Lewat Gutu Kesadaran Diri, Mari Suarakan Literasi Keberagaman Bersama

Literasi Keberagaman – Saat media digital digadang-gadang menjadi jembatan untuk menyuarakan isi kepala. Pada saat itu juga lapisan paling mendasar, yakni sekolah seharusnya juga bisa menguatkan toleransi di tengah perbedaan sana sini. Kemajemukan yang ada menjadi tombak bahwa keberagaman inilah yang seharusnya bisa merekatkan yang jauh. Melunakkan kerasnya idealisme—dengan menyadari penuh bahwa toleransi adalah soal tidak setuju atau tidak sepaham, namun tetap bisa menghargai.

literasi keberagaman
literasi keberagaman

Miris, jika sekolah memiliki harapan besar sebagai penyambung lidah untuk bisa turut menguatkan akar toleransi, tapi malah menunjukkan kebobrokannya dengan keputusan yang memalukan. Bagaimana bisa oknum guru memaksa sisiwinya untuk menggunakan jilbab. Hingga sampai hari ini siswi tersebut trauma, bahkan depresi. Hari ini kasus yang terjadi di salah satu sekolah di Bnguntapan, Bantul, Yogyakarta ini masih dalam proses penyidikan. Namun, yang perlu digaris bawahi jika memang para oknum tersebut secara paksa melakukannya, sungguh sebagai kejadian memalukan.

Atau memang benar sifat dasar manusia demikian: keras terhadap orang lain, tapi tidak bisa keras dengan diri sendiri? Maksud saya adalah kenapa bisa memaksa suatu hal pada orang lain, tapi tidak bisa memaksa diri sendiri untuk bisa melakukan suatu tindakan yang membuat hidup lebih baik, misalnya.

Keberagaman juga diharapkan mampu mentransformasikan nilai-nilai toleransi, perdamaian, penghargaan serta keterampilan jurnalistik kepada komunitas sekolah dan masyarakat.

Sejak SD kita dibekali dengan nilai yang cukup kuat oleh Bapak Ibu guru yakni bagaimana caranya menghargai orang yang memiliki kulit berbeda dengan kita. Bagaimana caranya menghargai dengan orang yang cara ibadahnya berbeda. Itu yang kerap mereka ulang-ulang. Atau perintah membaca karena dengan membaca akan membuka wawasan. Lalu, yang terakhir adalah jargon dengan gambar buku terbuka bahwa buku adalah jendela dunia. Bahwasnya kita diajarkan untuk mencintai buku-buku yang tersusun rapi di rak perpustakaan. Mereka akan lebih suka jika buku-buku tersebut berantakan.

Tapi, realitanya mereka jarang melakukannya. Sibuk dengan kewajibannya menyelesaikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sibuk mengikuti diklat agar mendapatkan sertifikat untuk meningkatkan angka kredit, sibuk membuat buku atau kumpulan puisi untuk meningkatkan angka kredit guna kenaikan jabatan. Baik, jika di situ ada tuntutan. Tapi tuntutan yang berdampak pada siapa? Apakah berdampak pada anak didik atau hanya membuat perut sendiri semakin kenyang?

Sangat klise sekali.

Berteriak kencang agar siswa siswinya gemar membaca untuk bisa memiliki cara pandang yang luas dan tahu bahwa dunia ini sangat luas, lalu bisa menghargai setiap kecil perbedaan agar hidup berdampingan dengan rukun.

Lagi, lagi harus kembali kepada diri sendiri. Khususnya saat berada di luar rumah, misalnya. Seperti saat jadwal saya pergi ke kantor hari Senin kemarin. Saya dan teman-teman fokus pada pekerjaan kami. Makan selain di jam kerja juga bukan masalah bagi kantor kami. Pada saat itulah saya merasa sangat sebal saat kawan saya bermain laptop. Tangan kanannya memainkan kursor, dan tangan kirinya secara dengan cekatan nyemil menggunakan tangan kirinya. Dia bukan seorang kidal. Hal tersebut ia lakukan berjam-jam.

Saya tidak suka dengan apa yang ia lakukan. Hemat saya, kawan saya bisa berhenti main laptop, lalu fokus nyemil menggunaan tangan kanan. Bukan tangan kiri, yang secara bergantian menggambil snack dimasukkan ke mulutnya. Pada saat itu juga saya merasa begitu kesal dengan diri saya sendiri. Bagaimana bisa saya terganggu dengan hal sepele seperti ini? Bagaimana bisa saya terganggu dengan aktivitas orang lain di luar kuasa saya?

Lalu, menyadari penuh atas apa yang kawan saya lakukan adalah upaya dia untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya, tanpa mengesampingkan perutnya. Alih-alih saya berpikir positif seperti itu. Memang benar pikiran yang baik bisa menyelamatkan dari pikiran-pikiran sempit di kepala.

Saat berada di luar rumah berinteraksi dengan orang banyak itulah akan muncul berbagai gejolak emosi karena ada banyak hal di luar kendali kita. Tidak sesuai dengan nilai-nilai kita. Kemudian, apakah saat kita duduk di bangku sekolah mendapatkan teori cara bertoleransi

Bagaimana bisa jika guru-guru tersebut sibuk mengenyangkan perutnya sendiri? Bohong kalau kita harus berterima kasih kepada bapak ibu guru untuk bisa menanamkan nilai atau tata cara dalam toleransi. Lihat, berapa banyak kelas-kelas guru yang hanya bertujuan untuk membuat buku, misalnya hanya untuk meningkatkan angka kredit mereka?

Tidak perlu bergantung pada teori-teori yang ­ndakik-ndakik itu. Tidak perlu bergantung pada suara lantang di pojokan kelas. Karena pada akhirnya semua kembali pada diri. Diri kita. Sendiri.  

Spread the love

Leave a Comment

Your email address will not be published.

en_USEnglish