melek literasi keuangan

Berfoya-Foya Terlebih Dulu, Melek Literasi Keuangan nya Nanti Saja

Melek Literasi Keuangan – Akhir bulan menjadi waktu yang dinanti-nanti oleh para pekerja, khususnya mereka yang menerima gaji setiap akhir bulan. Isi dompet menipis bahkan habis, keranjang di toko oranye sudah siap untuk segera dibawa pulang dalam bentuk barang nyata, promo  stay cation akhir bulan dengan iming-iming healing juga sudah menanti, promo perawatan wajah, atau berbagai macam promo lainnya yang telah disusun secara strategis oleh para pelaku usaha.

Sesekali, belanja barang mahal dengan dalih selfreward karena sudah bekerja keras selama satu bulan penuh. Sesekali,stay cation di tempat mahal untuk sejenak melepas penat karena sudah bekerja keras adalah cara untuk mengapresiasi diri meskipun setelah itu kantong kurus kering.

Begitulah trend yang berkembang hari ini. Kerja, kerja, tipes, healing. Padahal, ya, berkedok menghabiskan uang dengan cara dan istilah lain. Dolan, ya, dolan aja. Beli barang mahal, ya, beli aja. Entahlah, makin ke sini, ada-ada saja istilah anak jaman sekarang.

Tidak semua orang mendapatkan gaji yang “lebih”, bahkan malah dicukup-cukupkan karena memang gaji yang diterima tidak layak untuk didapatkan. Kalau mereka yang memiliki gaji lebih, tidak masalah jika ingin bersenang-senang dari hasil jerih payahnya. Karena mereka sudah punya ploting gaji yang digunakan untuk kebutuhan dan foya-foya lainnya.

Belum lagi, keingian untuk bisa terlihat keren dan berada di media sosial membuat para generasi sekarang terus saja berlomba-lomba untuk bisa mempertontonkan apa yang dimilikinya. Konten memang jauh lebih berharga daripada mengelolas sumber keuangan secara efektif.

Berbeda dengan mereka yang harus memutar orak “kalau uang saya habis di tengah bulan, saya harus bagaimana?” Atau “Saya harus berhemat dengan cara berpuasa atau mencari tambahan penghasilan lain.” Bayangkan kalau ada tanggungan setiap bulannya. Untuk berfoya-foya, ya, nanti saja.

Dua kondisi kebutuhan dan keuangan yang tentulah berbeda. Tapi, di saat yang sama hal tersebut bisa memberikan kesempatan untuk keduanya bisa belajar bagaimana saving untuk kebutuhan masa depan. Hidup tidak melulu soal mendapatkan gaji lalu dihabiskan, tapi ada perjuangan-perjuangan untuk bisa tetap memanfatkannya dengan  baik, khususnya dalam hal keuagan atau literasi keuangan.

Melek Literasi Keuangan

melek literasi keuangan
Melek Literasi Keuangan

Literasi keuangan sendiri bukanlah menjadi hal yang tabu, hanya saja masyarakat, khususnya para pekerja yang notabene sebagai karyawan atau pekerja baru lupa dengan PR mereka tentang literasi keuangan. Sebagian mereka berpikir, saya sudah bekerja keras, saya berhak menikmatinya dengan bersenang-senang. Atau, saya ingin menikmati gaji saya dengan membeli barang mewah, makan makanan mahal, atau travelling sebelum saya menikah dengan uang hasil keringat saya.

Literasi keuangan adalah kemampuan mengguanakan keterampilan untuk bisa menggunakan, mengelola, memanfaatkan sumber daya keuangan secara efisien dan efektif demi memelihara kesejahteraan seumur hidup. Bukan, kesejahteraan setelah tanggal gajian saja.

Bagian inilah yang harus menjadi catatan setiap akhir dan awal bulan bagi mereka. Daftar pengeluaran apa saja yang telah habis dikeluarkan atau setidaknya bisa merencakan skala prioritas dengan sebaik-baiknya.

Banyak yang  tidak tahu bahwa level literasi keuangan yang ada belum sepenuhnya bisa dikatakan baik. Menurut survey indeks literasi dan inklusi keuangan yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2019, literasi keuangann mecapai 38.03%, meningkat 8.33% dibandingkan dengan hasil survey OJK pada tahun 2016, yaitu 29.7%. Namun, angka itu dinilai masih rendah apabila dibandingkan dengan negara tetangga di ASEAN.

Setidaknya bisa saving, meskipun hanya sedikit

Sah-sah saja jika ingin menikmati hasil kerja keras, namun tidak elok jika menghabiskan uang berkedok healing adalah cara untuk berfoya-foya. Keduanya memiliki batasan tertentu.

Tingkat literasi keuangan yang tinggi akan menyelamatkan kondisi finansial seseorang. Sedangkan tingkat literasi rendah membuat orang tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan uang yang dimiliki. Bahkan uang bisa habis tanpa pengeluaran yang tidak jelas. Lalu, bagaimana dengan hari tua nantinya?

Kalaupun Anda ingin menikmati gaji setiap bulannya dengan hal yang Anda sukai atau menjadi selfreward sebisa mungkin tetap berpikir rasional bahwa di tengah ketidakpastian hidup akan terjadi banyak kemungkinan. Sebagai contoh pandemi covid 19. Berapa banyak orang yang dirumahkan? Berapa banyak perusahaan yang gulung tikar? Berapa banyak pelaku usaha yang harus terlilit hutang? Itu adalah contoh nyata yang baru saja kita alami. Hari ini kita sedang mengupayakan perbaikan ekonomi lagi. Barangkali pandemi kemarin menjadi contoh konkrit yang bisa kita ambil pelajarannya.

Sisakan sedikit saja agar hidupmu bisa selamat. Sisakan sedikit saja agar hari tuamu bisa tercover. Sisakan sedikit saja dengan cara berhemat.

Kita sudah dibenturkan dengan badai yang begitu hebat. Apakah mau mengulang lagi dengan harus meminjam uang dengan kelabakan? Apakah tidak ingin bisa bernapas dengan lega?

Melek literasi keuangan menjadi pondasi awal untuk kesejahteraan. Lalu, apakah ada yang ingin mengulang berita yang menghebohkan Indonesia dengan investasi bodong lagi? Kalau belum menemukan intrumen investasi dengan tepat karena masih ingin menikmati gaji, setidaknya Anda bisa menyisihkan sedikit saja. Ingat,  kita hidup di antara ketidakpastian, bukan?

Konon, yang sedikit ini jika rutin dilakukan akan menjadi bukit. Tidakkah rumus sederhana ini sudah menjadi teman saat kita kecil dulu?

Spread the love

Leave a Comment

Your email address will not be published.

en_USEnglish