Literasi Keuangan

Bijak Memilih Jasa Pembayaran Online

Bijak Memilih Jasa Pembayaran Online – Hari ini, kemudahan-kemudahan yang kita dapatkan adalah hal yang memang wajib kita syukuri. Namun, hal ini juga menjadi bumerang jika tidak bisa bijak dalam memanfaatkan kemudahan-kemudahan tersebut.

Bijak Memilih Jasa Pembayaran Online
Bijak Memilih Jasa Pembayaran Online

Apalagi badai Covid kemarin memaksa sebagian dari kita untuk bisa melek teknologi, khususnya dalam hal transaksi. Membeli kebutuhan di tengah badai kemarin memaksa kita untuk belajar satu hal yang pasti dalam hidup yaitu adaptasi. Apa-apa serba teknologi.

Barang yang dijual di e-commerce baik di dalam dan luar negeri bisa kita beli.Tidak perlu khawatir lagi dengan jarak dan bagaimana cara pembayarannya, yakni ada PayPal menjadi solusinya.

Tapi, berbelanja online menggunakan PayPal sembarangan, menjadi bumerang kalau tidak selektif dalam memilih jasa pembayaran. Iming-iming penawaran yang melenakan membuat pembeli tidak berpikir ulang dalam isi saldo PayPal. Barang yang murah selalu menggugah. Iming-iming menarik selalu memiliki daya tarik. Lagi-lagi, literasi jasa keuangan mengingatkan kita semua untuk terus belajar memilih dengan selektif dalam memilih jasa pembayaran online.

PayPal adalah layanan yang digunakan untuk melakukan transaksi pembelian barang ataupun mengirim saldo keluar negeri. PayPal bisa dikatakan sebagai fasilitas yang membantu dalam proses pembayaran secara online. Jasa keuangan online tersebut didirikan pada tahun

Saat ini, sekitar 400 juta pengguna di seluruh dunia aktif menggunakan PayPal. Dengan pengguna sebanyak itu, apakah ada yang merasa dirugikan oleh aplikasi tersebut? Dengan pengguna sebanyak itu apakah tidak pernah mengalami keluhan?

Sebuah aplikasi pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya. Berikut ini beberapa kelebihan PayPal:

  1. Terjamin kecepatannya. Kurang dari 24 jam transaksi Anda keluar negeri bisa selesai.
  2. Terjamin keamanannya. Data-data penting penjual dan pembeli aman.
  3. Akun PayPal bisa digunakan untuk membeli barang di e-commerce di belahan dunia.
  4. Bisa diakses menggunakan smartphone.
  5. Biaya administrasinya terjamin murah.

Lalu, seperti apa kekurangan dari PayPal? Berikut ini penjelasannya.

  1. Rentan disalahgunakan karena metode pembayaran ini sangat terbuka untuk bisa digunakan dalam bertransaksi keluar negeri, sehingga peluang terjadinya penipuan sangat besar.
  2. Kalau ada masalah, mau komplain di mana? Itulah kekurangan yang fatal dalam sebuah aplikasi.
  3. Jumlah transaksi untuk mata uang negara lain terbatas.
  4. Jika bertransaksi dari PayPal ke rekening non-PayPal akan dikenakan biayaadministrasi sekitar 3 persen dari jumlah transaksi ditambah 0,3 dollar AS.

    Memilih metode pembayaran online memang harus hati-hati. Dengan banyaknya penawaran menarik sana sini Anda wajib berhati-hati dalam memilih jasa. Kalau Anda bingung dalam memilih penyedia jasa pembayaran online, berikut ini tips yang bisa Anda lakukan sebelum memutuskan untuk memilih jasa tersebut:
  1. Pastikan Anda memilih jasa yang sudah lama beroperasi dalam pembayaran secara online.
  2. Cek testimoni alias track record  penyedia jasa yang akan Anda gunakan          
  3. Periksa rate yang mereka sediakan cukup terjangkau
  4. Pilih jasa PayPal yang cepat dan tepat. Cepat dalam prosesnya dan tepat dalam pelayanannya
  5. Cek berapa limit untuk transaksi yang tersedia pada jasa bayar pada kartu kredit
  6. Cek dengan teliti, apakah layanan terssedia selama 24 jam sehingga Anda bisa menggunakannya kapan saja

Setelah Anda mencari tahu jasa PayPal apa saja yang recommended, tapi Anda masih bingung jasa PayPal mana yang terjamin kredibilitasnya, Anda bisa mencoba jasa Payor.

Payor adalah jawaban dari ketidakpercayan Anda pada jasa pelayanan pemabayaran. Payor adalah jasa yang selama ini Anda cari dan menjadi solusi. Dengan pengalamannya lebih dari 10 tahun, Payor terbukti menjadi jasa yang dipercaya oleh masyarakat karena pelayanannya yang cepat, tepat, dan akurat.

Keuntungan yang didapatkan menggunakan Payor adalah:

  1. Payor menyedia rate termurah dan berbagai diskon spesial
  2. Fee layanan terajangkau
  3. Transparan dalam pengitungan jasa pembayaran PayPal
  4. Transaksi aman dan legal
  5. Bisa melakukan refund

Anda bisa mempercayakan jasa pembayaran di mana saja, tapi literasi jasa keuangan menjadi penentu sukses tidaknya kita dalam menentukan metode pembayaran online.

Seberapa Pentingkah Belajar Literasi Keuangan ?

Seberapa Penting Belajar Literasi Keuangan – Saat ini ketika roda transaksi keuangan bisa dilakukan dengan cepat, orang-orang berbondong-bondong melakukan jual beli secara online. Apalagi jika ada diskon besar-besaran, mereka bisa menahan kantuk tengah malam hanya untuk bisa mendapatkan promo harga yang tidak main-main.

Hal ini terbukti bahwa 74.5% konsumen lebih suka berbelanja secara online daripada offline. Data ini semakin kuat bahwa bisnis ­e-commerce di Inonesia juga menunjukkan angka peningkatannya. Tercatat nilai transaksi e-commerce pada Februari 2022 mencapai Rp 30,8 triliun, tumbuh sekitar 12 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp 27,3 triliun.

Pentingnya Belajar Literasi Keuangan

Tapi, permasalahan level dalam berliterasi memang masih rendah, belum menunjukkan tanda-tanda significan yang berarti dalam pertumbuhan literasi keuangan. Hal ini menjadi salah satu kekhawatiran pemerintah dalam proses perbaikan secara ekonomi. Semua lapisan yang ada tentu tidak mau kasus investasi bodong terjadi untuk kedua kalianya, kasus pinjam uang illegal yang merugikan banyak orang terulang lagi, bahkan sebagai negara berkembang pemerintah terus mengupayakan celah-celah kehidupan yang lebih baik. Tidak adanya lagi pelonjakan harga-harrga kebutuhan pokok, misalnya.

Yang kita tahu masyarakat cenderung bersifat konsumtif. Bisa memamerkan kemewahan adalah sebuah privilege. Kalau saja masyarakat bisa lebih mendalam lagi dalam berpikir, saya rasa mereka tidak akan konsumtif dalam membelanjakan uangnya. Kalau saja masyrakat bisa lebih peka lagi dalam memerhatikan kondisi negara-negara berkembang lain dengan adanya krisis ekonomi yang berkelanjutan. Saya rasa mereka akan jauh lebih pelit alias lebih berhemat.

Saat ini, kemampuan literasi keuangan digital bukan sekadar kebutuhan, melainkan telah menjadi gaya hidup di era Revolusi Industri 4.0. Sekali lagi, itu menjadi mimpi indah di siang bolong.

Jika lembaga-lembaga penting mengobarkan semangat literasi keuangan melalui webinar atau workshop di hotel mewah bisa mengoptimalkan edukasi secara langsung, lalu bagaimana dengan masyarakat yang tidak bisa terjangkau oleh para lembaga terkait? Sedangkan hasil survey literasi keungan yang dilakukan oelh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2019 menunjukkan indeks sebesar 38.03%. Artinya, dari sekitar 285 juta penduduk Indonesia, baru sekitar 108 juta orang yang sudah melek keuangan. Bisa dihitung sendiri  berapa banyak masyarakat yang belum melek literasi keuangan.

Karenanya, kemampuan dalam mengelola uang atau literasi keuangan yang dipadukan dengan kemampuan literasi digital menjadi pondasi awal dalam menghadapi seiktor keuangan digitalisasi. Kalau aja, ya, masyarakat tahu pentingnya melek literasi keuangan. Berikut ini lima alasan pentingnya literasi keuangan di tengah digitalisasi.

  1. Belajar Literasi keuangan adalah investasi jangka panjang

Ketidakmampuan diri dalam melek literasi keuangan bisa berakibat fatal dengan sukses tidaknya pengelolaan dalam jangka pendek dan panjang. Analoginya, jika ingin bepergian jauh tidak memiliki bekal yang cukup, barangkali kita tidak bisa sampai di tujuan.

Sama halnya dengan bekal keuangan yang bisa dilakukan, dicari, digali, dan dipelajari sejak dini bisa menjadi solusi ketika menumui kesulitan di tengah jalan soal keuagan. Menyiapkan bekal jauh lebih baik daripada bepergian tanpa membawa apa-apa.

  • Belajar Literasi keuangan memengaruhi pengelolaan finansial

Bayangkan jika setiap gaji yang didapatkan setiap bulannya hanya digunakan untuk kebutuhan konsumtif saja, berapa banyak penyesalan yang akan terjadi kalau sudah tahu akibatnya? Memang benar, kalau belum pernah mengalami atau merasakanya langsung belum bisa memahami dan mengerti dengan baik.

Kalau perencanaan keuangan tidak jelas, uang bisa habis dengan sia-sia. Keinginan bisa terpenuhi, tapi kebutuhan carut marut sana sini.

  • Dapat memilih strategi dan keputusan keuangan dengan tepat

Dengan memiliki literasi keuangan yang baik, kita bisa lebih bijak dalam mengelola uang. Dengan kesadaran penuh bahwa masing-masing kita memiliki tingkat prioritas yang berbeda. Jika kebutuhan pokok seperti perut dan papan bisa terpenuhi, sisanya kita bisa menyesuaikan dengan porsinya masing-masing, entah setoran wajib setiap bulan atau kebutuhan mendesak lainnya.

  • Dapat memengaruhi pertumbuhan finansial keluarga

Jika Anda  belum berkelurga sedangkan di sub pembahasan ini membahas finansial keluarga, hal itu sama saja. Hal ini juga berpengaru pada bagaimana Anda berpikir atau mengelola keuangan nantinya. Bukankah hal besar itu dimulai dari hal-hal kecil yang kita biasakan.

Kondisi ini sangat berlaku untuk kesejahteraan keluarga nantinya. Bagaimana bisa mengatur keluar masuknya uang menjadi modal awal untuk bisa hidup dengan “aman” selama satu bulan. Kenapa satu bulan? Contoh ini sangat relevan dengan gaji yang diterima setiap bulannya. Melihat dari contoh sederhana ini bisa menjadi tolok ukur bagaimana bisa meningkatkan saving setiap bulannya.

Misalnya, bulan Januari jumlah pengeluaran jauh dari rencana awal. Setelah dicek, ternyata ada beberapa pengeluaran yang tidak begitu penting. Hal ini, bisa menjadi evaluasi bulan selanjutnya untuk bisa lebih baik dalam mengatur strategi lagi.

Jangan disepelakan lagi dalam mengatur keluar masukanya uang. Sesederhana, tetap bisa makan enak tanpa biaya mahal. Begitulah kira-kira, tetap bisa menikmati hidup tanpa harus konsumtif.

Berfoya-Foya Terlebih Dulu, Melek Literasi Keuangan nya Nanti Saja

Melek Literasi Keuangan – Akhir bulan menjadi waktu yang dinanti-nanti oleh para pekerja, khususnya mereka yang menerima gaji setiap akhir bulan. Isi dompet menipis bahkan habis, keranjang di toko oranye sudah siap untuk segera dibawa pulang dalam bentuk barang nyata, promo  stay cation akhir bulan dengan iming-iming healing juga sudah menanti, promo perawatan wajah, atau berbagai macam promo lainnya yang telah disusun secara strategis oleh para pelaku usaha.

Sesekali, belanja barang mahal dengan dalih selfreward karena sudah bekerja keras selama satu bulan penuh. Sesekali,stay cation di tempat mahal untuk sejenak melepas penat karena sudah bekerja keras adalah cara untuk mengapresiasi diri meskipun setelah itu kantong kurus kering.

Begitulah trend yang berkembang hari ini. Kerja, kerja, tipes, healing. Padahal, ya, berkedok menghabiskan uang dengan cara dan istilah lain. Dolan, ya, dolan aja. Beli barang mahal, ya, beli aja. Entahlah, makin ke sini, ada-ada saja istilah anak jaman sekarang.

Tidak semua orang mendapatkan gaji yang “lebih”, bahkan malah dicukup-cukupkan karena memang gaji yang diterima tidak layak untuk didapatkan. Kalau mereka yang memiliki gaji lebih, tidak masalah jika ingin bersenang-senang dari hasil jerih payahnya. Karena mereka sudah punya ploting gaji yang digunakan untuk kebutuhan dan foya-foya lainnya.

Belum lagi, keingian untuk bisa terlihat keren dan berada di media sosial membuat para generasi sekarang terus saja berlomba-lomba untuk bisa mempertontonkan apa yang dimilikinya. Konten memang jauh lebih berharga daripada mengelolas sumber keuangan secara efektif.

Berbeda dengan mereka yang harus memutar orak “kalau uang saya habis di tengah bulan, saya harus bagaimana?” Atau “Saya harus berhemat dengan cara berpuasa atau mencari tambahan penghasilan lain.” Bayangkan kalau ada tanggungan setiap bulannya. Untuk berfoya-foya, ya, nanti saja.

Dua kondisi kebutuhan dan keuangan yang tentulah berbeda. Tapi, di saat yang sama hal tersebut bisa memberikan kesempatan untuk keduanya bisa belajar bagaimana saving untuk kebutuhan masa depan. Hidup tidak melulu soal mendapatkan gaji lalu dihabiskan, tapi ada perjuangan-perjuangan untuk bisa tetap memanfatkannya dengan  baik, khususnya dalam hal keuagan atau literasi keuangan.

Melek Literasi Keuangan

melek literasi keuangan
Melek Literasi Keuangan

Literasi keuangan sendiri bukanlah menjadi hal yang tabu, hanya saja masyarakat, khususnya para pekerja yang notabene sebagai karyawan atau pekerja baru lupa dengan PR mereka tentang literasi keuangan. Sebagian mereka berpikir, saya sudah bekerja keras, saya berhak menikmatinya dengan bersenang-senang. Atau, saya ingin menikmati gaji saya dengan membeli barang mewah, makan makanan mahal, atau travelling sebelum saya menikah dengan uang hasil keringat saya.

Literasi keuangan adalah kemampuan mengguanakan keterampilan untuk bisa menggunakan, mengelola, memanfaatkan sumber daya keuangan secara efisien dan efektif demi memelihara kesejahteraan seumur hidup. Bukan, kesejahteraan setelah tanggal gajian saja.

Bagian inilah yang harus menjadi catatan setiap akhir dan awal bulan bagi mereka. Daftar pengeluaran apa saja yang telah habis dikeluarkan atau setidaknya bisa merencakan skala prioritas dengan sebaik-baiknya.

Banyak yang  tidak tahu bahwa level literasi keuangan yang ada belum sepenuhnya bisa dikatakan baik. Menurut survey indeks literasi dan inklusi keuangan yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2019, literasi keuangann mecapai 38.03%, meningkat 8.33% dibandingkan dengan hasil survey OJK pada tahun 2016, yaitu 29.7%. Namun, angka itu dinilai masih rendah apabila dibandingkan dengan negara tetangga di ASEAN.

Setidaknya bisa saving, meskipun hanya sedikit

Sah-sah saja jika ingin menikmati hasil kerja keras, namun tidak elok jika menghabiskan uang berkedok healing adalah cara untuk berfoya-foya. Keduanya memiliki batasan tertentu.

Tingkat literasi keuangan yang tinggi akan menyelamatkan kondisi finansial seseorang. Sedangkan tingkat literasi rendah membuat orang tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan uang yang dimiliki. Bahkan uang bisa habis tanpa pengeluaran yang tidak jelas. Lalu, bagaimana dengan hari tua nantinya?

Kalaupun Anda ingin menikmati gaji setiap bulannya dengan hal yang Anda sukai atau menjadi selfreward sebisa mungkin tetap berpikir rasional bahwa di tengah ketidakpastian hidup akan terjadi banyak kemungkinan. Sebagai contoh pandemi covid 19. Berapa banyak orang yang dirumahkan? Berapa banyak perusahaan yang gulung tikar? Berapa banyak pelaku usaha yang harus terlilit hutang? Itu adalah contoh nyata yang baru saja kita alami. Hari ini kita sedang mengupayakan perbaikan ekonomi lagi. Barangkali pandemi kemarin menjadi contoh konkrit yang bisa kita ambil pelajarannya.

Sisakan sedikit saja agar hidupmu bisa selamat. Sisakan sedikit saja agar hari tuamu bisa tercover. Sisakan sedikit saja dengan cara berhemat.

Kita sudah dibenturkan dengan badai yang begitu hebat. Apakah mau mengulang lagi dengan harus meminjam uang dengan kelabakan? Apakah tidak ingin bisa bernapas dengan lega?

Melek literasi keuangan menjadi pondasi awal untuk kesejahteraan. Lalu, apakah ada yang ingin mengulang berita yang menghebohkan Indonesia dengan investasi bodong lagi? Kalau belum menemukan intrumen investasi dengan tepat karena masih ingin menikmati gaji, setidaknya Anda bisa menyisihkan sedikit saja. Ingat,  kita hidup di antara ketidakpastian, bukan?

Konon, yang sedikit ini jika rutin dilakukan akan menjadi bukit. Tidakkah rumus sederhana ini sudah menjadi teman saat kita kecil dulu?

Urgensi Meningkatkan Kualitas Literasi Keuangan Indonesia

Meningkatkan Kualitas Literasi Keuangan Indonesia – Di awal tahun 2022 ini, kita dihebohkan dengan kasus penipuan berkedok trading online, yang dilakukan oleh Indra Kenz, Dony Salmanan, dan beberapa influencer lainnya. Topik ini menjadi primadona di semua platform berita, dan menjadi headline dimana – mana.

Ada juga berita penipuan yang diakibatkan oleh gagal bayar koperasi Indosurya kepada nasabahnya. Pemiliknya didakwa menggelapkan dana nasabah, karena tidak membayar kewajibannya sampai batas waktu yang disepakati . Nilai kerugiannya diklaim mencapai 15 triliun.

Dan banyak berita penipuan lain dengan modus yang sama. Modusnya adalah menghimpun dana masyarakat dengan iming – iming bunga yang tinggi, namun ternyata hanya tipuan.

Kenapa banyak kasus penipuan investasi? Kenapa banyak orang ‘pintar’ yang menjadi korban ? Yuk, mari kita bahas.

Apa yang terjadi di dunia investasi bodong ?

Sederhana sebenarnya. Ada orang jahat yang ingin mendapatkan keuntungan dengan cara merugikan orang lain dalam bentuk investasi yang terlihat real, padahal bodong. Tentunya dengan narasi bisa mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari uang yang disetorkan, dan berbagai macam janji manis lainnya. Itulah investasi bodong.

Para pelaku penipuan ini menghimpun dana masyarakat, dengan pemasaran yang dikemas menggunakan bahasa persuasif yang kuat, agar mengaburkan fakta bahwa investasinya adalah penipuan.

Apakah gaya bahasa persuasif yang kuat bisa menipu orang – orang kaya, menipu orang berpendidikan tinggi? Well, faktanya iya. Lho, kok bisa?

Pelaku dan korban punya kesamaan

Orang yang melakukan tindak pidana kejahatan penipuan investasi, adalah karena mereka jahat. Penjelasan apa pun tentang mereka, hanya mengerucut kepada satu kata, yaitu jahat. Mereka dengan sadar melakukan itu. Mereka membuat konsep yang canggih untuk mengelabui nalar berpikir orang banyak. Sehingga masyarakat dengan mudahnya memberikan sejumlah uang kepada mereka.

Mereka dari awal sudah berniat jahat. Niat jahat itu muncul akibat dari keserakahan (greedy).

Lalu bagaimana dengan korbannya?

Banyak masyarakat yang menjadi korban penipuan investasi ini. Nominal kerugiannya pun triliunan. Tidak sedikit yang berhutang agar bisa ikut berinvestasi. Bahkan ada yang sampai bunuh diri karena terlilit hutang miliaran. Turut berduka cita untuk para korban penipuan investasi.

Mimpi yang terlalu indah

Apakah bisa kaya raya dalam waktu singkat? Secara teori bisa saja. Tapi siapa contohnya? Indra Kenz? Dony Salmanan? Indosurya? Mereka adalah penipu. Mereka kaya raya dalam waktu singkat karena berhasil menipu.

Kita pasti berempati dengan korban penipuan investasi ini. Tapi kalau kita mau berdiam diri sejenak,  merenung, lalu meneliti satu per satu penyebabnya, kita akan menemukan satu kesamaan pelaku dan korban penipuan investasi ini. Yaitu serakah.

Bedanya, pelaku penipuan serakah karena jahat. Sedangkan korban menjadi serakah karena tidak mau belajar, tidak mau bekerja keras untuk mencapai kemakmuran. Tidak paham investasi, tapi ikut investasi. Tidak paham trading, tapi ikut trading. Para korban penipuan ini ingin kaya dengan hasil instant.

Dan yang paling aneh. Di antara korban ada yang paham trading, tapi bisa tertipu juga. Kenapa? Karena serakah. Miris sekali.

Janji Manis = Tanda Tanya

“Tak kenal maka tak sayang”

Di Indonesia, sebuah pernikahan lazimnya didahului dengan sebuah hubungan yang disebut dengan pacaran. Dalam perjalanan pacaran itu, harapannya adalah pria dan wanita saling mengenal terlebih dahulu, sebelum melanjutkan ke pernikahan. Tujuannnya agar saling kenal watak, karakter, kapasitas,dan kapabilitas terlebih dahulu.

Di dunia investasi trading pun demikian. Banyak bersliweran di media social, grup Whatsapp, bahkan sms, yang menawarkan solusi ‘cepat kaya’. Di sinilah titik awal banyak yang terjebak ‘janji manis’ para penipu ini.

Agar tidak menjadi korban, masyarakat harus mengaktifkan ‘antena’ nalar di kepala masing – masing. Luangkan waktu, dan tenaga untuk meneliti kebenaran informasi yang dibaca. Informasi itu, harus masuk akal.

Masyarakat harus memilik metrics dasar untuk menilai sebuah informasi investasi, misalnya :

  1. Apakah ini resmi?
  2. Apakah terdaftar di Bappeti?
  3. Apakah terdaftar di OJK?
  4. Kantornya dimana?
  5. Pemiliknya siapa?

Dan banyak pertanyaan lainnya yang bisa dijadikan filter awal untuk mengenal sebuah produk investasi. Jika sudah tahu meragukan, masyarakat tentu tidak akan menjadi korban.

Investasi adalah instrument keuangan yang beresiko

Tahun 1998, terjadi krisis moneter di banyak negara, salah satunya Indonesia. Peristiwa itu menghancurkan perekonomian negara Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah investasi yang dikelola dengan baik, bangkrut karena nilai tukar Rupiah yang turun drastis terhadap Dollar Amerika.

Investasi yang dilakukan dengan benar, dan penuh kehati – hatian sekali pun, masih bisa mengalami kerugian. Inilah yang disebut dengan resiko. Investasi itu memiliki resiko.

Masyarakat yang ingin mencari rejeki dari investasi maupun trading, harus meneliti sedetail mungkin kemungkinan untung – rugi berinvestasi di sebuah instrument keuangan.

Sebelum memiliki kemampuan untuk meneliti resiko sebuah investasi, masyarakat harus memiliki pengetahuan dasar tentang investasi. Misalnya, jenis – jenis investasi, jenis – jenis instrument keuangan, peraturan di Indonesia terkait, dan banyak hal lainnya yang harus dipelajari sebelum melakukan investasi dan trading.

Butuh waktu untuk mempelajari sesuatu yang baru. Termasuk investasi dan trading.

Faktor psikologis sangat menentukan

Situasi kejiwaan setiap orang pasti berbeda. Faktor psikologis yang tidak stabil membuat banyak yang terpancing, dan akhirnya menjadi korban. Di sinilah tantangannya. Masyarakat harus memiliki psikologis yang stabil terhadap informasi produk.

Jika memiliki psikologis yang stabil, masyarakat dengan mudah memfilter mana informasi yang sesat, dan mana informasi yang benar. Sesuatu yang ‘terlalu indah untuk jadi kenyataan’, harus menciptakan tanda tanya besar di nalar masyarakat.

Masyarakat tidak lagi menilai ‘bungkus’ figur yang menawarkan sebuah produk. Masyarakat harus berani menilai produk itu sendiri. Mengetahui asal – usulnya saja, sudah memberikan 50% informasi yang sangat penting sebelum berinvestasi atau trading.

Filter awal memang sesederhana itu.

Belajar literasi keuangan Indonesia

Selanjutnya masyarakat bisa menggali legalitasnya, lokasinya, dan informasi lainnya. Kuncinya adalah ketenangan batin. Ketenangan batin, atau psikologis yang stabil adalah kunci untuk anti penipuan investasi. Mari bersama – sama merenungkannya.

Dua pertanyaan berikut bisa menjadi penutup yang baik untuk kita semua. Yang pertama, apakah ada jalan lain untuk kaya selain investasi,dan trading online? Tentu ada. Dan banyak sekali alternatif lainnya. Lalu yang kedua, kenapa harus kaya? Menjadi kaya tidak salah. Dengan harta berlimpah, kita bisa membantu banyak orang. Yang penting punya mentalitas yang kuat, siap manakala investasi atau trading sedang mengalami penurunan. Juga berani untuk mengukur kemampuan diri. Jika belum siap, belum punya pengetahuan, dan ilmu yang cukup, maka harus mempersiapkan diri dengan banyak belajar.

Mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, memberikan ketenangan, dan kedamaian. Jika sudah memiliki keduanya, artinya masyarakat sudah siap melakukan investasi atau trading. Jika masih belum tenang, masih belum berhati damai, itu pertanda alias suara Tuhan untuk menunda, atau tidak berinvestasi sama sekali.

Tidak semua orang mampu berbisnis. Ada yang hanya bisa bekerja untuk orang lain. Bisnis bisa membuat orang menjadi kaya. Bekerja juga bisa membuat orang jadi kaya. Keduanya sama saja. Kenali kemampuan diri, dan miliki mentalitas yang kuat sebelum terjun di bidang investasi.

Referensi tempat belajar literasi keuangan :

Apa Itu Tekfin ?

Para pelaku usaha pasti tahu apa itu tekfin ? Mungkin juga menjadi penyelamat ketika membangun bisnis. Memang benar, bidang-bidang pada bisnis perlu diketahui. Hal ini bisa membantu perusahaan untuk berkembang. Menjadi penopang saat kondisi menurun. Menjadi penyelamat dalam kondisi darurat, seperti Tekfin (Teknologi Finansial).

Bahkan, tekfin ini bisa menjadi udara segar bagi mereka yang ingin membangun bisnis tapi hanya memiliki modal pas-pasan atau tidak memiliki modal sama sekali. Dengan kata lain calon pebisnis bisa meminjam uang sebagai modal usahanya kepada tekfin.

Berdasarkan Pasal 1 angka 1 PBI Tekfin, teknologi finansial adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem.

Tekfin itu sendiri berasal dari istilah Financial Technology atau teknologi finansial. Menurut The National Digital Research Centre (NDRC), Tekfin merupakan suatu inovasi pada sektor finansial. Tentunya, inovasi finansial ini mendapat sentuhan teknologi modern. Keberadaan Tekfin dapat mendatangkan proses transaksi keuangan yang lebih praktis dan aman (Chrismastianto, 2017).

Seperti Apa Cara Kerja Tekfin?

apa itu tekfin

Hmm. Saya takut kalau tekfin ini abal-abal, kak? Tenang.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyadari pentingnya dukungan regulasi di bidang tekfin. Bentuk dukungan OJK ini antara lain terlihat dengan penerbitan POJK 77/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (LPMUBTI) pada tanggal 28 Desember 2016. Regulasi ini diterbitkan sebagai bentuk antisipasi terhadap pesatnya penambahan jumlah perusahaan penyedia LPMUBTI atau fintech peer-to-peer lending dari 51 perusahaan pada awal 2016 menjadi 135 perusahaan pada akhir tahun 2016.

POJK 77/2016 ini antara lain menetapkan kewajiban bagi para penyedia LPMUBTI untuk mendaftar dan mendapat izin dari OJK, menyediakan rekening bersama (escrow account) dan rekening virtual (virtual account) di perbankan, serta menempatkan pusat data (data center) di dalam negeri. Kewajiban-kewajiban tersebut melindungi kepentingan konsumen terkait keamanan dana dan data, serta kepentingan nasional terkait pencegahan pencucian uang, pendanaan terorisme, dan stabilitas sistem keuangan.

Tidak perlu takut dengan layanan tekfin. Bukan pinjaman online yang bisa merusak mental Anda dan orang-orang sekitar, tapi sudah diatur dalam sebuah pasal.

Tips Memilih Tekfin

Pertama, Tekfin P2P (lending) akan mempertemukan pemberi pinjaman dengan peminjam yang diperantarai perusahaan. Sedangkan bunga pinjaman atau imbal hasil yang bisa diterima pemberi pinjaman berkisar 12 persen sampai dengan 20 persen per tahun.

Bunga tersebut bisa besar karena peminjam adalah mereka yang sebelumnya tidak bisa mengakses pendanaan perbankan tidak memenuhi persyaratan bank. Tidak perlu khawatir, sistemnya memang seperti ini, yakni kalangan duni usaha porduktif sehingga mereka punya kemampuan untuk membayar pinjaman modal usaha yang telah diberikan.

Kedua, pastikan perusahaan atau entitas tekfin itu legas alias resmi yang terdaftar di OJK. Caranya adalah dengan mengecek perusahaan tersebut di daftar perusahaan tekfin resmi yang terdaftar di situs resmi OJK, yaitu www.ojk.go.id dan situs resmi AFPI, www.afpi.or.id atau bisa juga buka di www.cekfintech.id/.

Intinya jangan menyentuh yang illegal alias tidak diawasi oleh OJK. Harus cermat, perusahaan apa saja yang terdaftar resmi di situs OJK. Inilah pentingnya melek dunia bisnis.

Ketiga, calon investor harus mempelajari mekanisme, cara kerja, potensi risiko, serta imbal hasil ketika menjadi pemberi pinjaman. Bagian ini sebenarnya masuk ke dalam imbal hasil yang tinggi, namun juga diiringi risiko yang tinggi juga, misalnya harus paham betul bahawa dan hadiah yang diberikan. Sehingga tidak salah dalam menempatkan uang tanpa mengetahui tempatnya.

Keempat, yang perlu diperhatikan adalah berinvestasilah dengan memberikan pinjaman kepada peminjam yang berkecimpung di sektor yang Anda pahami seluk-beluknya. Karena ada 121 perusahaan tekfin yang saat ini menjadi penyambung yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari pertanian, perikanan, e-dagang, hingga manufaktur.

Jika Anda ingin melihat perusahaan tekfin tersebut bagus atau tidak. Ada dua idikator untuk melihat kinerja perusahaan tekfin yaitu melihat persentase dari TKB90  dan TWP90. Adapun TWP 90 merupakan akronim dari tingkat wanprestasi 90 hari atau ukuran tingkat wanprestasi atau kelalaian penyelesaian kewajiban yang tertera dalam perjanjian sampai dengan 90 hari sejak tanggal jatuh tempo. Semakin kecil TWP,  semakin bagus kinerja perusahaan itu. Nilai TKB90 jika ditambah TWP90 harus genap 100 persen. Atau Anda juga bisa mencari tahu di internet melalui testimony-testimoni.

en_USEnglish