literasi digital

Buat Apa Bermedia Sosial kalau Tidak Menerapkan Literasi Digital?

Menerapkan Literasi Digital – Hari ini, pengguna internet di Indonesia mencapai 202.6 juta, di mana 170 juta penggunanya menggunakan media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 61.9 persen dari total jumlah populasi yang ada. Sungguh menjadi PR bagi kita semua untuk bisa memastikan masyarakat bisa melek dengan literasi digital.

Terhitung bahwa Kominfo mencatat 5.829 hoaks seputar Covid-19 beredar di media sosial, dengan temuan isu mencapai 2.171 konten per 17 April 2022. Belum lagi dengan topik berita yang lain. Hal ini menunjukkan betapa mirisnya media sosial menjadi jembatan untuk meyebarkan hoaks. Sialnya, sebagian besar dari kita menelan mentah-mentah berita yang beredar.

Ditambah lagi dengan merebaknya situs media online yang digadang-gadang bisa membantu masyarakat untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan, sialnya lagi malah menambah kedunguan. Ternyata, dari 43.300 situs berita, hanya ada 85 situs yang terverifikasi faktual dan 169 situs yang terverifikasi administratif (Dewam Pers, 2020). Sudah jatuh tertimpa tangga, lagi-lagi masyarakat juga tidak tahu apa yang mereka akses.

Saya berpikir, kenapa media sosial tidak dikhususkan untuk ajang pamer saja? Agar orang-orang terus berlomba-lomba menampakkan kemewahannya, pencapaiannya, lalu membuat yang lainnya semakin membencinya.

Bayangkan jika setiap hari linimasa dipenuhi foto makanan mewah, liburan mewah, postingan cerita liburan di hotel berbintang, cerita berapa banyak bonus yang diperoleh di bulan tersebut, atau tawaran kenaikan jabatan. Pasti tidak ada orang yang ngomel sebab barang palsu yang ia beli karena ia termakan iklan palsu yang ternyata hoaks, pasti tidak ada laporan-laporan kriminalitas atau pelecehan verbal karena media sosial, dan berbagai macam jenis ancaman bermedia lainnya.

Sungguh, akan menjadi pemandangan baru yang setiap hari akan dinantikan orang-orang. Tidak bisa berwisata mahal, tapi setidaknya berwisata secara visual. Bukankah masyarakat itu suka dengan hal-hal yang bersifat kesenangan? Dan ya, memang benar. Buktinya masyarakat tidak mau berusaha untuk mencari validitas dari berita yang beredar.

Lalu, untuk apa bermedia sosial kalau tidak menerapkan literasi digital?

Padahal jika seseorang bisa memanfaatkan media sosial dengan bijak dan beretika saat bermedia sosial, maka akan  banyak manfaat yang didapatkan. Bisa mengedukasi, bukan menimbulkan desas desus sana sini.

Bijak berinternet

literasi digital

Fitur-fitur di media sosial memang menyilaukan; bisa membuat wajah cantik tanpa jerawat, bisa mewakili perasaan kita tanpa harus menuliskannya panjang lebar, bisa memudahkan untuk bertemu teman kencan baru, dan sebagai ajang tempat curhat, khususnya bagi Anda yang merasa tidak mempunyai teman.

Dengan kemudahan yang ada, dengan cepat kita bisa mencurahkan segala perasaan yang ada, patah hati, misalnya. Curhatan tersebut akan dijangkau oleh banyak orang. Mereka akan tahu apa yang sedang kamu rasakan. Dan, jika tidak beruntung kamu akan bertemu dengan orang yang katanya bersimpati atas patah hati yang sedang dirasakan, padahal itu sebagai jalan untuk mendapatkan mangsa baru.

Lihat, sudah berapa kasus pelecehan seksual baik verbal dan nonverbal yang terjadi karena berkenalan lewat media sosial? Atau kasus penipuan? Tak terhingga.

Disampaikan oleh Panji Gentura, seorang ahli dari Project Manager PT WestmooreTech Indonesia bahwa batasan saat curhat di media sosial itu penting, apalagi sesi curhat kita sangat dinanti-nanti oleh para pebisnis. Mereka akan tahu apa yang kita butuhkan, dan siap-siap saja menjadi calon target pasaran atau iklan. Bukan hanya itu, jangan tersambung dengan WiFi publik karena sangat berbahaya. Dengan mudah mereka akan mengakses data kita.

Karenanya, memberi batasan tertentu saat bermedia sosial menjadi kunci utama dalam keselamatan. Keras, keraslah pada diri sendiri.

Jangan tunduk pada algoritma

Yuval Noah Harari, sejarawan dunia memiliki pandangan bahwa era revolusi teknologi informasi yang ditandai dengan berkembangnya kecerdasan buatan bahkan bisa melahirkan kediktatoran digital. Dan hari ini, kita mungkin menjadi salah satu orang yang lahir dari kediktatoran digital tersebut. Menjadi budak digital yang tidak bisa tunduk pada percepatan arus yang edukatif dan positif.

Sama halnya dengan algoritma yang kita temui di media sosial. Tanpa disadari, sebenarnya kita sedang melakukan berdasarkan algoritma, sebagai contoh misalnya saat memasak mie instan. Dari proses membuka kemasan sampai menjadi mie yang siap disantap itu merupakan contoh algoritma Flowchart. Itu contoh yang paling sederhana.

Berbeda jika mesin algoritma yang menyambar laman media sosial kita bukan sesuatu yang relevan bagi kita, bisa-bisa menjadi masalah baru. Misalnya yang terjadi di Facebook. Jika seseorang berinteraksi aktif seperti meninggalkan komentar atau membagikan konten dengan beberapa kali link tersebut diklik. Konten tersebut akan ditampilkan oleh Facebook.

Hal ini, seperti kita sering membicarakan produk skincare, pakaian, makanan, atau bahkan kelas-kelas online. Karenanya jangan sampai tunduk pada sesuatu yang tidak relevan dengan kita. Jika beruntung akan mendapatkan manfaat, jika tidak bisa rugi.

Hanya karena algoritma produk kecantikan, lalu muncul di beranda Facebook dengan berbagai iming-iming harga yang miring, kulit wajah bisa putih bersih hanya dengan dua kali pemakaian, dan iming-iming lainnya. Menyaring yang dibutuhkan jauh lebih penting daripada sekadar iming-imingan murahan.

Spread the love

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish