Dan yang paling aneh. Di antara korban ada yang paham trading, tapi bisa tertipu juga. Kenapa? Karena serakah. Miris sekali.

Janji Manis = Tanda Tanya

“Tak kenal maka tak sayang”

Di Indonesia, sebuah pernikahan lazimnya didahului dengan sebuah hubungan yang disebut dengan pacaran. Dalam perjalanan pacaran itu, harapannya adalah pria dan wanita saling mengenal terlebih dahulu, sebelum melanjutkan ke pernikahan. Tujuannnya agar saling kenal watak, karakter, kapasitas,dan kapabilitas terlebih dahulu.

Di dunia investasi trading pun demikian. Banyak bersliweran di media social, grup Whatsapp, bahkan sms, yang menawarkan solusi ‘cepat kaya’. Di sinilah titik awal banyak yang terjebak ‘janji manis’ para penipu ini.

Agar tidak menjadi korban, masyarakat harus mengaktifkan ‘antena’ nalar di kepala masing – masing. Luangkan waktu, dan tenaga untuk meneliti kebenaran informasi yang dibaca. Informasi itu, harus masuk akal.

Masyarakat harus memilik metrics dasar untuk menilai sebuah informasi investasi, misalnya :

  1. Apakah ini resmi?
  2. Apakah terdaftar di Bappeti?
  3. Apakah terdaftar di OJK?
  4. Kantornya dimana?
  5. Pemiliknya siapa?

Dan banyak pertanyaan lainnya yang bisa dijadikan filter awal untuk mengenal sebuah produk investasi. Jika sudah tahu meragukan, masyarakat tentu tidak akan menjadi korban.

Investasi adalah instrument keuangan yang beresiko

Tahun 1998, terjadi krisis moneter di banyak negara, salah satunya Indonesia. Peristiwa itu menghancurkan perekonomian negara Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah investasi yang dikelola dengan baik, bangkrut karena nilai tukar Rupiah yang turun drastis terhadap Dollar Amerika.

Investasi yang dilakukan dengan benar, dan penuh kehati – hatian sekali pun, masih bisa mengalami kerugian. Inilah yang disebut dengan resiko. Investasi itu memiliki resiko.

Masyarakat yang ingin mencari rejeki dari investasi maupun trading, harus meneliti sedetail mungkin kemungkinan untung – rugi berinvestasi di sebuah instrument keuangan.

Sebelum memiliki kemampuan untuk meneliti resiko sebuah investasi, masyarakat harus memiliki pengetahuan dasar tentang investasi. Misalnya, jenis – jenis investasi, jenis – jenis instrument keuangan, peraturan di Indonesia terkait, dan banyak hal lainnya yang harus dipelajari sebelum melakukan investasi dan trading.

Butuh waktu untuk mempelajari sesuatu yang baru. Termasuk investasi dan trading.

Faktor psikologis sangat menentukan

Situasi kejiwaan setiap orang pasti berbeda. Faktor psikologis yang tidak stabil membuat banyak yang terpancing, dan akhirnya menjadi korban. Di sinilah tantangannya. Masyarakat harus memiliki psikologis yang stabil terhadap informasi produk.

Jika memiliki psikologis yang stabil, masyarakat dengan mudah memfilter mana informasi yang sesat, dan mana informasi yang benar. Sesuatu yang ‘terlalu indah untuk jadi kenyataan’, harus menciptakan tanda tanya besar di nalar masyarakat.

Masyarakat tidak lagi menilai ‘bungkus’ figur yang menawarkan sebuah produk. Masyarakat harus berani menilai produk itu sendiri. Mengetahui asal – usulnya saja, sudah memberikan 50% informasi yang sangat penting sebelum berinvestasi atau trading.

Filter awal memang sesederhana itu.

Belajar literasi keuangan Indonesia

Selanjutnya masyarakat bisa menggali legalitasnya, lokasinya, dan informasi lainnya. Kuncinya adalah ketenangan batin. Ketenangan batin, atau psikologis yang stabil adalah kunci untuk anti penipuan investasi. Mari bersama – sama merenungkannya.

Dua pertanyaan berikut bisa menjadi penutup yang baik untuk kita semua. Yang pertama, apakah ada jalan lain untuk kaya selain investasi,dan trading online? Tentu ada. Dan banyak sekali alternatif lainnya. Lalu yang kedua, kenapa harus kaya? Menjadi kaya tidak salah. Dengan harta berlimpah, kita bisa membantu banyak orang. Yang penting punya mentalitas yang kuat, siap manakala investasi atau trading sedang mengalami penurunan. Juga berani untuk mengukur kemampuan diri. Jika belum siap, belum punya pengetahuan, dan ilmu yang cukup, maka harus mempersiapkan diri dengan banyak belajar.

Mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, memberikan ketenangan, dan kedamaian. Jika sudah memiliki keduanya, artinya masyarakat sudah siap melakukan investasi atau trading. Jika masih belum tenang, masih belum berhati damai, itu pertanda alias suara Tuhan untuk menunda, atau tidak berinvestasi sama sekali.

Tidak semua orang mampu berbisnis. Ada yang hanya bisa bekerja untuk orang lain. Bisnis bisa membuat orang menjadi kaya. Bekerja juga bisa membuat orang jadi kaya. Keduanya sama saja. Kenali kemampuan diri, dan miliki mentalitas yang kuat sebelum terjun di bidang investasi.

Referensi tempat belajar literasi keuangan :

Belum Paham Literasi Bisnis, kok Mau Mulai Startup

Paham Literasi Bisnis, sebelum Membuat Startup – Sifat manusia yang merasa paling tahu adalah boomerang bagi dirinya sendiri. Mengambil keputusan gegabah tanpa berpikir panjang, akibat apa yang dialami jika tidak memiliki bekal yang cukup.

Seperti tren hari ini. Munculnya kedai kopi di mana-mana digadang-gadang menjadi napas segar pertumbuhan ekonomi dari dunia bisnis. Hingga di pojok-pojok desa yang tersembunyi pun mulai tergerak untuk membuat tempat kongkow dengan menu hidangan masakan desa dan pemandangan alam. Hal ini, menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat kota untuk segera datang menikmati akhir pekan.

Pemandangan yang juga tak kalah menarik adalah munculnya ­startup di tengah badai pandemi yang bisa memberi angin segar bagi pertumbuhan lahan bisnis baru. Meskipun kita harus mengakui juga pandemi membuat sebagian dari kita kehilangan pekerjaannya. Perkembangan startup pun semakin hari semakin meningkat di Indonesia. Ada ribuan perusahaan rintisan yang mulai bergerak bahkan ada beberapa yang mendulang kesukseskan di tingkat Internasional, Go-Jek, Traveloka, Kaskus, dan masih banyak lagi.

Dengan melihat peluang yang ada, seperti tren kedai atau kafe yang merebak, tren fashion yang tidak akan pernah lekang, tren kecantikan yang akan terus dibutuhkan, tren digital marketing yang akan terus dicari, atau peluang lainnya, lalu apakah orang-orang yang merintis bisnis tersebut benar-benar melek literasi keuangan? Atau hanya mengikuti tren saja? Tapi, lagi-lagi cerita kesuksesan stratup menjadi uncorn atau decacorn memang selalu menarik untuk disimak tanpa tahu alasan kenapa bisnis mereka bisa gagal dalam waktu singkat.

Sederhananya, kalau belum bisa mengurusi diri tidak perlu mengurusi orang lain. Sama halnya dengan saat belum tahu bagaimana mengelola perencanaan keuangan pribadi kenapa harus berkutat pada lingkup yang lebih luas dengan cara memulai startup. Bukan soal diri sendiri, tapi kelangsungan hidup orang lain. Bayangkan jika karyawan tersebut memutuskan bekerja dengan Anda, mmenggantungkan hidupnya pada bisnis yang Anda rencanakan, tapi pada kenyataannya bisnis tersebut gagal. Lalu, siapa yang menanggung hidup mereka? Itulah bisnis, tidak ada yang pasti. Konyol jika Anda sebagai pelaku bisnis mengatakan demikian.

Sudahkah mempunyai modal literasi keuangan? Sudahkan mempunyai modal literasi bisnis? Pertanyaan sederhana namun memiliki makna besar.

Paham Literasi Bisnis dengan Melakukan riset pasar

paham literasi bisnis

Sebelum memulai bisnis, cari tahu terlebih dulu passion kita. Setelah itu lakukan analisis dalam hal potensial dan competitor usaha. Dua unsur tersebut menjadi modal awal untuk melangkah dalam meraup laba.

Dengan mengetahui pesaing usaha, Anda bisa bersiap lebih awal. Jika di daerah Anda sudah banyak orang yang melakukan rintisan bisnis yang sama, Anda bisa mengganti projek, model, atau ciri khas bisnis apa yang akan dikerjakan. Hal ini bisa menjadi pesaing usaha Anda secara ketat.

Setelah itu ketahui target pasar, pengusaha tidak tahu bagaimana harus melangkah. Hal ini merupakan strategi yang harus dipikirkan. Jangan sampai hanya ide yang berkembang, tapi tidak bisa terealisasikan. Dengan cara ini pengusaha akan tahu target konsumen yang harus dibidik siapa saja, atau jika usaha tersebut menggunakan googleads  akan memberi kemudahan dalam mengeksekusinya.

Lalu, apakah bisnis yang akan dijalankan bisa bertahan lama atau tidak? Inilah pentingnya untuk melihat peluang dalam jangka panjang atau pendek. Jika bisnis tersebut hanya musiman, barangtentu bisnis tersebut akan dengan cepat menghilang dari permukaan. Untuk mencari peluang usaha tersebut, Anda bisa mencari tahu kebutuhan konsumen, hal ini bisa dilihat dari pekerjaan, kebiasaan, atau kesenangan mereka.

Persiapan modal

Hal yang tidak kalah penting adalah modal. Bagaimana bisa melakukan usaha kalau tidak mempunyai modal? Modal berbisnis digunakan untuk menyiapkan fasilitas bisnis yang aman, nyaman dalam langkah operasionalnya, baik dari finansial ataupun sumber daya manusianya.

Bayangkan jika bisnis tersebut tidak memiliki modal; Untuk membeli papan tulis yang digunakan presentasi sederhana menggunakan apa? Untuk bisa mengoperasikan bagian IT guna proses publikasi, siapa yang menjalankan? Inventaris perusahaan bukan sekadar barang yang bisa digunakan saja, melainkan kunci dari jalan atau tidaknya perusahaan. Analoginya, jika ingin bepergian kalau tidak ada kendaraannya tidak akan sampai di tujuan.

Modal lain juga ada pada sumber daya manusianya. Kalaupun ada inventaris perusahaan, namun tidak ada yang menjalankan sama saja. Artinya, mencari sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya juga perlu dipikirkan. Dua hal yang harus seimbang yakni ada driver dan alat transportasi yang harus ada.

Apa Itu Tekfin ?

Para pelaku usaha pasti tahu apa itu tekfin ? Mungkin juga menjadi penyelamat ketika membangun bisnis. Memang benar, bidang-bidang pada bisnis perlu diketahui. Hal ini bisa membantu perusahaan untuk berkembang. Menjadi penopang saat kondisi menurun. Menjadi penyelamat dalam kondisi darurat, seperti Tekfin (Teknologi Finansial).

Bahkan, tekfin ini bisa menjadi udara segar bagi mereka yang ingin membangun bisnis tapi hanya memiliki modal pas-pasan atau tidak memiliki modal sama sekali. Dengan kata lain calon pebisnis bisa meminjam uang sebagai modal usahanya kepada tekfin.

Berdasarkan Pasal 1 angka 1 PBI Tekfin, teknologi finansial adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem.

Tekfin itu sendiri berasal dari istilah Financial Technology atau teknologi finansial. Menurut The National Digital Research Centre (NDRC), Tekfin merupakan suatu inovasi pada sektor finansial. Tentunya, inovasi finansial ini mendapat sentuhan teknologi modern. Keberadaan Tekfin dapat mendatangkan proses transaksi keuangan yang lebih praktis dan aman (Chrismastianto, 2017).

Seperti Apa Cara Kerja Tekfin?

apa itu tekfin

Hmm. Saya takut kalau tekfin ini abal-abal, kak? Tenang.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyadari pentingnya dukungan regulasi di bidang tekfin. Bentuk dukungan OJK ini antara lain terlihat dengan penerbitan POJK 77/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (LPMUBTI) pada tanggal 28 Desember 2016. Regulasi ini diterbitkan sebagai bentuk antisipasi terhadap pesatnya penambahan jumlah perusahaan penyedia LPMUBTI atau fintech peer-to-peer lending dari 51 perusahaan pada awal 2016 menjadi 135 perusahaan pada akhir tahun 2016.

POJK 77/2016 ini antara lain menetapkan kewajiban bagi para penyedia LPMUBTI untuk mendaftar dan mendapat izin dari OJK, menyediakan rekening bersama (escrow account) dan rekening virtual (virtual account) di perbankan, serta menempatkan pusat data (data center) di dalam negeri. Kewajiban-kewajiban tersebut melindungi kepentingan konsumen terkait keamanan dana dan data, serta kepentingan nasional terkait pencegahan pencucian uang, pendanaan terorisme, dan stabilitas sistem keuangan.

Tidak perlu takut dengan layanan tekfin. Bukan pinjaman online yang bisa merusak mental Anda dan orang-orang sekitar, tapi sudah diatur dalam sebuah pasal.

Tips Memilih Tekfin

Pertama, Tekfin P2P (lending) akan mempertemukan pemberi pinjaman dengan peminjam yang diperantarai perusahaan. Sedangkan bunga pinjaman atau imbal hasil yang bisa diterima pemberi pinjaman berkisar 12 persen sampai dengan 20 persen per tahun.

Bunga tersebut bisa besar karena peminjam adalah mereka yang sebelumnya tidak bisa mengakses pendanaan perbankan tidak memenuhi persyaratan bank. Tidak perlu khawatir, sistemnya memang seperti ini, yakni kalangan duni usaha porduktif sehingga mereka punya kemampuan untuk membayar pinjaman modal usaha yang telah diberikan.

Kedua, pastikan perusahaan atau entitas tekfin itu legas alias resmi yang terdaftar di OJK. Caranya adalah dengan mengecek perusahaan tersebut di daftar perusahaan tekfin resmi yang terdaftar di situs resmi OJK, yaitu www.ojk.go.id dan situs resmi AFPI, www.afpi.or.id atau bisa juga buka di www.cekfintech.id/.

Intinya jangan menyentuh yang illegal alias tidak diawasi oleh OJK. Harus cermat, perusahaan apa saja yang terdaftar resmi di situs OJK. Inilah pentingnya melek dunia bisnis.

Ketiga, calon investor harus mempelajari mekanisme, cara kerja, potensi risiko, serta imbal hasil ketika menjadi pemberi pinjaman. Bagian ini sebenarnya masuk ke dalam imbal hasil yang tinggi, namun juga diiringi risiko yang tinggi juga, misalnya harus paham betul bahawa dan hadiah yang diberikan. Sehingga tidak salah dalam menempatkan uang tanpa mengetahui tempatnya.

Keempat, yang perlu diperhatikan adalah berinvestasilah dengan memberikan pinjaman kepada peminjam yang berkecimpung di sektor yang Anda pahami seluk-beluknya. Karena ada 121 perusahaan tekfin yang saat ini menjadi penyambung yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari pertanian, perikanan, e-dagang, hingga manufaktur.

Jika Anda ingin melihat perusahaan tekfin tersebut bagus atau tidak. Ada dua idikator untuk melihat kinerja perusahaan tekfin yaitu melihat persentase dari TKB90  dan TWP90. Adapun TWP 90 merupakan akronim dari tingkat wanprestasi 90 hari atau ukuran tingkat wanprestasi atau kelalaian penyelesaian kewajiban yang tertera dalam perjanjian sampai dengan 90 hari sejak tanggal jatuh tempo. Semakin kecil TWP,  semakin bagus kinerja perusahaan itu. Nilai TKB90 jika ditambah TWP90 harus genap 100 persen. Atau Anda juga bisa mencari tahu di internet melalui testimony-testimoni.

Buat Apa Bermedia Sosial kalau Tidak Menerapkan Literasi Digital?

Menerapkan Literasi Digital – Hari ini, pengguna internet di Indonesia mencapai 202.6 juta, di mana 170 juta penggunanya menggunakan media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 61.9 persen dari total jumlah populasi yang ada. Sungguh menjadi PR bagi kita semua untuk bisa memastikan masyarakat bisa melek dengan literasi digital.

Terhitung bahwa Kominfo mencatat 5.829 hoaks seputar Covid-19 beredar di media sosial, dengan temuan isu mencapai 2.171 konten per 17 April 2022. Belum lagi dengan topik berita yang lain. Hal ini menunjukkan betapa mirisnya media sosial menjadi jembatan untuk meyebarkan hoaks. Sialnya, sebagian besar dari kita menelan mentah-mentah berita yang beredar.

Ditambah lagi dengan merebaknya situs media online yang digadang-gadang bisa membantu masyarakat untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan, sialnya lagi malah menambah kedunguan. Ternyata, dari 43.300 situs berita, hanya ada 85 situs yang terverifikasi faktual dan 169 situs yang terverifikasi administratif (Dewam Pers, 2020). Sudah jatuh tertimpa tangga, lagi-lagi masyarakat juga tidak tahu apa yang mereka akses.

Saya berpikir, kenapa media sosial tidak dikhususkan untuk ajang pamer saja? Agar orang-orang terus berlomba-lomba menampakkan kemewahannya, pencapaiannya, lalu membuat yang lainnya semakin membencinya.

Bayangkan jika setiap hari linimasa dipenuhi foto makanan mewah, liburan mewah, postingan cerita liburan di hotel berbintang, cerita berapa banyak bonus yang diperoleh di bulan tersebut, atau tawaran kenaikan jabatan. Pasti tidak ada orang yang ngomel sebab barang palsu yang ia beli karena ia termakan iklan palsu yang ternyata hoaks, pasti tidak ada laporan-laporan kriminalitas atau pelecehan verbal karena media sosial, dan berbagai macam jenis ancaman bermedia lainnya.

Sungguh, akan menjadi pemandangan baru yang setiap hari akan dinantikan orang-orang. Tidak bisa berwisata mahal, tapi setidaknya berwisata secara visual. Bukankah masyarakat itu suka dengan hal-hal yang bersifat kesenangan? Dan ya, memang benar. Buktinya masyarakat tidak mau berusaha untuk mencari validitas dari berita yang beredar.

Lalu, untuk apa bermedia sosial kalau tidak menerapkan literasi digital?

Padahal jika seseorang bisa memanfaatkan media sosial dengan bijak dan beretika saat bermedia sosial, maka akan  banyak manfaat yang didapatkan. Bisa mengedukasi, bukan menimbulkan desas desus sana sini.

Bijak berinternet

literasi digital

Fitur-fitur di media sosial memang menyilaukan; bisa membuat wajah cantik tanpa jerawat, bisa mewakili perasaan kita tanpa harus menuliskannya panjang lebar, bisa memudahkan untuk bertemu teman kencan baru, dan sebagai ajang tempat curhat, khususnya bagi Anda yang merasa tidak mempunyai teman.

Dengan kemudahan yang ada, dengan cepat kita bisa mencurahkan segala perasaan yang ada, patah hati, misalnya. Curhatan tersebut akan dijangkau oleh banyak orang. Mereka akan tahu apa yang sedang kamu rasakan. Dan, jika tidak beruntung kamu akan bertemu dengan orang yang katanya bersimpati atas patah hati yang sedang dirasakan, padahal itu sebagai jalan untuk mendapatkan mangsa baru.

Lihat, sudah berapa kasus pelecehan seksual baik verbal dan nonverbal yang terjadi karena berkenalan lewat media sosial? Atau kasus penipuan? Tak terhingga.

Disampaikan oleh Panji Gentura, seorang ahli dari Project Manager PT WestmooreTech Indonesia bahwa batasan saat curhat di media sosial itu penting, apalagi sesi curhat kita sangat dinanti-nanti oleh para pebisnis. Mereka akan tahu apa yang kita butuhkan, dan siap-siap saja menjadi calon target pasaran atau iklan. Bukan hanya itu, jangan tersambung dengan WiFi publik karena sangat berbahaya. Dengan mudah mereka akan mengakses data kita.

Karenanya, memberi batasan tertentu saat bermedia sosial menjadi kunci utama dalam keselamatan. Keras, keraslah pada diri sendiri.

Jangan tunduk pada algoritma

Yuval Noah Harari, sejarawan dunia memiliki pandangan bahwa era revolusi teknologi informasi yang ditandai dengan berkembangnya kecerdasan buatan bahkan bisa melahirkan kediktatoran digital. Dan hari ini, kita mungkin menjadi salah satu orang yang lahir dari kediktatoran digital tersebut. Menjadi budak digital yang tidak bisa tunduk pada percepatan arus yang edukatif dan positif.

Sama halnya dengan algoritma yang kita temui di media sosial. Tanpa disadari, sebenarnya kita sedang melakukan berdasarkan algoritma, sebagai contoh misalnya saat memasak mie instan. Dari proses membuka kemasan sampai menjadi mie yang siap disantap itu merupakan contoh algoritma Flowchart. Itu contoh yang paling sederhana.

Berbeda jika mesin algoritma yang menyambar laman media sosial kita bukan sesuatu yang relevan bagi kita, bisa-bisa menjadi masalah baru. Misalnya yang terjadi di Facebook. Jika seseorang berinteraksi aktif seperti meninggalkan komentar atau membagikan konten dengan beberapa kali link tersebut diklik. Konten tersebut akan ditampilkan oleh Facebook.

Hal ini, seperti kita sering membicarakan produk skincare, pakaian, makanan, atau bahkan kelas-kelas online. Karenanya jangan sampai tunduk pada sesuatu yang tidak relevan dengan kita. Jika beruntung akan mendapatkan manfaat, jika tidak bisa rugi.

Hanya karena algoritma produk kecantikan, lalu muncul di beranda Facebook dengan berbagai iming-iming harga yang miring, kulit wajah bisa putih bersih hanya dengan dua kali pemakaian, dan iming-iming lainnya. Menyaring yang dibutuhkan jauh lebih penting daripada sekadar iming-imingan murahan.

en_USEnglish