Literasi Digital

Hidup Bersama dengan Hoaks

Mengenal Apa itu Hoaks ?

Apa itu hoaks ?Hoax adalah informasi palsu, berita bohong, atau fakta yang diplintir atau direkayasa untuk tujuan lelucon hingga serius (politis).

Secara bahasa hoax (synonyms: practical joke, joke, jest, prank, trick) adalah lelucon, cerita bohong, kenakalan, olokan, membohongi, menipu, mempermainkan, memperdaya, dan memperdayakan.

Bahaya Hoaks

apa itu hoaks

Coba lihat, berapa banyak hal yang membuat kita terkejut karena ketidaktahuan kita lalu kita salah memahaminya? Coba hitung, berapa banyak berita yang lalu lalang yang membuat orang-orang berdebat padahal yang diperdebatkan tidak ada kebenarannya? Sama sekali.

Entah sudah berapa kali saya termakan hoaxs sampai saya kenyang seperti ini. Alih-alih tidak mau tahu berita di luar padahal cara saya memfilter informasi saja yang buruk. Tapi, memang benar dari saya lahir sampai saya bisa menulis ini saya tidak pernah diajarkan bagaimana caranya menyaring informasi yang benar. Saya tidak pernah diajarkan bagaimana caranya untuk mencari informasi yang akurat.

Saya, bahkan kita hanya diajarkan caranya bisa berhitung atau bisa bagaimana caranya mendapatkan nilai yang tinggi. Hanya diajarkan bagaimana mengeja suku kata sampai lancar membacanya, bukan memahaminya. Sampai orang tua akan dengan bangga menceritakan kalau putrinya sudah lancar dalam membaca. Juara untuk bisa diakui kehebatannya, bukan dalam menafsirkannya pada keberanan. Dan hal ini mengakar sampai sekarang.

Kasus Ratna Sarumpaet dengan wajahnya yang bengkak dan memar, babi ngepet yang menggemparkan masyarakat, dan masih banyak kasus hoaks lainnya yang membuat kita bersemangat untuk membicarakannya. Bahan obrolan ketika kongkow.

Tumbuh dari Mulut ke Mulut

Jika grup WhatsApp seperti grup Ronda, Arisan PKK, trah atau keluarga, dianggap menjadi salah satu sumber hoaks, saya rasa kita tidak perlu berlebihan dalam menyikapinya. Karena selama ini kita tumbuh dan beriringan dengan berita hoaks dan kita baik-baik saja sampai hari ini. Bahkan menjadi bumbu-bumbu manis dalam acara arisan ataupun bermain di rumah tetangga.

Berita tidak benar yang dengan mudah kita mempercayainyatanpa menyaringnya.

Sebagai contoh misalnya, ketika ada desas desus tetangga saya yang bercerai, di mana sang mantan istri, sebut saja Ibu Tukinem dianggap sudah tidak memiliki hak untuk tinggal di rumah mantan suamianya menyebar di ramainya tetangga yang sedang ngobrol asik. Karena berstatus sebagai mantan dan hak rumah tersebut adalah suaminya. Itu yang menyeruak di permukaan.

Ibu Tukinem menempati rumah bersama satu anaknya. Toh suaminya sudah pergi dan mempunyai keluarga baru.

Padahal Ibu Tukinem yang menyelesaikan hutang-hutang mantan suaminya. Jika tidak, rumah yang hari ini ia tempati mungkin sudah bukan milik suaminya lagi.

Lalu, orang-orang percaya dengan berita yang tumbuh dari mulut ke mulut kalau Ibu Tukinem tidak mempunyai hak atas rumah tersebut, tanpa orang-orang tahu perjuangan material apa yang telah dikeluarkannya. Menganggap bahwa keberadaannya sangat tidak pantas. Dan itu menyakitkan tanpa tahu fakta yang terjadi.

Berita, informasi, cerita mudah mengudara di tempat rewang, di warung kelontong, dan teras-teras tetangga untuk bersosialisasi padahal di tempat itulah sumber berita menyebar. Dari mulut ke mulut. Dari telinga ke telinga.

Kalau saja orang-orang tahu perjuangan apa yang telah dilakukan Ibu Tukinem. Mereka akan dengan cepat terbungkam. Kita ini, ya, lebih suka tergerus berita daripada disuapi oleh fakta.

Alih-alih merasa tidak tahu. Padahal tidak ingin mencari tahu fakta sebenarnya. Hal ini sebagai bukti bahwa kita sangat suka dengan desas desus. Dan tidak perlu juga disikapi berlebihan. Selayaknya mendengar kabar seperti biasa. Dan kita biasa-biasa saja.

Kita adalah sumber hoaks

2024 akan ada pesta rakyat. Jika nanti ada berbagai macam kabar yang muncul di notifikasi HP dari grup-grup WA biarkan saja. Toh, jika kita ingin menelan mentah-mentah pun tidak apa-apa. Karena sudah menjadi kebiasaan kita selama ini. Tidak usah terkejut.

Sudah selayaknya nanti kita merayakan kedunguan kita dalam membaca berita dengan pikiran yang logis. Sudah selayaknya juga kita merayakan betapa malasnya kita untuk menggali informasi padahal sudah jelas diberi kemudahan lewat digitalisasi. Ya, fungsi dari digitalisasi tak lain adalah menguatkan kita pada informasi yang tidak benar.

Hal ini masih akan terus relevan dengan arus informasi yang akan terus berkembang, bahkan separuh diri kita ada pada media sosial dan arus digitalisasi–bahwa hoaks adalah makanan kita sehari-hari. Dan itu berangkat dari kebiasan kita sewaktu kecil yang tidak pernah diajari dalam menyaring berbagai informasi.

Poinnya adalah berangkat dari cerita mulut ke mulut, telinga ke telinga tanpa pernah menggali informasi. Sungguh, cerita yang beredar jauh lebih menyenangkan untuk dibicarakan kehebohannya; memang benar, berita yang hanya “katanya” selalu indah untuk mengawali obrolan dan menjadi sebagai penyakit.

Penyakit itu mengakar sampai hari ini. Kalau tidak segera dicabut, akar tersebut akan semakin menjalar dan semakin kuat. Sama halnya dengan ketidakmauan kita dalam mencari tahu lebih dalam soal informasi yang beredar.

Siap-siap saja kenyang dengan infromarsi di tengah derasnya arus digitalisasi.

Etika Digital dan Hak Berpendapat

Etika Digital – Kalau di rumah kita diajari untuk bisa menghormati orang yang lebih tua, maka hari ini kita berdiri sebagai manusia yang tahu tata krama, meskipun tidak semuanya berhasil. Dan itu sangat manusiawi. Sukses, tidak melulu memiliki definisi berhasil, bukan?

Lalu, di bangku sekolah kita diajarkan untuk menghormati Bapak dan Ibu guru. Di pelajaran PPKn juga diajari bagaimana caranya menghargai perbedaan, contoh yang kerap disampaikan adalah apa yang harus dilakukan ketika kita memiliki perbedaan kepercayaan. Apa yang harus dilakukan ketika ada orang yang memiliki pendapat berbeda dengan kita. Dengan lantang semua siswa di kelas menjawab, “menghormatinya.” Dan itu sudah menjadi rumus pasti sampai hari ini menghargai perbedaan dan keberagaman.

Saat separuh diri kita ada pada media sosial apakah kita masih bisa menghargai keanekaragaman itu? Ataukah dengan kemudahan yang kita miliki hari ini membuat telinga kita menutup rapat-rapat perbedaan?

Sebenarnya, sesederhana; kalau tidak tahu, ya, mencari tahu dengan sumber yang kredibel atau memilih diam. Mengingat bahwa netizen Indonesia memiliki tingkat kesopanan yang rendah alias menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara.

Dua hal yang sangat kontradiktif. Sewaktu kecil belajar beretika, namun hari ini terbukti sebaliknya. Penerapan literasi digital seharusnya membuat masyarakat lebih bijak dalam mengakses teknologi, bukan main hakim sendiri. Seharusnya lebih berpikir tajam, bukan dengan asumsi tanpa bukti-bukti.

Literasi digital sendiri erat kaitannya dengan kemampuan penggunanya dalam menggunakan teknologi, tapi ada banyak hal yang dilupakan oleh pengguna, seperti bagaimana menggunakan, mencari, dan memanfaatkan teknologi dengan cerdas dan akurat. Selalu menjadi juara pertama untuk bisa membuat sebuah trending di Twitter. Tapi, tanpa itu juga, mungkin saya juga akan ketinggalan informasi.

Namun, hak sebagai manusia untuk berpendapat, saya rasa etika-etika yang sejak kecil ditanamkan dalam merespons sesuatu, kita tidak bisa memaksanya untuk bisa saling berkaitan.

Etika digital

etika digital

Setiap warga negara memiliki hak digital meliputi hak untuk mengakses, menggunakan, membuat, dan menyebarluaskan media digital. Bahkan kita bisa menjual hasil karya lewat akses digital.

Etika digital atau digital ethics adalah kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, dan menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital dalam kehidupan sehari-hari.

Hak Berpendapat

Tidak dapat dipungkiri ketika ada berita yang mencuat dengan cepat, pasti akan menjadi mangsa empuk masyarakat. Seperti hari ini, salah satu artis yang berhasil bermain di film Dua Garis Biru dituding sebagai pelakor. Sebanyak 23.4 ribu kicauan menyebut nama Arwinda di Twitter. Berbagai macam tudingan, kicauan, bullyan tertuju pada artis tersebut. Dulu dipuja-puja dalam keberhasilannya bermain film, hari ini disebut-sebut menjadi pelakor. Netizen memang maha benar.

Kalau ditelisik lebih mendalam lagi, sebenarnya apa hubungan netizen dengan pemain film tersebut sehingga mereka begitu tidak suka dengan cara mengeluarkan caciannya kepada si artis? Apakah turut merasa jengkel atas apa yang dilakukannya?

Dengan merasa memiliki hak berpendapat, saya juga akan melakukan hal demikian. Menulis apa yang ada di kepala. Menyampaikan apa yang dirasakan. Lalu, mempostingnya. Sekali lagi, di waktu situasional ketika ada berita yang menyayat hati, secara otomatis orang-orang yang mendengar atau membaca berita tersebut akan merasakan gejolak emosi. Tidak akan terlintas, apa yang harus dilakukan dalam waktu yang situasional. Tidak akan memikirkan gaya komunikasi seperti apa yang menyakiti, apalagi menyaringnya dengan bijaksana; apakah berita tersebut benar atau tidak.

Sependek itu.

Mengumpat, membully, mencomooh, atau gagasan dalam bentuj tulisan yang begitu tajam adalah sesuatu yang mengalir ketika merespons sebuah permasalahan. Dan kita sebagai manusia kerap melakukannya. Bahkan dalam peristiwa sehari-hari pun kita sering menjumpainya, misalnya ketika di jalan ada yang menyelonong menyebrang. Anda pasti sudah tahu kalimat atau sikap apa yang dilakukan saya atau kita. Itu contoh analogi yang paling sederhana.

Secara psikolog kita tidak memiliki kuasa atas diri kita karena tidak bisa mengontrol apa yang keluar dari mulut. Dan itu sangat manusiawi. Tidak hanya sampai di situ, merasa memiliki hak berpendapat sebagai manusia dan sebagai warga negara.

Jika etika digital dikaitkan dengan waktu situasional tertentu, khususnya batasan dalam menyampaikan pikiran dan perasaan saya rasa sama sekali tidak bisa dikaitkan. Terlebih, hal ini dikuatkan dengan merasa memiliki hak berpendapat.

Belum lagi jika kita diminta untuk menghargai perasaan atau sisi psikolog orang yang dituju, lalu apa gunanya untuk berpendapat? Sedangkan dalam situasional tertentu kalau memikirkan gaya berpendapat atau komunikasi yang tepat sampai tidak melukai mana bisa? Apalagi memikirkan etika dalam menyampaikan apa yang memuncak di pikirannya.

Kita ini manusia yang dengan kelebihannya bisa menyadari, mencontoh, merasionalkan diri, dan mempertimbangkan dalam berbagai hal, namun di waktu-waktu tertentu jika di luar control sehingga disebut tidak beretika dalam bermedia sosial adalah fitrah dari manusia itu sendiri. Kalau tidak pernah salah, kapan kita akan tahu bagaimana caranya beretika digital?   

Buat Apa Bermedia Sosial kalau Tidak Menerapkan Literasi Digital?

Menerapkan Literasi Digital – Hari ini, pengguna internet di Indonesia mencapai 202.6 juta, di mana 170 juta penggunanya menggunakan media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 61.9 persen dari total jumlah populasi yang ada. Sungguh menjadi PR bagi kita semua untuk bisa memastikan masyarakat bisa melek dengan literasi digital.

Terhitung bahwa Kominfo mencatat 5.829 hoaks seputar Covid-19 beredar di media sosial, dengan temuan isu mencapai 2.171 konten per 17 April 2022. Belum lagi dengan topik berita yang lain. Hal ini menunjukkan betapa mirisnya media sosial menjadi jembatan untuk meyebarkan hoaks. Sialnya, sebagian besar dari kita menelan mentah-mentah berita yang beredar.

Ditambah lagi dengan merebaknya situs media online yang digadang-gadang bisa membantu masyarakat untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan, sialnya lagi malah menambah kedunguan. Ternyata, dari 43.300 situs berita, hanya ada 85 situs yang terverifikasi faktual dan 169 situs yang terverifikasi administratif (Dewam Pers, 2020). Sudah jatuh tertimpa tangga, lagi-lagi masyarakat juga tidak tahu apa yang mereka akses.

Saya berpikir, kenapa media sosial tidak dikhususkan untuk ajang pamer saja? Agar orang-orang terus berlomba-lomba menampakkan kemewahannya, pencapaiannya, lalu membuat yang lainnya semakin membencinya.

Bayangkan jika setiap hari linimasa dipenuhi foto makanan mewah, liburan mewah, postingan cerita liburan di hotel berbintang, cerita berapa banyak bonus yang diperoleh di bulan tersebut, atau tawaran kenaikan jabatan. Pasti tidak ada orang yang ngomel sebab barang palsu yang ia beli karena ia termakan iklan palsu yang ternyata hoaks, pasti tidak ada laporan-laporan kriminalitas atau pelecehan verbal karena media sosial, dan berbagai macam jenis ancaman bermedia lainnya.

Sungguh, akan menjadi pemandangan baru yang setiap hari akan dinantikan orang-orang. Tidak bisa berwisata mahal, tapi setidaknya berwisata secara visual. Bukankah masyarakat itu suka dengan hal-hal yang bersifat kesenangan? Dan ya, memang benar. Buktinya masyarakat tidak mau berusaha untuk mencari validitas dari berita yang beredar.

Lalu, untuk apa bermedia sosial kalau tidak menerapkan literasi digital?

Padahal jika seseorang bisa memanfaatkan media sosial dengan bijak dan beretika saat bermedia sosial, maka akan  banyak manfaat yang didapatkan. Bisa mengedukasi, bukan menimbulkan desas desus sana sini.

Bijak berinternet

literasi digital

Fitur-fitur di media sosial memang menyilaukan; bisa membuat wajah cantik tanpa jerawat, bisa mewakili perasaan kita tanpa harus menuliskannya panjang lebar, bisa memudahkan untuk bertemu teman kencan baru, dan sebagai ajang tempat curhat, khususnya bagi Anda yang merasa tidak mempunyai teman.

Dengan kemudahan yang ada, dengan cepat kita bisa mencurahkan segala perasaan yang ada, patah hati, misalnya. Curhatan tersebut akan dijangkau oleh banyak orang. Mereka akan tahu apa yang sedang kamu rasakan. Dan, jika tidak beruntung kamu akan bertemu dengan orang yang katanya bersimpati atas patah hati yang sedang dirasakan, padahal itu sebagai jalan untuk mendapatkan mangsa baru.

Lihat, sudah berapa kasus pelecehan seksual baik verbal dan nonverbal yang terjadi karena berkenalan lewat media sosial? Atau kasus penipuan? Tak terhingga.

Disampaikan oleh Panji Gentura, seorang ahli dari Project Manager PT WestmooreTech Indonesia bahwa batasan saat curhat di media sosial itu penting, apalagi sesi curhat kita sangat dinanti-nanti oleh para pebisnis. Mereka akan tahu apa yang kita butuhkan, dan siap-siap saja menjadi calon target pasaran atau iklan. Bukan hanya itu, jangan tersambung dengan WiFi publik karena sangat berbahaya. Dengan mudah mereka akan mengakses data kita.

Karenanya, memberi batasan tertentu saat bermedia sosial menjadi kunci utama dalam keselamatan. Keras, keraslah pada diri sendiri.

Jangan tunduk pada algoritma

Yuval Noah Harari, sejarawan dunia memiliki pandangan bahwa era revolusi teknologi informasi yang ditandai dengan berkembangnya kecerdasan buatan bahkan bisa melahirkan kediktatoran digital. Dan hari ini, kita mungkin menjadi salah satu orang yang lahir dari kediktatoran digital tersebut. Menjadi budak digital yang tidak bisa tunduk pada percepatan arus yang edukatif dan positif.

Sama halnya dengan algoritma yang kita temui di media sosial. Tanpa disadari, sebenarnya kita sedang melakukan berdasarkan algoritma, sebagai contoh misalnya saat memasak mie instan. Dari proses membuka kemasan sampai menjadi mie yang siap disantap itu merupakan contoh algoritma Flowchart. Itu contoh yang paling sederhana.

Berbeda jika mesin algoritma yang menyambar laman media sosial kita bukan sesuatu yang relevan bagi kita, bisa-bisa menjadi masalah baru. Misalnya yang terjadi di Facebook. Jika seseorang berinteraksi aktif seperti meninggalkan komentar atau membagikan konten dengan beberapa kali link tersebut diklik. Konten tersebut akan ditampilkan oleh Facebook.

Hal ini, seperti kita sering membicarakan produk skincare, pakaian, makanan, atau bahkan kelas-kelas online. Karenanya jangan sampai tunduk pada sesuatu yang tidak relevan dengan kita. Jika beruntung akan mendapatkan manfaat, jika tidak bisa rugi.

Hanya karena algoritma produk kecantikan, lalu muncul di beranda Facebook dengan berbagai iming-iming harga yang miring, kulit wajah bisa putih bersih hanya dengan dua kali pemakaian, dan iming-iming lainnya. Menyaring yang dibutuhkan jauh lebih penting daripada sekadar iming-imingan murahan.

en_USEnglish