Berbeda juga Tak Mengapa

Dulu sekali, ketika saya masih duduk di bangku kuliah, saya menjadi manusia yang gampang sekali kesal karena hal-hal sederhana. Setiap kali berangkat ke kampus, saya bete hanya karena sikap kawan saya tidak seperti yang saya inginkan. Saya menyendiri. Lebih senang pulang ke kosan tanpa perlu berbasa-basi untuk ngobrol sana-sini.

Hal tersebut membentuk saya seperti sekarang ini. Mengendalikan perasaan di tengah keberagaman. Mengendalikan diri di tengah keramaian. Dari hal tersebut, saya meyakini bahwa menjadi “beda” itu sama sekali tidak apa-apa. Tak mengapa.

Mengingatkan saya bahwa, saya pernah menjadi orang yang begitu semangat ketika ada kajian. Apalagi jika kajian tersebut ada di masjid kampus (MasKam) universitas di Yogyakarta. Pada saat itu bisa mengikuti kajian sana-sini adalah privilege. Mengatakan privilege, tapi ada keangkuhan di baliknya. Hehehe manusia.

Saya mempunyai beberapa kawan dekat. Biasanya kami membeli cilok depan fakultas kami. Sesekali beli Soto Uwuh di dekat kampus tetangga sebelah. Lalu, pada umumnya sebagai manusia bahwa kami memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Begitulah, menjadi manusia seperti pada umumnya. Karena sifat dasar manusia inilah yang mampu menjadikan kami bisa sama-sama sampai hari ini. Berbeda tanpa membeda-bedakan.

Pada saat itu, saya begitu nyaman dengan pakaian yang saya kenakan. Rok jeans menjadi pakaian bawah istimewa karena bisa saya padukan dengan apa saja, kaos lengan panjang, kemeja, atau apapun yang bisa menutupi setiap bagian dari saya, saya akan mengenekannya. Tanpa pernah memikirkan apakah pakaian saya ndeso atau tidak. Tanpa pernah memikirkan pakaian atasan dan bawahan saya pas atau tidak. Boro-boro memikirkan baju branded. Saya hanya fokus pada kenyamanan saya.

Saya juga tidak memikirkan apakah wajah saya kusam atau tidak tanpa harus memakai bedak. Saya  tidak memikirkan wajah saja pucat pasi karena tidak mamakai lipstick atau tidak. Mata saya semakin sayu atau tidak saat saya tidak menggunakan eyeliner.  Saya secuek itu. Berarti, pasangan Mbak Syifa benar menerima apa adanya, ya, mbak? Rahasia.

Saya begitu kaku. Hanya untuk mendengarkan musik saja, saya minimalisirkan. Tapi, saya jatuh cinta pada saya beberapa tahun yang lalu. Saya rajin mencatat poin-poin besar atas buku yang sedang saya baca. Saya rajin merangkum poin-poin besar atas kajian yang saya tonton di YouTube setiap harinya. Saya jatuh cinta pada hal-hal baik pada diri saya beberapa tahun yang lalu.

Kembali lagi pada “perbedaan”. Salah satu di antara kawan dekat saya tadi, ada satu yang membuat saya sadar bahwa seberapapun banyak perbedaan di antara kami tidak membuat kami saling memalingkan wajah. Seberapapun sekat perbedaan di antara kami tidak membuat kami tidak saling mengulurkan tangan. Bahkan saat saya membutuhkan pelukan, dia menjadi orang yang paling menghangatkan. Dia tidak percaya kepada apa yang saya yakini. Sang Maha Cinta yang tidak pernah ia yakini keberadaannya. Bukan hanya Sang Maha Cinta saya, tapi Sang Maha Penuh Kasih lainnya juga tidak ia percayai dan yakini.

Kami berdua sering membahas hal-hal sensitif. Tentang hal-hal yang tidak nampak mata yang mempunyai kebesaran yang tiada duanya

Kami sangat menjunjung tinggi nilai toleransi. Lihat saja ketika saya tidur di kosan kawan saya, iya memberi saya ruang untuk beribadah. Mengambilkan mukena meskipun dia tidak menjalankannya tanpa pernah saya minta. Bahkan, ia lebih dulu mengatakan, “Salat tidak?”

Kami juga selalu menguatkan pondasi kami dengan kasih melalui kebersamaan. Merasa senasip, misalnya. Saya ingat betul ketika kami mendapatkan jadwal ujian skripsi di hari yang sama. Dia menunggu saya di kosannya dengan setia.

Saya motoran dari rumah ke kampus kurang lebih satu jam. Bahkan bisa menghabiskan waktu satu jam lebih. Mengingat pada saat itu hujan. Kalau saya di posisi dia, saya akan datang ke kampus lebih dulu. Saya akan mempersiapkan diri saya sebaik mungkin tanpa harus tergesa-gesa menunggu saya di jam-jam akhir, bahkan bisa terlambat untuk bisa sampai kampus.

Saya tidak mau ambil risiko hanya karena menunggu seseorang datang terlambat ujian akhir demi berangkat ke kampus bersama. Tapi, kawan saya bersedia melakukannya. Demi apa? Demi tali kasih kami sebagai teman. Sebagai manusia. Lagi-lagi sebagai manusia.

Saya rasa memahami “hakikat menjadi manusia” atau “hakikat sebagai manusia” adalah upaya

Kenapa harus dikotak-kotakan bahwa masing-masing kita ini berbeda, kalau nyatanya kita bisa bersama tanpa mengenal sekat? Seharusnya, ya, mereka yang mengkotak-kotakkan inilah yang “berbeda”

Bukankah yang berbeda itu yang membuat kita cantik? Bayangkan jika setiap orang memiliki warna kulit yang sama, rambut yang sama lurusnya, dan style yang sama. Betapa membosankan persamaan itu?

Spread the love

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish