Literasi Pancasila di Tengah Majunya Peradaban

Literasi Pancasila di Tengah Majunya Peradaban – Saat 1 Juni 2017 ditetapkan menjadi hari lahir Pancasila pada saat itu juga bangsa Indonesia menaruh harapan besar pada warga negaranya bahwa momen tersebut bukan hanya ajang seremonial belaka, tapi sebagai refleksi setiap tahunnya apakah benar masing-masing kita ini sudah mengilhami pancasila atau belum. Apakah nilai-nilai Pancasila sudah menjelma ke dalam diri kita atau belum? Sebuah upaya kecil, namun tetap menjadi PR besar.

literasi pancasila
literasi Pancasila

Kalau berjalan mundur ke balakang, pada masa orde baru dilakukan Program Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P4) yang bertujuan untuk membumikan nilai-nilai Pancasila. Namun, pada praktiknya usaha tersebut malah dijadikan sebagai propaganda penguasa. Hingga akhirnya, P4 dibubarkan pasca runtuhnya rezim baru. Pada saat itu juga, Pancasila seakan tidak pernah pernah untuk dibahas yang akibatnya nilai-nilai Pancasila semakin jauh dari bangsa Indonesia.

Entah permainan apa yang coba dijalankan pada masa itu, padahal Pancasila adalah falsafah negara—sebagai pedoman dan pegangan hidup dalam bersikap, bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari dan bernegara.

Apakah selamanya Pancasila hanya menjadi pajangan dinding kelas atau kantor-kantor pejabat saja? Dan apakah hanya dilafalkan setiap hari upacara saja? Tentu tidak. Pancasila diharapkan bisa mendarah daging dalam tingkah laku manusia. Pancasila diharapkan bisa menjadi hembusan napas setiap saatnya agar tujuan kehidupan bernegara bisa terwujud.

Hingar Bingar Kehidupan Peradaban

Pendidikan karakter selalu berlari pada pondasi agama dan Pancasila, maka bisa dilihat pelajaran Pendidikan Agama Islam dan PPKn menjadi pilar penting dalam proses pembelajaran. Namun, tak bisa dipungkiri juga bahwa hari ini kita berdampingan dengan arus digitalisasi yang begitu deras menyebabkan banyaknya informasi yang kita telan tanpa tahu output yang didapatkan berbentuk apa.

Bukan hanya itu, modernisasi ini membuat kita juga menjadi manusia yang tamak. Kita beromba-lomba untuk bisa se-idealis, tapi ternyata malah menganut kapitalis. Kita berlomba untuk menyuarakan pendapat, tapi malah membuat sekat antar masyarakat. Karena apa? Karena kita bertindak tanpa mengikuti peta yang kita sebut sebagai Pancasila.

Saya yakin jika semua berporos pada Pancasila tidak akan ada yang namanya perpecahan hanya karena tetangga tidak berangkat kerjabakti. Tidak ada yang saling memblokir kontak HP karena perbedaan pilihan saat Pemilu. Dan contoh-contoh nyata di depan mata lainnya yang menunjukkan kalau dalam diri kita masih menjunjung tinggi egoism bukan Pancasila.

Lima sila Pancasila menjadi konsep untuk bertahan di tengah gempuran globalisai, hingar bingar kehidupan yang tidak pasti, dan di tengah perlombaan yang ingin menunjukkan bahwa dia hebat karena bisa bebas tidak terjerat pada nilai-nilai Pancasila. Semoga, ya, yang menjelma pada diri kita ini semangat untuk bisa meniru kemajuan bangsa lain, bukan seperti paham radikalisme yang masih ada di sela-sela kita.

Literasi Pancasila melalui Tiga Pendekatan

Berbagai macam usaha dan upaya dilakukan agar nilai-nilai Pancasila bisa hidup dan menghidupi warga negara dalam bertindak dan bertunduk. Dari lapisan terkecil pun juga turut membantu bagaimana agar literasi Pancasila bisa terwujud dengan cepat dan tepat guna menguatkan akar nasionalisme.

Tak lain hal ini bisa dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui TSM (Terstruktur, Sitemik, Masif) secara konkrit, bukan hanya melafalkan pada hari-hari besar saja. Yakni dengan pendekatan Kelembagaan, Sistem, dan Fungsional.

Pendekatan kelembagaan dilakukan dengan melibatkan lembaga pemerintah, kemasyarakatan, keagamaan, partai politik, dan kepemudaan dalam lingkup formal ataupun informal. Misalnya, pentas seni dan budaya yang diadakan oleh kepemudaan Karangtaruna. Anak-anak muda masih bisa menikmati kebebasn berekspersi tanpa takut kehilangan nilai Pancasila yang sengaja ditampilkan melalui kegiatan tersebut.

Sedangkan pendekatan sistem dilakukan dengan memasukkan nilai-nilai Pancasila dalam sistem berbangsa dan bernegara. Yakni dengan memasukkan nilai-nilai Pancasila dalam sistem Pendidikan sekolah formal, sistem rekruitmen dan pengembangan SDM ASN, TNI/Polri, BUMN, sistem pengkaderan pada partai politik dan kepemudaan.

Selanjutnya pendekatan fungsional bisa dilakukan dengan memaksimalkan sarana prasarana, teknologi informasi, media massa, media sosial. Hal ini jelas bisa dilakukan oleh siapa saja. dengan hanya memosting cerita-cerita sederhana yang merangkum nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari menjadi langkah mudah untuk membagikan cara berliterasi Pancasila. Lalu, dengan banyaknya wadah yang bisa menampung pikiran kita di media massa, khususnya media online juga mendukung upaya kita untuk bisa mengedukasi siapa saja bahwa literasi pancasila adalah hal yang sifatnya wajib untuk dikuatkan.

Rendahnya pemahaman nilai-nilai Pancasila menjadi perhatian besar semua pihak. Apalagi dengan banyaknya kasus yang tidak senonoh yang menghina Pancasila yang saya tidak habis pikir bisa dijadikan sebagai Duta Pancasila. Entah logika apa yang berjalan, yang jelas rasionalisasi saya tidak bisa menangkap bias politik yang disuguhkan.

Semoga,ya, langkah-langkah kecil tadi bisa membantu dalam terus meningkatkan literasi pancasila kita dalam kehidupan bernegara.

Spread the love

Leave a Comment

Your email address will not be published.

en_USEnglish