belajar literasi keuangan

Seberapa Pentingkah Belajar Literasi Keuangan ?

Seberapa Penting Belajar Literasi Keuangan – Saat ini ketika roda transaksi keuangan bisa dilakukan dengan cepat, orang-orang berbondong-bondong melakukan jual beli secara online. Apalagi jika ada diskon besar-besaran, mereka bisa menahan kantuk tengah malam hanya untuk bisa mendapatkan promo harga yang tidak main-main.

Hal ini terbukti bahwa 74.5% konsumen lebih suka berbelanja secara online daripada offline. Data ini semakin kuat bahwa bisnis ­e-commerce di Inonesia juga menunjukkan angka peningkatannya. Tercatat nilai transaksi e-commerce pada Februari 2022 mencapai Rp 30,8 triliun, tumbuh sekitar 12 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp 27,3 triliun.

Pentingnya Belajar Literasi Keuangan

Tapi, permasalahan level dalam berliterasi memang masih rendah, belum menunjukkan tanda-tanda significan yang berarti dalam pertumbuhan literasi keuangan. Hal ini menjadi salah satu kekhawatiran pemerintah dalam proses perbaikan secara ekonomi. Semua lapisan yang ada tentu tidak mau kasus investasi bodong terjadi untuk kedua kalianya, kasus pinjam uang illegal yang merugikan banyak orang terulang lagi, bahkan sebagai negara berkembang pemerintah terus mengupayakan celah-celah kehidupan yang lebih baik. Tidak adanya lagi pelonjakan harga-harrga kebutuhan pokok, misalnya.

Yang kita tahu masyarakat cenderung bersifat konsumtif. Bisa memamerkan kemewahan adalah sebuah privilege. Kalau saja masyarakat bisa lebih mendalam lagi dalam berpikir, saya rasa mereka tidak akan konsumtif dalam membelanjakan uangnya. Kalau saja masyrakat bisa lebih peka lagi dalam memerhatikan kondisi negara-negara berkembang lain dengan adanya krisis ekonomi yang berkelanjutan. Saya rasa mereka akan jauh lebih pelit alias lebih berhemat.

Saat ini, kemampuan literasi keuangan digital bukan sekadar kebutuhan, melainkan telah menjadi gaya hidup di era Revolusi Industri 4.0. Sekali lagi, itu menjadi mimpi indah di siang bolong.

Jika lembaga-lembaga penting mengobarkan semangat literasi keuangan melalui webinar atau workshop di hotel mewah bisa mengoptimalkan edukasi secara langsung, lalu bagaimana dengan masyarakat yang tidak bisa terjangkau oleh para lembaga terkait? Sedangkan hasil survey literasi keungan yang dilakukan oelh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2019 menunjukkan indeks sebesar 38.03%. Artinya, dari sekitar 285 juta penduduk Indonesia, baru sekitar 108 juta orang yang sudah melek keuangan. Bisa dihitung sendiri  berapa banyak masyarakat yang belum melek literasi keuangan.

Karenanya, kemampuan dalam mengelola uang atau literasi keuangan yang dipadukan dengan kemampuan literasi digital menjadi pondasi awal dalam menghadapi seiktor keuangan digitalisasi. Kalau aja, ya, masyarakat tahu pentingnya melek literasi keuangan. Berikut ini lima alasan pentingnya literasi keuangan di tengah digitalisasi.

  1. Belajar Literasi keuangan adalah investasi jangka panjang

Ketidakmampuan diri dalam melek literasi keuangan bisa berakibat fatal dengan sukses tidaknya pengelolaan dalam jangka pendek dan panjang. Analoginya, jika ingin bepergian jauh tidak memiliki bekal yang cukup, barangkali kita tidak bisa sampai di tujuan.

Sama halnya dengan bekal keuangan yang bisa dilakukan, dicari, digali, dan dipelajari sejak dini bisa menjadi solusi ketika menumui kesulitan di tengah jalan soal keuagan. Menyiapkan bekal jauh lebih baik daripada bepergian tanpa membawa apa-apa.

  • Belajar Literasi keuangan memengaruhi pengelolaan finansial

Bayangkan jika setiap gaji yang didapatkan setiap bulannya hanya digunakan untuk kebutuhan konsumtif saja, berapa banyak penyesalan yang akan terjadi kalau sudah tahu akibatnya? Memang benar, kalau belum pernah mengalami atau merasakanya langsung belum bisa memahami dan mengerti dengan baik.

Kalau perencanaan keuangan tidak jelas, uang bisa habis dengan sia-sia. Keinginan bisa terpenuhi, tapi kebutuhan carut marut sana sini.

  • Dapat memilih strategi dan keputusan keuangan dengan tepat

Dengan memiliki literasi keuangan yang baik, kita bisa lebih bijak dalam mengelola uang. Dengan kesadaran penuh bahwa masing-masing kita memiliki tingkat prioritas yang berbeda. Jika kebutuhan pokok seperti perut dan papan bisa terpenuhi, sisanya kita bisa menyesuaikan dengan porsinya masing-masing, entah setoran wajib setiap bulan atau kebutuhan mendesak lainnya.

  • Dapat memengaruhi pertumbuhan finansial keluarga

Jika Anda  belum berkelurga sedangkan di sub pembahasan ini membahas finansial keluarga, hal itu sama saja. Hal ini juga berpengaru pada bagaimana Anda berpikir atau mengelola keuangan nantinya. Bukankah hal besar itu dimulai dari hal-hal kecil yang kita biasakan.

Kondisi ini sangat berlaku untuk kesejahteraan keluarga nantinya. Bagaimana bisa mengatur keluar masuknya uang menjadi modal awal untuk bisa hidup dengan “aman” selama satu bulan. Kenapa satu bulan? Contoh ini sangat relevan dengan gaji yang diterima setiap bulannya. Melihat dari contoh sederhana ini bisa menjadi tolok ukur bagaimana bisa meningkatkan saving setiap bulannya.

Misalnya, bulan Januari jumlah pengeluaran jauh dari rencana awal. Setelah dicek, ternyata ada beberapa pengeluaran yang tidak begitu penting. Hal ini, bisa menjadi evaluasi bulan selanjutnya untuk bisa lebih baik dalam mengatur strategi lagi.

Jangan disepelakan lagi dalam mengatur keluar masukanya uang. Sesederhana, tetap bisa makan enak tanpa biaya mahal. Begitulah kira-kira, tetap bisa menikmati hidup tanpa harus konsumtif.

Spread the love

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish